Muryani Ciptakan Inovasi Destilator Sampah Plastik

- Editor

Jumat, 28 Juni 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO SOSOK 
MURYANI
Pencipta mesin destilasi berbahan baku sampah dari Blitar


Kompas/Defri Werdiono (WER)

FOTO SOSOK MURYANI Pencipta mesin destilasi berbahan baku sampah dari Blitar Kompas/Defri Werdiono (WER)

Sejak tahun 2009, Muryani (60), yang mengenyam pendidikan sampai kelas 1 SMP, berhasil membuat destilator sampah plastik secara otodidak. Sembilan tahun terakhir, dia memproduksi destilator yang mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak sebanyak lebih dari 100 unit.

Di tengah panas terik yang menerpa pinggir Kelurahan Wlingi, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Kamis (23/6/2019) siang, Muryani beristirahat sejenak. Dia sedang berada di kantor bank sampah tingkat kelurahan, tepat di sisi makam desa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

KOMPAS/DEFRI WERDIONO–Muryani

Sementara itu, di bengkel kerja yang berada tidak jauh dari Muryani berada, salah seorang anaknya, Diding Rulianto, sibuk menyelesaikan destilator pesanan konsumen. Alat itu dibuat secara manual.

Dibantu oleh adik kandung, Suripto dan Diding, Muryani membutuhkan waktu rata-rata sekitar 20 hari untuk membuat sebuah destilator. Untuk satu unit mesin berkapasitas 10 kilogram sampah dijual seharga Rp 30 juta, kapasitas 30 kilogram seharga Rp 55 juta, dan Rp 75 juta untuk yang berkapasitas 50 kilogram. Sementara untuk kapasitas 100 kilogram, harganya dibanderol Rp 95 juta.

Sejauh ini pesanan datang dari sejumlah pihak, terutama dinas kebersihan kabupaten/kota. Pemesannya tidak hanya berasal dari Pulau Jawa tetapi juga daerah lain, seperti Sumatera dan Kalimantan.

”Selama tahun 2019 ini ada tujuh unit pesanan. Satu tahun rata-rata ada 20 unit pesanan,” ujarnya.

Menurut Muryani, ada tiga jenis bahan bakar minyak (BBM) yang dihasilkan dari proses daur ulang sampah plastik menggunakan destilator buatannya. Ketiganya adalah solar, bensin, dan minyak tanah yang dia sebut sebagai BBM Plas.

Volume bahan bakar hasil proses destilasi bervariasi, tergantung jenis bahan baku. Jika yang didaur ulang sampah plastik kresek, setiap 10 kilogram sampah menghasilkan 5-6 liter solar, 1,5 liter minyak tanah, dan 1-2 liter bensin. Bahan baku plastik PE/PP (plastik bening, misalnya bungkus gula pasir) bisa menghasilkan 6 liter solar, 1,5 liter minyak tanah, dan 2,5 liter bensin.

Dengan produksi terbatas, sudah ada pelanggan yang membeli BBM Plas. Untuk solar, misalnya, biasa dibeli oleh petani setempat untuk menghidupkan traktor. Begitu pula bensin dipakai untuk menghidupkan sepeda motor, termasuk untuk operasional sepeda motor roda tiga yang biasa dipakai mengangkut sampah di tempatnya bekerja.

”Bensin saya jual Rp 7.000 per liter, sedangkan solar Rp 6.000. Produksi BBM-nya memang sedikit karena saya tidak mengutamakan jumlah, tetapi saya punya keinginan bisa berbuat sesuatu untuk lingkungan. Berdasarkan informasi yang saya peroleh, Indonesia penghasil sampah kedua terbesar di dunia,” kata ayah empat anak ini.

MURYANI, Pencipta mesin destilasi berbahan baku sampah dari Blitar–Kompas/Defri Werdiono (WER)

KOMPAS/DEFRI WERDIONO–Muryani

Diajari ayah
Pengetahuan Muryani dalam membuat destilator diperoleh dari ayahnya, almarhum Sutarji. Saat duduk di bangku kelas IV SD, sang ayah yang berprofesi sebagai petani memberitahu Muryani bahwa ember plastik bisa menghasilkan cairan bila dibakar dalam wadah khusus. Cairan itu bisa disulut seperti BBM.

Kala itu Sutarji memberi contoh. Ia mengambil kaleng bekas sebagai wadah pecahan ember plastik. Pada bagian tutup kaleng diberi lubang dan pipa. Sedangkan bagian bawah kaleng kemudian dibakar. ”Ternyata dari kaleng itu menetes cairan yang bisa terbakar saat disulut,” tutur pria yang selama sekolah menyukai mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam itu.

Upaya Muryani pernah muncul pada tahun 1978 saat menjadi transmigran di Lampung. Muryani menjadi transmigran tahun 1976-2002. ”Saat di Lampung saya mencoba lagi, tetapi gasolin (cairan BBM) yang saya hasilkan belum bisa dipakai untuk menghidupkan sepeda motor,” ucapnya.

Setelah kembali ke Jawa tahun 2009, salah satu anaknya, Didik Hermansyah, memberitahu Muryani bahwa di Jepang ada alat destilator berukuran besar. Didik memperoleh informasi itu dari internet. Muryani yang merasa pernah punya pengalaman menghasilkan cairan BBM langsung menyambut usulan sang anak untuk membuat destilator. Sejak tahun 2004, dia merupakan ”Pasukan Kuning” sejak 2004 di Kelurahan Wlingi, Blitar.

Lalu, mulailah Muryani membuat mesin destilasi. Bahannya dari pelat dan botol air mineral sebagai kondensor (pendingin yang sekaligus berfungsi memilah bahan bakar). Semua biaya menggunakan uang dari kantong sendiri. Upaya itu membuahkan hasil, tetapi BBM yang keluar belum bisa digunakan untuk kendaraan. Ia harus menambahkan oktan boster baru BBM itu bisa dimanfaatkan.

”Setelah itu saya terus mencoba berinovasi. Proses demi proses saya lakukan, sampai tahun 2010 saya baru menemukan pemilahan hasil. Saat itu satu unit mesin bisa mengeluarkan solar, minyak tanah, dan bensin. Tapi, semua butuh penambahan oktan boster,” ucapnya anak ketiga dari empat bersaudara itu.

Kini, meskipun destilator ciptaannya banyak dibeli orang, hal itu tidak membuat Muryani memilih hengkang dari pasukan kuning. Sehari-hari ia tetap menjalani pekerjaannya itu, memilah dan memproses sampah. Ia juga tidak berencana mendirikan perusahaan alat destilasi sendiri.

Begitu pula dengan uang penjualan destilator, tidak masuk ke saku kantongnya. Uang itu digunakan untuk gaji petugas kebersihan yang berjumlah tujuh orang, serta masuk dana kas dan biaya operasional bank sampah. Semua yang dilakukannya semata-mata untuk mengurangi sampah plastik yang semakin banyak. Muryani tak pernah memikirkan keuntungan untuk dirinya sendiri.

”Penjualan sampah plastik bekas laku murah dan produk yang dihasilkan akan kembali mengotori lingkungan. Mungkin meniru orangtua saya yang peduli lingkungan. Pengetahuan saya soal IPA jika tidak seiring dengan Ilmu Pengetahuan Sosial, maka yang saya lakukan tidak akan berjalan sempurna,” tuturnya.

Apa yang dilakukan Muryani juga mempunyai andil terhadap dunia pendidikan. Lokasi bank sampah menjadi tempat edukasi. Sejumlah mahasiswa dari beberapa kota di Jawa Timur menjadikan model penanganan sampah di tempat itu menjadi bahan penelitian.

Tidak mengherankan jika lelaki yang berencana terus berinovasi mengembangkan ciptaannya itu menerima sejumlah penghargaan, mulai dari pemerintah kabupaten hingga Provinsi Jawa Timur. Pihak kementerian terkait juga berkunjung ke bank sampah tempatnya bekerja dan memberikan apresiasi.

Muryani
Lahir: Blitar 11 November 1959
Istri: Sutriami (alm)

Anak:
– Diding Rulianto
– Didik Hermansyah
– Pipit Ernawati
– Anton

Pendidikan:
– SDN Slorok, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar
– SMP PGRI Wlingi (hanya kelas 1)
Penghargaan, antara lain:
– Juara I Lomba Kreativitas dan Teknologi Kabupaten Blitar (2017)
– Terbaik II bidang Energi Inovasi Teknologi Tingkat Provinsi Jawa Timur (2017)
– Pelestari fungsi lingkungan hidup dari Bupati Blitar (2018)
– Pionir pengolahan sampah menjadi bahan bakar dari Kapolres Blitar (2019)

DEFRI WERDIONO

Sumber: Kompas, 28 Juni 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan
Pemuda Jombang ini Jelajahi Tiga Negara Berbeda untuk Menimba Ilmu
Mochammad Masrikhan, Lulusan Terbaik SMK Swasta di Jombang yang Kini Kuliah di Australia
Usai Lulus Kedokteran UI, Pemuda Jombang ini Pasang Target Selesai S2 di UCL dalam Setahun
Di Usia 25 Tahun, Wiwit Nurhidayah Menyandang 4 Gelar Akademik
Cerita Sasha Mahasiswa Baru Fakultas Kedokteran Unair, Pernah Gagal 15 Kali Tes
Sosok Amadeo Yesa, Peraih Nilai UTBK 2023 Tertinggi se-Indonesia yang Masuk ITS
Profil Koesnadi Hardjasoemantri, Rektor UGM Semasa Ganjar Pranowo Masih Kuliah
Berita ini 11 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 13 November 2023 - 13:59 WIB

Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan

Kamis, 28 September 2023 - 15:05 WIB

Pemuda Jombang ini Jelajahi Tiga Negara Berbeda untuk Menimba Ilmu

Kamis, 28 September 2023 - 15:00 WIB

Mochammad Masrikhan, Lulusan Terbaik SMK Swasta di Jombang yang Kini Kuliah di Australia

Kamis, 28 September 2023 - 14:54 WIB

Usai Lulus Kedokteran UI, Pemuda Jombang ini Pasang Target Selesai S2 di UCL dalam Setahun

Minggu, 20 Agustus 2023 - 09:43 WIB

Di Usia 25 Tahun, Wiwit Nurhidayah Menyandang 4 Gelar Akademik

Minggu, 20 Agustus 2023 - 09:20 WIB

Cerita Sasha Mahasiswa Baru Fakultas Kedokteran Unair, Pernah Gagal 15 Kali Tes

Minggu, 20 Agustus 2023 - 09:15 WIB

Sosok Amadeo Yesa, Peraih Nilai UTBK 2023 Tertinggi se-Indonesia yang Masuk ITS

Sabtu, 12 Agustus 2023 - 07:42 WIB

Profil Koesnadi Hardjasoemantri, Rektor UGM Semasa Ganjar Pranowo Masih Kuliah

Berita Terbaru

US-POLITICS-TRUMP

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB