Home / Berita / Riset Baterai Litium Perlu Diprioritaskan

Riset Baterai Litium Perlu Diprioritaskan

Potensi baterai litium sebagai kunci pengembangan kendaraan listrik belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, ketersediaan bijih nikel sebagai bahan baku baterai tersebut melimpah di Indonesia.

Baterai merupakan salah satu teknologi inti untuk mewujudkan transisi energi dan memperluas akses energi di seluruh dunia. Namun, potensi baterai saat ini dan masa depan belum dimanfaatkan secara optimal di Indonesia. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan dan memprioritaskan riset serta industri baterai di Indonesia.

Pendiri Institut Penelitian Baterai Nasional (National Battery Research Institute/NBRI) Evvy Kartini mengemukakan, pertumbuhan industri baterai litium dunia akan naik 14 kali lipat seiring dengan kemajuan teknologi saat ini. Baterai litium ini sangat dibutuhkan untuk sumber penyimpanan energi elektronik dan kendaraan, khususnya yang berbasis listrik.

”Kini dunia beralih ke baterai dan Indonesia terlambat. Meski jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, Indonesia belum memiliki pabrik baterai. Padahal, 60 persen kunci kendaraan listrik ada pada baterai,” ujar Evvy dalam webinar bertajuk ”Teknologi Baterai Saat ini dan Masa Depan”, di Jakarta, Senin (8/2/2021).

Evvy menjelaskan, litium digunakan sebagai baterai karena unsur ini merupakan solid elemen paling ringan dan juga reaktif. Hal ini membuat litium dan nikel sebagai komponen utamanya dapat menyimpan energi lebih besar dan mampu menggantikan minyak sebagai bahan bakar kendaraan.

KOMPAS/ERWIN EDHI PRASETYA—Contoh produk baterai litium ion jenis LFP (lithium ferro phosphate) produksi Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Jawa Tengah, Jumat (31/5/2019).

Menurut Evvy, Indonesia memiliki peluang mengembangkan riset terkait dengan baterai litium untuk kendaraan listrik karena melimpahnya ketersediaan bijih nikel di dalam negeri. Namun, mayoritas bijih nikel tidak diolah di Indonesia karena keterbatasan teknologi dan sumber daya manusia.

Guna mendorong pertumbuhan riset dan industri baterai, saat ini NBRI tengah memetakan informasi terkait dengan fasilitas riset baterai di Indonesia. Hal ini bertujuan untuk mengetahui pihak mana saja yang melakukan riset baterai dan hasil dari riset tersebut. Nantinya juga akan dipetakan sejumlah industri di dunia yang menggunakan fasilitas baterai.

Pendidikan vokasi
Selain itu, NBRI menjadikan sejumlah lembaga dan korporasi di dunia yang telah berpengalaman mengembangkan riset dan industri baterai, yakni The Faraday Institution dan UK Battery Industrialisation Centre di Inggris, serta Sillicon Valley di AS.

”Ke depan, kami juga akan menyiapkan pendidikan vokasi. Kita memiliki banyak SMK (sekolah menengah kejuruan) dan perlu dilatih karena jika nantinya ada kendaraan listrik di seluruh Indonesia, kita perlu menyiapkan tenaga ahlinya,” tutur Evvy yang juga profesor riset di Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan).

Sebelumnya, Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang PS Brodjonegoro menyatakan, dalam program prioritas riset nasional 2020-2024, baterai litium merupakan salah satu sektor yang perlu didorong. Pemanfaatan baterai ini dapat diaplikasikan melalui kendaraan listrik serta sistem penyimpanan energi dari pembangkit listrik energi terbarukan.

”Berdasarkan data Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, sepanjang tahun 2019, Indonesia menjadi produsen bijih nikel terbesar di dunia dengan menghasilkan 800.000 ton bijih nikel per tahun. Ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk menciptakan pabrik baterai litium di mana bijih nikel adalah komponen utama pembuatannya,” katanya.

Menurut Bambang, Kementerian Riset dan Teknologi telah mengembangkan beberapa produk inovasi sebagai bentuk pengaplikasian baterai litium, di antaranya pengisi daya cepat (fast charger), baterai cepat terisi, daur ulang baterai, material baterai, dan pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB).

Bambang menambahkan, pemerintah berupaya mendorong pengembangan produk-produk inovasi tersebut melalui berbagai kebijakan, seperti peningkatan penggunaan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dan insentif pajak. Hal ini diharapkan dapat terus memperkuat ekosistem riset dan inovasi, khususnya untuk pengembangan kendaraan listrik.

Oleh PRADIPTA PANDU

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 9 Februari 2021

Share
%d blogger menyukai ini: