Home / Berita / Panen Dollar di “Kampung Blogger”

Panen Dollar di “Kampung Blogger”

Siti Sofiyah (34) duduk menghadap laptop di rumah sederhana yang baru selesai dibangun. Pandangannya fokus ke layar, sementara tangannya lincah menggerakkan dan menekan tetikus. Rutinitas yang sepintas sepele itu memberi penghasilan lebih besar baginya ketimbang saat menjadi pekerja rumah tangga di Arab Saudi.

Lima jam sudah Siti berkutat di depan layar laptop, Jumat (3/11) siang. Bersama dua temannya, ibu satu anak itu tengah menandai gambar-gambar, menjawab tantangan Completely Automated Public Turing Test to tell Computers and Humans Apart (Captcha). Tantangan itu berupa perintah menandai gambar-gambar tertentu, semisal rambu-rambu lalu lintas, jenis bangunan, atau kelompok hewan. Captcha adalah tes guna memastikan pengguna komputer adalah manusia, bukan mesin atau sistem pemrograman.

Siti dan teman-temannya adalah warga Kampung Menowo, Kelurahan Kedungsari, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, Jawa Tengah. Mereka tergabung dalam sebuah kelompok yang mencari penghasilan dari Google Adsense, program kerja sama periklanan yang diselenggarakan perusahaan internet Google.

Dalam program itu, pemilik situs blog atau situs web bisa memasang iklan dari Google di blog mereka, lalu mendapat komisi atau pembagian keuntungan yang dihitung berdasar jumlah klik terhadap iklan terpasang.

Sebelum menekuni pekerjaan itu, sekitar 13 tahun, Siti bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Arab Saudi dengan sistem kontrak. Selain kerinduan berkumpul bersama keluarga, lama-lama, dia jengah karena upahnya tak menentu.

“Dulu di Saudi, saya kadang hanya dapat upah bersih Rp 1 juta per bulan. Dengan pekerjaan sekarang, saya bisa dapat penghasilan 5 sampai 10 kali lipat dari penghasilan di sana. Padahal, kerjanya ini seperti main game anak-anak,” ucapnya.

Siti dan teman-temannya bekerja dalam koordinasi Wijayan Hendra Swastika (28), warga Kampung Menowo yang menekuni bisnis online (daring) secara otodidak sejak 2010. Saat ini, Wijayan memiliki tim beranggotakan 13 orang dari beragam latar belakang.

“Ada ibu rumah tangga, guru sekolah dasar, ada juga buruh pabrik. Tiap hari, mereka bekerja di rumah saya secara bergantian, ada yang malam dan ada yang siang, tergantung waktu luang mereka,” kata Wijayan, lulusan SMA.

KOMPAS/HARIS FIRDAUS–Sejumlah warga bekerja di depan laptop untuk mendapatkan penghasilan dari iklan di internet, Jumat (3/11), di Kampung Menowo, Kelurahan Kedungsari, Kota Magelang, Jawa Tengah. Kampung Menowo dikenal sebagai Kampung Blogger karena banyak warganya yang berusaha mendapatkan penghasilan dari internet, termasuk dengan mengelola blog.

Saat ini, Wijayan dan timnya sedang fokus membuat dan mengelola situs-situs internet yang khusus berisi gambar dengan beragam topik. Dari sejumlah situs itu, mereka mendapat penghasilan dari Google Adsense. Saat ditanya soal pendapatan, Wijayan tak menjawab secara pasti. Ia hanya menyebut, penghasilan timnya dari Google Adsense bisa mencapai ribuan dollar Amerika Serikat (AS) per bulan.

“Kambing” dan “kandang”
Selain Wijayan dan timnya, ada puluhan warga lain di Kampung Menowo yang menekuni bisnis daring dengan tujuan mendapat penghasilan dari internet. Karena itu, jangan heran, menyusuri gang-gang sempit kampung, kerap terlihat warga yang khusyuk di depan komputer. Karena banyaknya warga yang menekuni bisnis daring, termasuk mengelola blog, Kampung Menowo dijuluki “Kampung Blogger”.

“Nama Kampung Blogger itu dipilih karena kami, kan, berasal dari kampung dan kami ini, kan, kerjanya ngeblog,” kata Ketua Kampung Blogger Wahyu Setyo Utomo (43) yang biasa dipanggil Tomo. Mereka berproses sejak 2008. Perintisnya seorang pemuda asal Kampung Menowo bernama Sumbodo Malik.

Sumbodo awalnya belajar bisnis daring otodidak. Sesudah belajar selama beberapa waktu dan berhasil meraih penghasilan lumayan dari internet, dia pun mengajari teman-temannya di Kampung Menowo.

KOMPAS/KARINA ISNA IRAWAN–Tiga wanita menyelesaikan ratusan Completely Automated Public Turing test to tell Computers and Humans Apart (Captcha) yang muncul dalam layar laptop di Desa Menowo, Magelang, Jawa Tengah, Jumat (3/11). Desa Menowo dikenal sebagai “Kampung Blogger” karena sebagian besar warganya bekerja di ranah dunia maya.

Saat mulai belajar bisnis daring, Sumbodo tengah bekerja di Jakarta. Namun, beberapa waktu kemudian, Sumbodo memutuskan keluar dari pekerjaannya dan pulang ke Magelang untuk fokus menjalankan bisnis daring. Sejak itu, banyak warga Kampung Menowo ikut belajar bisnis daring.

Bisnis daring yang dipelajari dan ditekuni warga Kampung Blogger mencakup beragam model. Mulai dari mencari penghasilan melalui iklan di internet hingga membuka toko daring untuk menjual produk tertentu.

Tomo mengatakan, pada tahap awal, kebanyakan warga Kampung Menowo mencari penghasilan melalui sistem paid to review. Dalam sistem itu, warga membuat blog untuk mengulas produk-produk tertentu. Dari ulasan itu, warga mendapatkan penghasilan.

Agar bisa menjalankan sistem paid to review, warga Kampung Menowo harus mengeluarkan uang untuk membeli domain dan menyewa hosting untuk blog mereka. Domain merupakan penanda untuk alamat blog, sementara hosting adalah ruang penyimpanan untuk data di blog.

“Waktu itu, untuk memudahkan pemahaman warga, kami menyebut domain dengan ‘kambing’, sementara hosting dengan ‘kandang’,” kata Tomo sambil terkekeh.

Pesatnya perkembangan bisnis daring menyebabkan sistem paid to review beberapa tahun kemudian tidak lagi menjanjikan. Warga pun beralih ke model bisnis lain, misalnya memanfaatkan Google Adsense untuk mendapatkan penghasilan serta membuka toko daring.

Kelas daring
Kesuksesan sejumlah warga Kampung Menowo “panen dolar” dari internet menarik minat warga lain, termasuk dari luar kampung untuk belajar bisnis daring. Mereka mulai berdatangan untuk belajar. “Banyak warga dari luar kota dan luar provinsi datang belajar. Kami selalu terbuka,” ujar Tomo.

Mengingat minat warga yang begitu besar, pengurus Kampung Blogger memberlakukan aturan supaya warga yang sudah mahir wajib mengajari warga lain yang masih awam. “Kami selalu berpesan pada mereka yang sudah belajar di sini agar mau mengajari orang lain. Jangan pelit berbagi ilmu,” kata Tomo.

Pada 2010, sejumlah warga Menowo pun memutuskan membuat grup di media sosial Facebook untuk mempermudah komunikasi dengan warga dari daerah lain yang ingin belajar bisnis daring. Sejak awal 2017, pengurus Kampung Blogger juga membuka kelas daring untuk mengajarkan pengetahuan bisnis daring.

Kelas daring yang fokus pada pembelajaran mengenai blog diwadahi melalui situs internet amongblog.com, sedangkan kelas pengelolaan toko daring diwadahi melalui kampungukm.com.

Hingga kini, 3.000 orang mengikuti kelasdaring itu. Bagi pengurus Kampung Blogger, dunia internet menjanjikan pendapatan yang tak terbatas sehingga tidak perlu merasa tersaingi jika makin banyak orang menekuni bisnis ini.

Kiprah pengurus Kampung Blogger juga semakin dirasakan luas setelah kerap diminta Pemkot Magelang memberi pelatihan pemasaran daring bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Mereka juga mendapat mandat untuk membantu pemasaran produk-produk UMKM Magelang secara daring.–HARIS FIRDAUS/KARINA ISNA IRAWAN

Sumber: Kompas, 14 November 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: