Pelestarian Elang Jawa Terkendala

- Editor

Senin, 5 Maret 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Elang jawa (Nisaetus bartelsi) terancam punah seiring dengan maraknya konflik manusia dan hewan, serta deforestasi hutan. Apalagi, upaya pelestarian terkendala sulitnya perjodohan dan periode bertelur satu tahun sekali dengan satu butir telur.

Dalam daftar merah Badan Konservasi Dunia (IUCN), elang jawa masuk dalam status terancam punah (endangered). Pada tahun 2005, populasi elang jawa sebanyak 425 pasang dan pada tahun 2010 menjadi 325 pasang. Populasi tersebut kian menurun drastis pada tahun 2018 menjadi 188 pasang.

Dalam daftar merah Badan Konservasi Dunia (IUCN), elang jawa masuk dalam status terancam punah. Pada 2018 populasinya tinggal 188 pasang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Persebaran populasi burung berkhas jambul di kepala itu mulai dari Taman Nasional Ujung Kulon di Banten hingga Taman Nasional Alas Purwo di Jawa Timur.

Direktur Utama Taman Safari Indonesia Jansen Manansang mengatakan, populasi elang jawa makin terancam karena deforestasi, perburuan, pemeliharaan tanpa izin, dan perdagangan ilegal. Padahal, dengan menurunnya populasi elang jawa, perlu ada gerakan untuk menumbuhkan kembali populasinya.

NIKOLAUS HARBOWO–Direktur Utama Taman Safari Indonesia Jansen Manansang (tengah) bersama Presiden Direktur PT Smelting Hiroshi Kondo dan Wakil Presiden Direktur PT Smelting Prihadi Santoso dalam acara penandatanganan nota kesepahaman antara Taman Safari dan PT Smelting Gresik terkait konservasi Elang Jawa, di Taman Safari, Bogor, pada Minggu (4/3).

“Populasi elang jawa ini terus menurun kalau lingkungan rusak dan perburuan terus terjadi. Ini ancaman yang serius karena suatu saat pasti akan punah. Mereka tidak memiliki tempat yang aman untuk berkembang biak,” ujar Jansen seusai acara penandatanganan nota kesepahaman antara Taman Safari dan PT Smelting Gresik dalam hal konservasi elang jawa, di Taman Safari, Bogor, pada Minggu (4/3).

Populasi elang jawa ini terus menurun kalau lingkungan rusak dan perburuan terus terjadi. Ini ancaman yang serius karena suatu saat pasti akan punah.

Acara dihadiri Presiden Direktur PT Smelting Hiroshi Kondo dan Wakil Presiden Direktur PT Smelting Prihadi Santoso. Adapun kerja sama akan dilakukan dalam pembiayaan di bidang penelitian dan pengembangbiakan, serta penambahan fasilitas kandang elang jawa. Kerja sama tersebut akan berjalan selama lima tahun.

“Kami merasa konservasi elang jawa ini perlu disentuh karena menyangkut kehidupan satwa dilindungi yang wujudnya jangka panjang. Kami tergerak untuk ikut menjaga pelestarian alam dan satwa itu sendiri,” ujar Prihadi.

Upaya pelestarian
Taman Safari saat ini hanya memiliki dua pasang elang jawa dan satu anakan dari salah satu pasangan tersebut. Satu anakan betina yang lahir pada 19 Juli 2017 itu diberi nama Elja. Anakan tersebut diklaim sebagai keberhasilan pertama di dunia sebagai lembaga konservasi eksitu yang menangkar elang jawa.

Taman Safari saat ini hanya memiliki dua pasang elang jawa dan satu anakan dari salah satu pasangan tersebut. Satu anakan betina yang lahir pada 19 Juli 2017 itu diberi nama Elja.

Kurator satwa Taman Safari Imam Purwadi mengatakan, pengembangbiakan elang jawa bukanlah hal yang mudah. Elang jawa memiliki periode bertelur antara Januari hingga Juni. Lama inkubasi adalah 47 hari. Jumlah telur per periode pun hanya satu butir.

Apalagi, meskipun sepasang Elang Jawa telah dimasukkan dalam satu kandang, mereka belum tentu berjodoh. Perlu diketahui, induk Elja dan pasangannya telah disatukan sejak 2010, tetapi pembuahan Elja baru terjadi pada tahun 2017.

“Kesulitannya adalah kadang mereka mau bersama, tetapi tidak mau kawin. Jadi memang perlu pengamatan secara terus-menerus dan penanganan yang khusus supaya perkawinan terjadi,” ujar Imam.

Selain itu, kendala pengembangbiakan elang jawa adalah kurangnya kandang yang layak. Saat ini Taman Safari hanya mempunyai satu kandang yang telah dipakai oleh induk Elja dan pejantan pasangannya, sedangkan satu pasang lagi belum memiliki kandang.

Imam mengatakan, elang jawa butuh kandang yang cukup besar per pasangnya. Kandang itu minimum memiliki panjang dan lebar masing-masing 12 meter dan tinggi 14 meter.

“Karena kalau di kandang kecil, menurut riset dan penelitian, bahwa itu sulit untuk mendukung perlakuan normal dari pasangan supaya bisa berkembang biak dengan baik,” ujarnya.

Imam juga mendorong pentingnya bank sperma untuk elang jawa mengingat satwa tersebut sudah terancam punah. (DD18)

Sumber: Kompas, 5 Maret 2018

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 16 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB