Pembangunan Rendah Karbon Diperkenalkan

- Editor

Selasa, 26 Maret 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Model pendekatan pembangunan rendah karbon akan digunakan sebagai dasar rancangan teknis Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024. Model pembangunan selama ini dinilai menurunkan parameter lingkungan hidup mulai dari daya dukung dan daya tampung hingga kepunahan spesies.

Direktur Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Medrilzam, Senin (25/3/2019), memperkenalkan inisiatif Pembangunan Rendah Karbon (PRK) yang akan diluncurkan hari Selasa (26/3) di Jakarta. ”Pola pembangunan harus bergeser. Tidak bisa BAU (business as usual). Tidak bisa brown economy, harus bergeser ke green economy (ekonomi hijau),” ujarnya.

KOMPAS/ZULKARNAINI–Tutupan hutan di Kawasan Ekosistem Leuser di Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Leuser merupakan penyangga bagi dunia penghasil karbon, penyedia air, dan habitat satwa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Model pembangunan sekarang dengan eksploitasi sumber daya alam, pembangunan tinggi emisi karbon, serta penggunaan energi dan sistem transportasi tak efisien menimbulkan polusi udara dan air, penyusutan hutan, berkurangnya sumber daya perikanan, air, dan kekayaan kehati.

Menurut Medrilzam, dari Visi 2045, laju pertumbuhan ekonomi diharapkan sebesar 5,6-5,7 persen. ”Namun, jika dihitung dengan deplesi dan eksternalitas dan lain, pertumbuhan tidak akan mencapai itu, justru akan turun terus,” ujarnya.

Dasar RPJMN
Hasil kajian tersebut akan menjadi rancangan teknokratik RPJMN 2020-2024 sebagai dasar pembahasan RPJMN oleh Bappenas bersama tim sukses presiden terpilih dan kementerian/lembaga. Pemaparan pada presiden terpilih diperkirakan pada akhir April 2019.

Medrilzam mengakui, penerapan model PRK tak bisa 100 persen karena akan bergantung pada visi dan misi presiden terpilih. Namun, ”Tidak lagi berdasarkan persepsi, tetapi berdasarkan kajian saintifik sesuai PRK ini,” ujarnya.

Manajer Kajian Kebijakan Walhi Even Sembiring mengatakan, ”Kita tak bisa melihat perencanaan dari yang mereka paparkan, tetapi harus melihat apa yang dilakukan pemerintah selama ini.” Di bidang energi, misalnya, sekitar 70 persen berbasis batubara.

Untuk itu perlu kebijakan lebih kuat karena kini di bidang energi, efisiensi energi baru 1 persen dan bauran energi baru terbarukan (EBT) 8 persen padahal tahun 2025 ditargetkan 23 persen. Terkait pemakaian batubara pada pembangkit listrik baru ditargetkan 35 gigawatt, penurunan akan bertahap, dan sisi permintaan akan ditekan, karena dari sisi produksi akan sulit, sebab investor terikat kontrak jangka panjang.

Indonesia dalam kontribusi nasional diniatkan (NDC) berkomitmen menekan emisi gas rumah kaca (GRK) 29 persen dengan upaya sendiri dan 41 persen dengan bantuan asing. Penurunan dibandingkan emisi GRK pada pola pembangunan BAU.

Even menilai, pemerintah tak konsisten terkait batubara karena kuota batubara dinaikkan saat harga batubara naik. Perencanaan rendah karbon harus disertai evaluasi pembangunan. Hal lain harus dievaluasi yakni kebijakan restorasi gambut amat terlambat, perizinan peralihan fungsi lahan di pulau kecil padahal berpotensi untuk karbon biru.

Oleh BRIGITTA ISWORO LAKSMI

Sumber: Kompas, 26 Maret 2019

Informasi terkait

Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Berita ini 10 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:21 WIB

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:01 WIB

Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan

Berita Terbaru

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB

Artikel

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:27 WIB

Artikel

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Selasa, 16 Jun 2026 - 21:21 WIB