Pembangunan Hijau; Kerusakan Lingkungan Ancam Ekonomi

- Editor

Senin, 5 Oktober 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kerusakan lingkungan, seperti pada biota dan ekosistem, menurunkan fungsi dan daya dukung lingkungan yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Itu menyebabkan target Indonesia sebagai negara berpenghasilan tinggi pada 2030 sulit tercapai.

Hal itu mengemuka pada Laporan Studi Kementerian Keuangan tentang Strategi Perencanaan dan Penganggaran Pembangunan Hijau (P3H) untuk Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia 2015-2019, yang diluncurkan di Jakarta, Kamis (1/10).

“Kebakaran hutan dan lahan 18 tahun ini merupakan kenyataan gamblang, perencanaan dan penganggaran hijau belum berjalan,” kata mantan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim, yang juga Ketua Tim Panel Penasihat Strategi P3H.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sejauh ini ada kesenjangan ekonomi hijau dalam perencanaan dan penganggaran pembangunan. Jadi, ada ketimpangan antara penyediaan dan kebutuhan ideal untuk mengurangi kerusakan sumber daya alam. Sebab, perencanaan dan penganggaran pembangunan hanya memperhitungkan dana masuk dan uang keluar, belum menghitung kelestarian SDA.

Laporan studi terkait Strategi P3H menunjukkan, dampak perubahan iklim dan kerusakan SDA menunda minimal 5 tahun kenaikan status Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi jika kebijakan pertumbuhan ekonomi lebih hijau tak segera dijalankan. Meski sudah mendorong ekonomi hijau, kebijakan dan anggaran pemerintah hanya mampu mengatasi 35 persen dari tantangan dampak lingkungan.

Menyusun strategi
Maka dari itu, Kindy Rinaldy Syahrir, Kepala Bidang Kerja Sama Internasional dan Pendanaan Perubahan Iklim Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multilateral, Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, berharap hasil studi bisa dimanfaatkan sebagai strategi penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Dengan demikian, struktur APBN bisa mencapai pembangunan hijau. Studi merekomendasikan 21 prioritas pembangunan ekonomi hijau, terutama sektor kehutanan, pertanian, energi, transportasi publik, infrastruktur, pembangunan daerah, dan penanggulangan bencana.

Untuk naik status jadi negara berpenghasilan tinggi dalam 20 tahun ke depan, Indonesia butuh mempertahankan pertumbuhan ekonomi 7 persen per tahun. Sementara kajian menunjukkan, kehilangan biota dan ekosistem bisa menurunkan keberlanjutan pembangunan. “Jika lingkungan rusak, pertumbuhan ekonomi bisa merosot setengah dari target 7 persen per tahun,” katanya.

Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Makro Ekonomi dan Keuangan Internasional Andin Hadiyanto menegaskan, komitmen pemerintah pada pembangunan berkelanjutan kian besar, misalnya mengurangi subsidi bahan bakar minyak. Otoritas Jasa Keuangan juga menyusun regulasi untuk memastikan penerima kredit menjaga kelestarian lingkungan dalam usaha. (JOG)
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 3 Oktober 2015, di halaman 14 dengan judul “Kerusakan Lingkungan Ancam Ekonomi”.

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 33 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB