Home / Berita / Penghargaan / Nobel Kimia 2019 dan Tiga Pejuang Energi untuk Masa Depan

Nobel Kimia 2019 dan Tiga Pejuang Energi untuk Masa Depan

Apakah perkembangan ponsel pintar akan secepat ini bila tak ditemukan baterai lithium-ion? Pertanyaan ini sulit dijawab. Yang jelas tiga ilmuwan penemu dan pencipta baterai lithium-ion dianugerahi Nobel bidang Kimia tahun 2019.

Penghargaan dan hadiah setara lebih dari Rp 12 miliar (9 juta krona Swedia) tersebut dibagi merata bagi John B Goodenough (97), M Stanley Whittingham (77), dan Akira Yoshino (71). Riset mereka saling berketerkaitan. Whittingham menemukan penggunaan ion lithium pada baterai, Goodenough menggandakan kapasitas penyimpanannya, dan Yoshino memberikan pengamanannya.

WWW.NOBELPRIZE.ORG–Peraih Nobel bidang Kimia 2019. Gambar diambil dari situs www.nobelprize.org

Goodenough, menjadi penerima Nobel tertua dengan menyisihkan Arthur Ashkin, yang berusia 96 ketika ia dianugerahi Nobel untuk fisika tahun 2018. Goodenough tidak berharap untuk dihormati, tetapi menyatakan lebih bangga dengan dampak pekerjaannya di seluruh dunia. “Saya sangat senang bahwa penemuan saya telah dapat membantu komunikasi di dunia. Kita perlu membangun hubungan, bukan perang. Saya senang jika orang menggunakan ini untuk kebaikan, bukan kejahatan,” katanya.

Whittingham mengatakan, dia tidak punya firasat bahwa pekerjaannya puluhan tahun yang lalu akan memiliki dampak yang sangat besar. “Kami pikir akan menyenangkan dan membantu dalam beberapa hal, tetapi tidak pernah bermimpi itu akan merevolusi bidang elektronik dan yang lainnya,” katanya.

AFP/CHRISTOF STACHE–Stanley Whittingham, penerima Nobel 2019 bidang Kimia di Ulm, Jerman, Rabu (9/10/2019). Ia menerima Nobel bersama dua rekannya, Goodenough dan Yoshino.

Ia mengaku diliputi rasa syukur menerima penghargaan ini. Ia bangga karena penelitiannya membantu memajukan cara penyimpanan dan penggunaan energi pada tingkat dasar. “Harapan saya bahwa pengakuan ini akan membantu untuk menyinari cahaya yang sangat dibutuhkan pada masa depan energi negara (AS),” katanya di situs web Universitas Binghamton di New York.

Di Jepang, Yoshino berharap teknologi itu memungkinkan untuk adopsi sumber energi terbarukan yang lebih besar. “Kita harus menciptakan masyarakat di mana listrik dihasilkan oleh energi terbarukan untuk menyelesaikan masalah perubahan iklim,” katanya.

Yoshino yang juga bekerja di perusahaan Asahi Kasei di Jepang menyatakan, dengan percaya diri bahwa karyanya akan mendapatkan Nobel. Namun ia tak menyangka pemberian penghargaan secepat ini. Ia tak menduga para juri tahun ini melirik temuan baterai ion lithium.

Ketiga ilmuwan tersebut masing-masing memiliki terobosan unik yang meletakkan dasar bagi pengembangan baterai komersial yang dapat diisi ulang. Temuan ini menjadi alternatif dari baterai alkaline yang lebih tua yang mengandung timbal, nikel atau seng yang berasal dari abad ke-19.

AFP/DANIEL LEAL-OLIVAS–John Goodenough pada acara konferensi pers di The Royal Society di London, Rabu (9/10/2019).

Semua baterai menyimpan energi kimia yang dapat dikonversi menjadi listrik. Tetapi baterai sebelumnya tidak aman, terlalu berat atau tidak dapat diisi ulang sehingga penggunaan praktisnya terbatas.

Temuan ketiganya ini membuat pengembangan ponsel pintar dan laptop menjadi sangat cepat. Baterai ion lithium ini pun menjadi modal besar bagi pengembangan energi terbarukan karena baterai tersebut menjadi media penyimpanan listrik dari sumber energi seperti matahari dan angin. Temuan ini pun menjadi tulang punggung bagi penerapan mobil listrik yang juga sedang dikembangkan industrinya, termasuk di Indonesia.

Sejarah temuan mereka dimulai pada tahun 1970-an. Ketika itu, Whittingham, yang telah meneliti superkonduktor di Stanford University, dipekerjakan oleh Exxon. Pada saat itu raksasa minyak Exxon berinvestasi dalam penelitian penyimpanan energi.

Whittingham memanfaatkan kecenderungan lithium, logam paling ringan, untuk memberikan elektronnya guna membuat baterai yang ringan mampu menghasilkan listrik lebih dari dua volt. Pada 1980, berdasarkan kerja Whittingham, Goodenough menggandakan kapasitas baterai menjadi empat volt dengan menggunakan oksida kobalt dalam katoda yang bersama anoda membentuk ujung-ujung baterai.

Tetapi baterai itu belum stabil untuk penggunaan komersial. Di situlah Yoshino, profesor pada Meijo University di Nagoya Jepang, pada 1980-an mulai berkiprah. Dia menghilangkan lithium murni yang mudah menguap dari baterai. Ia menggantinya dengan menggunakan ion lithium yang lebih aman. Dia menambahkan bahan lain dalam satu elektroda yang mengurangi potensi kebakaran.

Langkah-langkah ini membuka jalan bagi pengembangan baterai komersial yang ringan, aman, tahan lama, dan dapat diisi ulang. Baterai garda depan ini yang memasuki pasar pada 1991.

AFP/BEHROUZ MEHRI–Akira Yoshino saat hadir di acara konferensi pers di Tokyo, Kamis (10/10/2019). Ia memenangi Nobel Kimia tahun 2019 bersama Whittingham dan Goodenough.

Whittingham menyebut hadiah Nobel sebagai pengakuan untuk seluruh bidang. Yang membanggakan saat ini ratusan orang bekerja untuk memproduksi baterai ion lithium.

Membangun kemajuan peradaban baru dari baterai ion lithium ini dimungkinkan melalui penggunaan sumber energi terbarukan yang lebih luas yang menghasilkan daya pada waktu yang bervariasi. “Baterai adalah jembatan antara ketika matahari bersinar dan ketika orang perlu menggunakan energi,” komentar Amanda Morris, seorang ahli kimia di Virginia Tech University.

Selain penghargaan hadiah berupa uang, ketiganya juga mendapatkan medali dan diploma emas yang diberikan Raja Swedia, King Carl XVI Gustaf pada seremoni di Stockholm, 10 Desember 2019. Tanggal itu bertepatan dengan peringatan kematian pendiri hadiah Alfred Nobel pada tahun 1896.

Hingga saat ini, mengacu pada data www.nobelprize.org, sebanyak 111 Hadiah Nobel bidang Kimia telah diberikan sejak tahun 1901. Sebanyak 63 hadiah diberikan kepada individu, 23 hadiah diberikan bagi dua individu, dan 25 penghargaan diberikan kepada 3 orang individu.

Dengan demikian total Hadiah Nobel bidang Kimia diberikan kepada 184 peraih atau 183 orang. Hal ini karena Frederick Sanger menerima penghargaan dua kali. Sejauh ini, baru ada lima perempuan yang pernah meraih Nobel Kimia, antara lain yakni Marie Curie dan Dorothy Crowfoot Hodgin. (AP/AFP)

John B Goodenough

Lahir: Jena, Jerman, 1922

Karier:
Meraih Ph.D pada 1952 dari the University of Chicago, Amerika Serikat
Kini Profesor pada Virginia H Cockrell Chair bidang Teknik di The University of Texas di Austin, AS

M Stanley Whittingham

Lahir: Inggris, 1941

Karier:
Meraih Ph.D pada 1968 dari Oxford University, Inggris
Profesor (Distinguished Professor) di Binghamton University, State University of New York

Akira Yoshino

Lahir: Suita, Jepang, 1948

Karier:
Meraih PhD pada 2005 dari Osaka University, Jepang.
Honorary Fellow (penghargaan gelar dari kampus pada tokoh dari kalangan industry) dari Asahi Kasei Corporation, Tokyo, Jepang
Profesor pada Meijo University, Nagoya, Jepang

ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 12 Oktober 2019

Share
x

Check Also

Gede Bayu Suparta, 30 Tahun Mengembangkan Radiografi Digital

Riset selama 30 tahun untuk mengembangkan radiografi digital buatan Indonesia akhirnya berbuah manis. Awal November ...