Home / Berita / Superkonduktor dan Baterai Litium Dikembangkan

Superkonduktor dan Baterai Litium Dikembangkan

Indonesia memiliki berbagai sumber daya mineral yang bisa dimanfaatkan dalam bidang kelistrikan. Salah satu material maju yang berpotensi dikembangkan adalah material superkonduktor suhu tinggi atau high temperature superconductors (HTS). Pemanfaatan bahan baku lokal bisa mengurangi impor material maju.

Peneliti Pusat Penelitian Metalurgi dan Material Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agung Imaduddin, menyampaikan hal itu dalam temu media, Jumat (26/10/2018), di LIPI, Jakarta. Acara itu digelar dalam rangka menyambut Hari Listrik Nasional yang diperingati setiap tanggal 27 Oktober.

Bahan baku HTS yang memiliki nilai suhu kritikal (critical temperature) tinggi ialah superkonduktor jenis Bismut-Stronsium-Calsium-Cuprum-Oksigen (Bi-Sr-Ca-Cu-O) atau disebut BSCCO. Bahan baku mineral itu banyak ditemukan di Indonesia. ”LIPI telah meneliti superkonduktor ini sejak tahun 2006 dengan memakai bahan senyawa Nb3Sn, Bi-Sr-Ca-Cu-O, MgB2, dan FeSeTe,” ungkapnya.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA–Pekerja merawat dan memperbaiki instalasi jaringan listrik yang berada di Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Tambaklorok, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (18/10/2018). Total beban listrik di Jawa saat ini diperkirakan mencapai 25.000 megawatt. Kebutuhan listrik akan terus meningkat seiring dengan banyaknya industri yang dibangun saat ini.–Kompas/P Raditya Mahendra Yasa

”Hasilnya berupa prototipe kawat superkonduktor. Ini memberi nilai tambah bagi produk tersebut,” kata Agung. Sejak 2010, permintaan superkonduktor di pasar global naik secara signifikan, khususnya superkonduktor tipe HTS. Sebab, penerapan material superkonduktor mengurangi kehilangan energi listrik dan ramah lingkungan.

Agung menambahkan, aplikasi kawat superkonduktor terutama dilakukan pada bidang penghantar dan penyimpanan energi listrik, transformer dan motor listrik, serta alat kesehatan (MRI). ”Namun, masih diperlukan kerja sama untuk pengembangan skala industri agar bisa membuat kawat superkonduktor dengan skala lebih panjang untuk aplikasi trafo dan kabel transmisi listrik tegangan tinggi,” ucapnya.

Baterai litium
Selain itu, LIPI telah meneliti elektroda baterai litium dari bahan baku tempurung kelapa. Achmad Subhan dari Pusat Penelitian Fisika LIPI tengah mengembangkan prototipe baterai itu.

”Tempurung kelapa memiliki bahan karbon aktif yang digunakan sebagai aditif dalam pembuatan elektroda. Bahan aditif karbon ini digunakan untuk meningkatkan nilai konduktivitas listrik, baik ionik maupun elektronik,” katanya.

Pemakaian karbon aktif yang optimum seperti tempurung kelapa sebagai komponen elektroda baterai litium bisa mendorong nilai kapasitas dan kemampuan daya baterai lebih tinggi. ”Dengan biaya lebih rendah, itu menghasilkan produk elektroda lebih tinggi performanya,” ujarnya.

Menurut Achmad, proses pembuatan karbon aktif yang sesuai kebutuhan industri baterai berpotensi untuk dikembangkan. ”Pengembangan dari proses biomassa menjadi karbon aktif skala industri perlu dilakukan agar sesuai kebutuhan aplikasinya dalam proses fabrikasi baterai litium,” ungkapnya.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, konsumsi listrik Indonesia tahun 2017 mencapai 1.012 kilowatt per hour (kwh) per kapita, naik 5,9 persen daripada tahun sebelumnya. Tahun ini pemerintah menargetkan konsumsi listrik masyarakat meningkat menjadi 1.129 kwh per kapita. –YUNI IKAWATI

Sumber: Kompas, 27 Oktober 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antarktika 90 Juta Tahun Lalu Berupa Hutan Hujan Beriklim Sedang

Pada 90 juta tahun lalu, benua Antarktika masih berupa hutan hujan beriklim sedang. Kini, Antarktika ...

%d blogger menyukai ini: