Home / Berita / Nyamuk Ber-Wolbachia Disebar

Nyamuk Ber-Wolbachia Disebar

Kementerian Kesehatan Menilai PSN Paling Efektif Tekan DBD
Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, memperluas penyebaran nyamuk Aedes aegypti yang sudah mengandung bakteri wolbachia. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menekan kasus demam dengue.

Penyebaran dilakukan dengan meletakkan ember-ember berisi 80-120 telur nyamuk ber-wolbachia di sejumlah titik di Yogyakarta dan dua desa di Kabupaten Bantul. Ember itu akan diganti setiap dua minggu sekali hingga 13-15 kali penggantian atau lebih kurang tujuh bulan. Targetnya, populasi nyamuk ber-wolbachia mencapai 80 persen.

Dihubungi dari Jakarta, Selasa (20/6), peneliti utama dari Eliminate Dengue Project (EDP) Fakultas Kedokteran UGM, Prof Adi Utarini, mengatakan, tahun 2016-2019 adalah tahapan pelepasan secara luas nyamuk yang sudah mengandung wolbachia di Yogyakarta. Tahapan ini dibagi dua, tahap pertama pada 2016, yaitu pelepasan di tujuh kelurahan di Yogyakarta.

“Populasi nyamuk Aedes aegypti yang mengandung wolbachia di tujuh kelurahan hasil pelepasan tahap pertama umumnya sudah mencapai 80 persen dari total populasi nyamuk yang ada. Tinggal satu kelurahan lagi yang hampir mencapai 80 persen,” ujar Adi.

EDP Yogyakarta adalah program penelitian bersama yang dilaksanakan Pusat Kedokteran Tropis FK UGM dan didanai oleh Yayasan Tahija. Tujuannya, meneliti dan mengembangkan metode penanggulangan demam berdarah dengue yang ramah dan aman, baik bagi manusia maupun lingkungan. EDP Yogyakarta ini merupakan bagian dari EDP Global yang juga melakukan penelitian serupa di Australia, Vietnam, Kolombia, dan Brasil.

Kemampuan nyamuk
Para peneliti memanfaatkan bakteri wolbachia. Bakteri ini mampu menekan replikasi virus dengue di tubuh nyamuk sehingga diharapkan dapat menurunkan kemampuan nyamuk menularkan virus dengue dari satu orang ke orang lainnya.

Bakteri wolbachia sering ditemukan pada serangga seperti capung, ngengat, lalat buah, juga nyamuk Aedes albopictus meskipun jarang. Wolbachia terbukti mampu menghambat virus dengue di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti.

Selain menyebar telur nyamuk ber-wolbachia, peneliti juga menentukan lokasi penelitian yang tidak disebar nyamuk ber-wolbachia sebagai pembanding. Setelah itu, peneliti memantau dampak dari penyebaran nyamuk tersebut pada kasus DBD.

“Di daerah yang tidak disebar nyamuk ber-wolbachia bukan artinya tidak ada upaya apa pun untuk menekan kasus DBD. Upaya pencegahan DBD melalui berbagai cara tetap dilakukan,” kata Adi.

Data dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan menunjukkan, pada 2014 jumlah penderita DBD mencapai 100.347 orang dengan 907 orang di antaranya meninggal, pada 2015 ada 129.650 penderita dengan 1.071 kematian, dan pada 2016 terdapat 202.314 penderita DBD dengan 1.593 kasus kematian. Tahun 2017, pada Januari-Mei tercatat ada 17.877 kasus DBD dengan 115 kematian.

Sementara itu, Kemenkes masih menilai pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan menguras, menutup, dan mendaur ulang (3M) tempat penampungan air sebagai langkah yang paling efektif dalam menekan kasus DBD. Menurut Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes Oscar Primadi, PSN akan optimal jika dilakukan melalui gerakan 1 rumah 1 juru pemantau jentik.

Selain itu, katanya, juga perlu ditambah dengan kegiatan pencegahan lain, seperti menaburkan larvasida (lebih dikenal dengan abate atau biolarvasida) di tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, menggunakan obat nyamuk atau antinyamuk, menggunakan kelambu saat tidur, dan menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk. (ADH)
———————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 21 Juni 2017, di halaman 14 dengan judul “Nyamuk Ber-Wolbachia Disebar”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: