Nobel Bidang Kimia 2019, Penghargaan bagi Peletak Dasar Baterai Ion Litium

- Editor

Kamis, 10 Oktober 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

The Royal Swedish Academy of Sciences, Rabu (9/10/2019), di Stockholm, Swedia, mengumumkan, penghargaan Nobel bidang Kimia tahun 2019 diberikan kepada para ilmuwan yang memberi fondasi penting bagi perkembangan baterai ion litium. Temuan mereka membuat baterai menjadi ringan, bisa diisi ulang, berkapasitas besar, kuat, dan lebih aman.

Keberadaan penyimpan energi listrik ini kini menjadi penyokong kemajuan teknologi telepon seluler, telepon pintar, laptop, dan kendaraan listrik. Baterai itu pun menjadi media penyimpan energi dari tenaga surya dan angin sehingga menjadi modal utama menuju dunia bebas bahan bakar fosil.

Hadiah itu diberikan kepada John B Goodenough (97), M Stanley Whittingham (78), dan Akira Yoshino (71). Mereka berbagi hadiah 9 juta krona Swedia atau sekitar Rp 12 miliar, yang dibagi ketiganya secara merata. Goodenough menjadi penerima hadiah Nobel tertua sejak penghargaan diberikan tahun 1901.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Temuan mereka telah mengisi ulang daya dunia dan membawa energi ke berbagai tempat,” kata Olof Ranstrom, anggota Komite Nobel Kimia dari The Royal Swedish Academy of Sciences, dalam wawancara yang disiarkan secara daring di www.nobelprize.org.

Riset baterai ion litium Whittingham, — Goodenough, dan Yoshino itu saling berkesinambungan. — Whittingham membangun basis baterai litium pertama kali pada 1970. Goodenough melipatgandakan potensi baterai dan Yoshino membatasi atau mengurangi pemakaian litium murni pada baterai sehingga membuatnya lebih aman digunakan.

Fondasi baterai ion litium diletakkan selama krisis minyak bumi pada 1970-an. Saat itu, Stanley Whittingham dari Oxford University di Inggris mengerjakan pengembangan metode yang bisa mengarah pada bebas bahan bakar fosil. Ia mulai meneliti superkonduktor dan menemukan bahan amat kaya energi yang digunakannya untuk membuat katoda inovatif dalam baterai litium.

–Goran K Hansson, Sekretaris Jenderal Royal Swedish Academy of Sciences, serta anggota Academy, Sara Snogerup Linse dan Olof Ramstrom, mengumumkan peraih Nobel bidang Kimia 2019 di Royal Swedish Academy of Sciences di Stockholm, Swedia, Rabu (9/10/2019). Penghargaan itu diberikan kepada John B Goodenough, M Stanley Whittingham, dan Akira Yoshino.

Material itu dibuat dari titanium disulfida yang pada tingkat molekuler memiliki ruang yang bisa menampung interkalasi ion litium. Anoda baterai sebagian dibuat dari logam litium yang memiliki dorongan kuat untuk melepaskan elektron. Itu menghasilkan baterai yang memiliki potensi listrik besar, yakni lebih dari 2 volt. Namun, logam litium bersifat reaktif dan baterainya terlalu mudah meledak.

Potensi besar
John Goodenough dari University of Chicago di AS meramalkan, katoda akan memiliki potensi lebih besar jika dibuat memakai logam oksida daripada logam sulfida. Setelah pencarian sistematis, pada 1980 ia menunjukkan, kobalt oksida yang dilintasi ion litium bisa menghasilkan 4 volt. Itu merupakan terobosan penting dan akan menghasilkan baterai yang jauh lebih kuat.

Dengan katoda Goodenough sebagai dasar, Akira Yoshino, profesor di Meijo University, Nagoya, yang juga bekerja pada Asahi Kasei Corporation, Jepang, menciptakan baterai ion litium pertama yang aktif secara komersial tahun 1985. Daripada memakai litium reaktif dalam anoda, ia menggunakan petroleum coke (hasil samping penyulingan minyak bumi), bahan karbon seperti katoda kobalt oksida yang bisa melewatkan ion litium.

Hasilnya ialah baterai ringan dan tahan pakai yang bisa diisi ratusan kali sebelum kinerja memburuk. Manfaat baterai ion litium adalah tak didasarkan reaksi kimia yang memecah elektroda, tetapi pada ion litium yang berjalan bolak-balik antara anoda dan katoda.

Saat dihubungi dalam konferensi pers pengumuman tersebut, Akira Yoshino yakin, penemuannya akan memenangi Nobel. Namun, ia tak menduga, penghargaan itu diberikan begitu cepat. Alasannya, pemberian hadiah Nobel bidang Kimia mencakup begitu banyak studi. Ia menyangka akan menanti lama sebelum Komite Nobel beralih ke bidang perangkat seperti baterai ion litium.

“Saya pikir kami harus menanti lama. Jadi, saya dulu mengatakan kepada orang-orang bahwa itu mungkin menunggu lama, tetapi kami pasti akan menang saat giliran kami tiba. Tetap saja, kejutan, kejutan,” katanya di Jepang.

Hingga kini, mengacu data www.nobelprize.org, 111 Hadiah Nobel bidang Kimia diberikan sejak 1901. Rinciannya, 63 hadiah diberikan kepada peraih individu, 23 hadiah diberikan bagi dua peraih, dan 25 penghargaan diberikan kepada tiga peraih. (ICH)

Sumber: Kompas, 10 Oktober 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 6 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB