Home / Berita / Teluk Palu Sudah Lima Kali Dilanda Tsunami

Teluk Palu Sudah Lima Kali Dilanda Tsunami

Survei menemukan empat lapisan tsunami tua di Pantai Talise, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Endapan tsunami yang berada di bawah lapisan tsunami 28 September 2018 ini membuktikan perulangan bencana di masa lalu dan seharusnya menjadi pertimbangan bagi penataan kembali kawasan ini.Temuan empat endapan tsunami tua ini diketahui berdasarkan survei yang dilakukan peneliti paleotsunami Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Purna S Putra, Senin (12/11/2018). Lapisan pertama berada di kedalaman 32 sentimeter (cm) dengan ketebalan endapan tsunami 3 cm, lapisan kedua di kedalaman 66 cm dengan ketebalan 10 cm. Sedangkan lapisan ketiga di kedalaman 170 cm dengan ketebalan 2 cm dan lapisan keempat di kedalaman 250 cm dengan ketebalan 2 cm.

?Sebagai perbandingan, tsunami pada 28 September lalu meninggalkan endapan tsunami setebal 8 cm di Pantai Talise. Endapan tsunami dikenali dengan ukuran butiran pasirnya yang beragam dan cenderung halus di bagian atas. Selain itu, endapan ini biasanya kaya dengan cangkang kerang foraminifera yang terbawa dari laut dalam.

?“Dengan tsunami yang terjadi setelah gempa baru-baru ini, setidaknya Pantai Talise ini sudah lima kali dilanda tsunami. Untuk mengetahui kapan terjadinya tsunami tersebut, akan dilakukan uji dating (penanggalan) terhadap material organik yang ditemukan di tiap lapisan endapan ini,” kata Purna.

KOMPAS/AHMAD ARIF–Peneliti paleotsunami Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Purna S Putra menemukan empat lapisan endapan tsunami tua di lokasi terdampak tsunami 28 September 2018 di Pantai Talise, Teluk Palu, Sulawesi Tengah, Senin (12/11). Temuan ini menunjukkan bahwa tsunami telah berulangkali terjadi di kawasan ini.

?Menurut Purna, endapan tsunami di Teluk Palu ini rata-rata jauh lebih tipis jika dibandingkan dengan endapan tsunami di Aceh tahun 2004 yang rata-rata di atas 10 hingga 15 cm. “Tipisnya endapan tsunami di Teluk Palu ini kemungkinan karena sumbernya yang relatif dekat sehingga gelombangnya relatif pendek dan jarak antar gelombang yang cepat. Ini menyebabkan kesempatan pengendapannya terbatas. Kecuali pada lapisan kedua yang relatif tebal yang bisa jadi dari sumber lain yang lebih jauh,” kata dia.

?Purna berharap, perulangan tsunami di pesisir Teluk Palu ini bisa menjadi pertimbangan dalam penataan kembali kawasan ini pascabencana. “Diharapkan studi-studi yang dilakukan bisa jadi dasar bagi kebijakan dan penataan ruang ke depan,” kata dia.

Gempa dan likuefaksi
?Jejak keberulangan tsunami di Teluk Palu juga sejalan dengan bukti-bukti keberulangan gempa bumi. Data sejarah menunjukkan, kejadian gempa bumi pernah terjadi di Palu dan sekitarnya pada tahun 1907, 1909, 1937, 1968, 2005, dan 2012.

Laporan geolog Belanda, Abendanon (1917), gempa pada tahun 1909 sangat besar yang menyebabkan rumah-rumah yang selamat pada gempa bumi 1907 roboh. Laporan Abendanon juga menyebutkan adanya retakan yang besar dan memanjang 7 km yang mempunyai loncatan setinggi 1 m.

?Penelitian Mudrik Darmawan dari Geoteknologi LIPI untuk disertasinya (2016) dengan metode uji paritan di Desa Omu, Kecamatan Gumbasa, Sigi untuk mengetahui paleoseismic atau gempa tua, menemukan adanya kejadian gempa bumi besar pada tahun 1468 dan 1338. Bukti-bukti ini menunjukkan bahwa gempa memang siklus berulang di lembah Palu.

?Beberapa penyintas gempa juga masih memiliki ingatan terhadap kejadian bencana serupa di masa lalu. Sanaeda (61), korban gempa dan likuefaksi di Desa Sibalaya Utara, Kecamatan Tanambulava, Sigi mengatakan, dia masih ingat saat gempa besar terjadi pada tahun 1968.

“Saat itu kami tinggal di rumah panggung dengan tiang kayu bulat. Dinding rumah dari papan dan atap dari daun kelapa. Rumah kami hanya bergoyang-goyang saja, tapi tidak roboh. Baru setelah tahun 1980-an, rumah-rumah berubah jadi batako dan batu bata, tetapi ternyata sekarang banyak hancur karena gempa,” kata dia.

?Menurut Sanaeda, ayahnya waktu itu melarang mereka turun dari rumah panggung saat gempa, karena menurut kepercayaan mereka, jika gempa kuat maka tanah-tanah akan retak dan bisa menelan mereka. Dalam bahasa Kaili, “Nemo manau ri tana, me beka tana.” Fenomena likuefaksi yang menelan rumah warga Desa Sibalaya itu ternyata terbukti terjadi kali ini.

–Kondisi Desa Sibalaya Utara, Kecamatan Tanambulava, Sigi yang mengalami likuefaksi, Minggu (11/11/2018). Masyarakat Kaili memiliki istilah khusus untuk likuefaksi ini yaitu nalodo yang menandakan hal ini pernah berulang dimasa lalu.

?Sekalipun studi paleo-likuefaksi untuk mencari jejak likuefaksi di masa lalu belum dilakukan, namun pengetahuan lokal masyarakat Kaili telah merekamnya. Menurut arkeolog yang juga Wakil Kepala Museum Daerah Sulawesi Tengah Iksam, masyarakat Palu memiliki istilah lokal untuk likuefaksi ini, yaitu nalodo yang berarti amblas dalam lumpur hitam. Selain itu, mereka juga memiliki istilah lonjo atau terbenam.

“Nah, daerah di Perumnas Balaroa yang mengalami likuefaksi kemarin itu namanya dulu Tagari Lonjo atau terbenam dalam lumpur pekat,” kata dia.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 13 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antarktika 90 Juta Tahun Lalu Berupa Hutan Hujan Beriklim Sedang

Pada 90 juta tahun lalu, benua Antarktika masih berupa hutan hujan beriklim sedang. Kini, Antarktika ...

%d blogger menyukai ini: