Mutu PendidikanAntar-PT Belum Merata

- Editor

Selasa, 16 Mei 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prestasi Olimpiade Didominasi Perguruan Tinggi di Jawa
Mutu pendidikan matematika dan ilmu pengetahuan alam antarperguruan tinggi di Indonesia belum merata. Hal itu antara lain tecermin dari prestasi olimpiade sains tingkat nasional yang didominasi perguruan tinggi tertentu di Pulau Jawa. Perlu terobosan untuk memeratakan mutu pendidikan.

Demikian benang merah kegiatan Olimpiade Nasional Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (ON MIPA-PT) 2017 di Kota Semarang, Jawa Tengah, pada Minggu (14/5)-Rabu (17/5).

Kegiatan ini ditutup oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristek dan Dikti) Rina Indiastuti.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam sambutannya Rina mengakui, belum meratanya mutu pendidikan MIPA tecermin dari perolehan juara olimpiade tingkat nasional yang kerap didominasi perguruan tinggi (PT) unggulan, seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Indonesia (UI).

“Dominasi prestasi bukan berarti perguruan tinggi lain tidak bagus, melainkan perlu ada evaluasi berkelanjutan, mulai dari dosen atau pendamping hingga materi pembelajaran,” ujar Rina.

Pada ON MIPA-PT yang diselenggarakan 14-17 Mei, empat bidang studi dilombakan, yaitu Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi. ITB mendominasi dengan perolehan 8 emas, 8 perak, dan 3 perunggu. Peringkat kedua, UGM dengan 2 emas, 5 perak, dan 10 perunggu. Peringkat ketiga UI dengan 3 perak dan 7 perunggu. ON MIPA-PT diikuti 256 mahasiswa dari 14 wilayah.

Peserta ON MIPA-PT 2017, Fransiskus Nimbafu, mahasiswa Universitas Negeri Papua Jurusan Biologi, mengatakan, ada beberapa materi yang baru ditemukannya saat mengerjakan soal olimpiade. Sekitar 35 persen materi belum dipelajari di kampus, seperti jenis penyakit terbaru dan metode pengolahan limbah modern. Dia mengikuti ON MIPA-PT dua kali dan belum berhasil menjadi juara.

“Soal olimpiade cukup sulit. Hanya 65 persen dari total soal yang biasa saya pahami. Sisanya saya baru tahu dan belum mengerti,” kata Nimbafu.

Kesenjangan
Menurut Guru Besar Fakultas MIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, yang termasuk tergabung dalam tim juri ON MIPA-PT 2017, Irmina Kris Murwani, dominasi PT unggulan juga mencerminkan kesenjangan kualitas pendidikan antarperguruan tinggi di Indonesia. Kesenjangan itu berdampak langsung terhadap prestasi mahasiswa. Saat seleksi tingkat wilayah, misalnya, panitia olimpiade menemukan hasil tes dengan nilai 0.

“Ini memprihatinkan. Kemampuan mahasiswa harus ditingkatkan agar kesenjangan antarperguruan tinggi tidak terlalu jauh,” kata Irmina.

Kepala Subdirektorat Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemristek dan Dikti yang juga Ketua Panitia ON MIPA-PT Tahun 2017 Widyo Winarso mengatakan, prestasi MIPA Indonesia di tingkat internasional juga sangat rendah. Berdasarkan survei Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) 2014-2016, kualitas pendidikan MIPA di Indonesia ada di urutan ke-45 dari 50 negara.

Selama ini, kata Widyo, belum ada mahasiswa Indonesia yang meraih nilai luar biasa (excellence) atau di atas 90 dalam olimpiade tingkat nasional atau internasional. Capaian nilai tertinggi berkisar 70-79 dari skala 100. Bahkan, pada ON MIPA-PT empat tahun terakhir, nilai tertinggi hanya di bawah 50. Dari kondisi itu, pemerataan mutu perlu diiringi peningkatan kualitas PT dan dosen pendamping.

Rina mengatakan, akreditasi kampus mencerminkan kualitas mutu pendidikan. Namun, kini masih banyak PT negeri dan swasta, terutama di luar Jawa, yang akreditasinya di bawah B. Untuk itu, pemerintah memfasilitasi PT untuk meningkatkan akreditasi menjadi B, A, atau standar internasional.

Pemerataan mutu juga ditempuh dengan memberikan Beasiswa Bidikmisi dan beasiswa afirmasi khusus mahasiswa di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal. (KRN)
————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 Mei 2017, di halaman 13 dengan judul “Mutu PendidikanAntar-PT Belum Merata”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 27 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru