Home / Berita / Palu Masa Lalu, Kini, dan ke Depan

Palu Masa Lalu, Kini, dan ke Depan

Kombinasi gempa bumi, tsunami dan likuefaksi di Palu, Donggala, dan Sigi kali ini merupakan siklus yang pernah terjadi di masa lalu. Maka, pembangunan kembali kawasan ini wajib memperhitungkan faktor keberulangannya, sehingga risiko bencana ke depan bisa dikurangi.Bencana kali ini menampilkan wajah asli bentang alam kawasan ini sebelum diokupasi manusia: yang semula patahan kembali merekah, yang awalnya rawa kembali berlumpur, dan yang semula laut menjadi lautan lagi.

?Retakan tanah memanjang di Kota Palu yang memanjang ke selatan hingga Kabupaten Sigi, membelah jalan- dan menghancurkan bangunan di atasnya, seperti terlihat di Desa Beka, Kecamatan Marawola. “Orang tua kita dulu memberi nama desa ini ada alasannya. Dalam bahasa Kaili, beka artinya terbelah. Sekarang, kampung kami terbelah lagi,” ujar Basri (60), warga Desa Beka.

?Rekahan ini merupakan manifestasi jalur patahan aktif Palukoro di permukaan (surface rupture). Surveipeneliti dari Pusat Studi Gempa Bumi Nasional (Pusgen) Mudrik Rahmawan Daryono dan Danny Hilman Natawidjaja menemukan, panjang retakan di darat mencapai 70 kilometer (km) dan di laut sepanjang 80 km. Lebar retakan yang menandai pergeseran tanah secara lateral maksimum hingga 5,8 meter (m). Selain itu ditemukan pergeseran tanah secara vertikal hingga 3,5 m.

?“Retakan yang memanjang ini menandai jalur sesar aktifnya, jadi kalau ke depan terjadi gempa lagi, sepanjang jalur ini akan hancur lagi,” kata Danny, yang juga peneliti di Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

?Demikian halnya, tsunami telah mengembalikan wajah pesisir kawasan ini sebelum direklamasi dan disesaki hunian. Jupri Amin (63), nelayan asal Majene, Sulawesi Barat yang kemudian menetap di Kampung Muara, Kelurahan Boya, Kecamatan Benawa, Kabupaten Donggala, mengatakan, hingga tahun 1970-an belum banyak yang bermukim di pesisir Teluk Palu. “Muara belum menjadi kampung, hanya ada satu dua rumah panggung dari kayu yang dibangun di tepi sungai. Lama-lama pantai diuruk karena rumah pangung jadi tembok,” kata dia.

?Pada awal tahun 1970-an itu, banyak nelayan dari Majene dan daerah-daerah lain yang terdampak gempa dan tsunami tahun 1968 berpindah ke Teluk Palu. “Saya masih ingat saat gempa dan tsunami itu masih sekolah rakyat, banyak rumah roboh di Majene,” ujarnya.

”Setelah itu saya ikut orang tua pindah kemari, tapi sekarang ternyata terkena tsunami lagi,” katanya. Setelah gempa 28 September 2018, Kampung Muara longsor ke dalam laut bersama 41 orang penghuninya dan 29 orang di antaranya belum ditemukan.

?Sejumlah survei menemukan banyaknya longsoran di perbukitan di sekeliling Teluk Palu, hingga hilangnya daratan ke dalam laut. Jejak longsoran juga banyak ditemukan di dasar laut. Longsor bawah laut ini yang diduga menjadi penyebab utama tsunami di Teluk Palu.

?“Kami menemukan tujuh lokasi longsoran ke dalam laut. Selain itu, juga banyak ditemukan daratan yang hilang, sepeti Kampung Muara. Banyak daratan yang hilang ini hasil reklamasi,” kata Purna S. Putra, peneliti geologi dan paleotsunami dari Pusat Geoteknologi LIPI.

?Di Pantai Talise, Kota Palu, kejadian gempa dan tsunami itu menyingkap keberadaan dermaga tua yang dibangun sejak zaman Belanda yang ditimbun reklamasi dan jalan aspal sejak tahun 1980-an. Tiang-tiang besi itu menyembul dari laut, persis di ujung jalan aspal daerah yang telah longsor dan terputus.?

?Sekitar 300 meter dari lokasi ini, Purna menemukan empat lapis tsunami tua di bawah endapan tsunami 28 September 2018. Ini berarti setidaknya kawasan ini telah dilanda lima kali tsunami. Penggalian lebih dalam, kemungkinan besar akan menemukan lapisan tsunami lagi.

Meski studi paleo-likuefaksi untuk mencari jejak likuefaksi di masa lalu belum dilakukan, pengetahuan lokal masyarakat Kaili telah merekamnya yang menandakan fenomena itu pernah terjadi di masa lalu. Istilah lokal untuk likuefaksi ini, yaitu nalodo yang berarti amblas dalam lumpur hitam. Selain itu, mereka juga memiliki istilah lonjo atau terbenam.

?” Daerah di Perumnas Balaroa yang mengalami likuefaksi itu namanya dulu Tagari Lonjo atau terbenam dalam lumpur pekat. Sementara Petobo hingga tahun 1978 masih masuk wilayah Biromaru yang artinya rumput di rawa yang membusuk,” kata arkeolog yang juga Wakil Kepala Museum Daerah Sulawesi Tengah, Iksam.

?Mengacu pada peta yang dibuat AlbertusChristiaan Kruyt (1919), daerah-daerah likuefaksi ini dulu kebanyakan bekas sungai lama. “Daerah-daerah seperti Petobo, Jonooge, dan Balaroa itu tidak dihuni hingga tahun 1970-an,” kata dia.

?Menurut Iksam, dari sebaran tinggalan arkeologi seperti megalitik dan pecahan-pecahan tembikar, terlihat jelas bahwa hunian kuno rata-rata di punggungan bukit. “Tanah di Lembah Palu ini sepertinya dulu berselang-seling antara punggungan dan paritan, tapi yang dipilih jadi hunian dulu selalu punggungan. Paritan ini biasanya jadi sungai musiman atau rawa-rawa. Namun, saat Kota Palu kemudian dikembangkan, banyak perumahan baru yang dibangun di atas paritan-paritan ini,” kata dia.

Berbasis Mitigasi
?Kehancuran nyata dan banyaknya korban kali ini adalah buah dari pengabaian dari risiko bencana yang telah lama diperingatkan. Pada 30 Juli 2018, Mudrik Darmawan dan tim Ekspedisi Palu Koro memaparkan hasil kajian mereka ke Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola. Mudrik bahkan menyerahkan peta sesar Palukoro yang dibuatnya untuk studi disertasi pada 2016.

?“Kami masih menyimpan video pertemuan itu. Pemerintah kurang responsif dengan kajian kebencanaan saat itu, bahkan Gubernur menyatakan tidak percaya dengan tim geolog, alasannya dulu Prof J.A. Katili (Direktur Jenderal Pertambangan Umum pada 1973-1984) pernah menyatakan Palu akan hancur karena gempa, tetapi nyatanya tidak terjadi dan justru membuat masyarakat takut,” kata Neneng Susilawati, tim dokumentasi Ekspedisi Palu Koro.

?Seperti daerah lain, fokus utama Pemerintah Sulawesi Tengah dan juga kabupaten atau kota di bawahnya adalah investasi dan pertumbuhan ekonomi. Namun, gempa 28 September 2018 sepertinya menyadarkan banyak pihak. Saat menjadi pembicara dalam seminar pascagempa di Kota Palu pada Rabu (7/11/2018) lalu, Longki menyatakan akan membangun kembali daerah yang hancur. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Sulawesi Tengah akan direvisi dengan berbasiskan mitigasi bencana. “Bulan November ini revisi RTRW akan selesai,” kata dia.

?Belajar dari banyak kasus rekonstruksi daerah terdampak bencana seperti Aceh setelah 2004, pembangunan Sulawesi Tengah harus dilakukan lebih berhati-hati. Pemulihan kembali Aceh yang cepat secara sosial ekonomi, dianggap abai dengan ancaman gempa dan tsunami di masa depan. Penduduk Aceh kini tumbuh memadat di tapak tsunami di sepanjang pesisir. Fenomena serupa terjadi di Pangandaran setelah tsunami 2006.

?Pengorbanan ribuan nyawa penduduk Sulawesi Tengah dalam bencana yang lalu harus menjadi momentum perubahan. Daerah-daerah terdampak bencana harus dibangun kembali menjadi lebih baik dan aman.

?Ada banyak pelajaran yang harus menjadi panduan dalam pembangunan pascabencana di kawasan ini. Daya dukung lingkungan yang rendah dan tingginya ancaman beragam bencana menjadi tantangan yang tidak mudah.

?Pertama, siklus gempa bumi di Palu tergolong amat pendek, bahkan termasuk paling pendek di Indonesia, karena sangat aktifnya pergerakannya, bahkan yang teraktif setelah sesar Sorong. Di masa lalu, keberulangan ancaman gempa ini telah diantisipasi penduduk di Sulawesi Tengah dengan rumah panggung dari kayu yang tahan gempa.

Hingga tahun 1970-an, sebagian besar bangunan rumah penduduk masih berarisitektur tradisional ini, sebelum berubah menjadi tembok. Dalam gempa kali ini, sejumlah bangunan dari kayu yang tersisa mampu bertahan.

?Bangunan tradisional dari kayu memang terbukti tahan gempa dan pakem membangunnya sudah dikuasai para tukang kayu kita. Namun, jika masyarakat hendak membangun kembali rumah tembok, perlu pendampingan para ahli, mengingat material ini merupakan kebudayaan baru yang diimpor dari luar.

?Untuk bangunan yang dilintasi jalur sesar aktif sebaiknya dipindahkan, minimal 50 meter. Jalur patahan aktif ini sebaiknya dijadikan ruang terbuka hijau, sekaligus museum untuk mengingatkan warga tentang bencana mematikan yang sewaktu-waktu bisa kembali terjadi.

?Terkait ancaman tsunami, perlu disadari bahwa kawasan ini memiliki banyak sumber tsunami, baik dari sesar Palukoro sendiri yang kemudian bisa memicu longsor bawah laut, atau juga dari sumber-sumber lain di luar Teluk Palu.

Seperti kejadian lalu, tsunami di Teluk Palu bisa melanda hanya berkisar tiga menit setelah gempa, sehingga akan sulit diantisipasi. “Tsunami yang dipicu longsor akan sulit diperkirakan tinggi maupun waktu tibanya karena sangat dipengaruhi berapa volume material yang masuk ke laut dan lokasinya,” kata ahli tsunami BPPT, Widjo Kongko.

?Untuk ancaman likuefaksi, potensinya amat tinggi dan tersebar luas mengingat struktur tanah di kawasan itu, terutama Kota Palu, sangat lunak dan terdiri dari lapisan pasir tebal. Peneliti likuefaksi Geoteknologi LIPI Adrin Tohari mengatakan, dibutuhkan pemetaan geologi dan geoteknik kondisi struktur dan kepadatan lapisan tanah secara rinci untuk mengetahui potensi bahayanya ke depan.

“Dari kondisi saat ini, daerah-daerah yang mengalami likuefaksi aliran seperti Kelurahan Petobo, Balaroa, dan Jono Oge sudah tidak layak juni karena lapisan tanahnya sangat rentan guncangan gempa,” kata Adrin.

?Tidak semua area terdampak likuefaksi sebenarnya hancur total. Misalnya di Petobo, di tengah-tengah kehancuran itu, terdapat sekitar 10 rumah yang sama sekali tidak terdampak, yaitu Kampung Kinta. Bahkan, aspal di Kinta sama sekali tidak retak-retak. Warga yang menjadi saksi mata bencana ini mengatakan, saat kejadian, lumpur mengitari hanya kampung mereka.

?Arkeolog Iksam mengatakan, selain berbasis sains modern, pembangunan kembali pacabencana juga perlua memperhitungan pengetahuan lokal masyarakat, salah satunya dengan mempelajari pola migrasi dan toponimi wilayah. “Jangan sampai misalnya, memindahkan korban bencana saat ini ke ancaman bencana lain. Misalnya, salah satu usulan relokasi adalah ke Duyu, padahal daerah itu artinya longsor,” ujarnya.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 15 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antarktika 90 Juta Tahun Lalu Berupa Hutan Hujan Beriklim Sedang

Pada 90 juta tahun lalu, benua Antarktika masih berupa hutan hujan beriklim sedang. Kini, Antarktika ...

%d blogger menyukai ini: