Penelitian Paleotsunami; Tim Sampaikan Temuan ke BPBD Bali

- Editor

Selasa, 18 April 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tim peneliti gabungan Indonesia-Amerika Serikat menyampaikan temuan mereka terkait penelitian jejak tsunami purba atau paleotsunami di Bali kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Bali, Senin (17/7). Selain temuan dua jejak tsunami di Bali selatan, juga disampaikan hasil survei tentang pengetahuan bencana anak-anak sekolah di Bali.

Dari aspek geologis, tim melaporkan temuan dua lapisan tanah yang diduga kuat sebagai endapan tsunami purba yang pernah terjadi di Bali selatan. Dua lapisan ini ditemukan melalui pengeboran pada puluhan titik di area persawahan sekitar 300 meter dari pantai ataupun di tebing sungai.

Profesor geologi dari Brigham Young University, AS, Ron Harris, mengatakan, timnya meyakini dua lapisan deposit tsunami ini memiliki kesesuaian dengan temuan di Jawa bagian selatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meski demikian, untuk memastikan usia endapan sehingga bisa diketahui kapan terjadinya dua tsunami tersebut, tim akan membawa sampel tanah ke laboratorium di AS. “Lapisan pertama ditemukan secara konsisten di kedalaman 1 meter dan lapisan kedua di kedalaman 2 meter,” kata dia.

Peneliti lain, Sarah Hall dari Utah Valley University, AS, melaporkan temuan dari tim sosial. “Dibandingkan di Jawa selatan, anak-anak sekolah di Bali lebih banyak yang menyatakan daerah mereka aman dari tsunami. Mereka belum menyadari adanya risiko tsunami di Bali,” tuturnya.

Menurut Hall, secara umum, anak-anak di Bali sudah mengetahui bahwa tsunami bisa dipicu gempa bumi atau letusan gunung api bawah laut. “Namun, seperti juga temuan kami di Jawa, banyak yang salah mengerti bahwa hanya gempa yang dirasakan kuat saja yang bisa menyebabkan tsunami,” ujarnya.

Irina Rafliana, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menambahkan, gempa yang terasa tak terlalu kuat, tetapi berlangsung lama, juga bisa memicu tsunami. Hal ini misalnya terjadi di Kepulauan Mentawai pada 2010 dan Pangandaran, Jawa Barat, 17 Juli 2006.

“Diperlukan pendidikan bencana berbasis sains sehingga anak-anak tidak salah dalam memahami dan merespons gempa yang berpotensi tsunami,” ucapnya.

Menjawab keraguan
Kepala BPBD Bali Made Indra mengatakan, hasil penelitian ini menjawab keraguan selama ini tentang pernah tidaknya tsunami terjadi di Bali. “Sepanjang usia orang Bali (saat ini) tidak pernah mengalami tsunami sehingga banyak yang ragu bahwa bencana itu pernah terjadi di pulau ini.” ujarnya. (AIK)
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 Juli 2017, di halaman 14 dengan judul “Tim Sampaikan Temuan ke BPBD Bali”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Berita ini 24 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Senin, 9 Maret 2026 - 09:50 WIB

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:19 WIB

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan

Jumat, 20 Februari 2026 - 17:12 WIB

Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Berita Terbaru

Artikel

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Senin, 9 Mar 2026 - 09:50 WIB