Home / Berita / Menuju Akhir Zaman

Menuju Akhir Zaman

November 1992, tepat 25 tahun lalu, lebih dari 1.700 ilmuwan terkemuka dunia, termasuk sebagian besar peraih Nobel yang tergabung dalam Union of Concerned Scientist, mengeluarkan seruan bersama untuk mengetuk kemanusiaan penduduk Bumi. Seruan itu berisi peringatan tentang ancaman kehancuran planet ini yang mendekat.

Dalam manifesto itu, mereka menunjukkan, kehancuran Bumi itu disebabkan ulah manusia yang mengeksploitasi alam di luar batas kemampuannya. Mereka mengungkapkan kekhawatiran tentang kerusakan yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi di masa depan di planet ini, akibat penipisan ozon, menciutnya ketersediaan air tawar, munculnya zona mati di laut (ocean dead zone), kehilangan hutan, kerusakan biodiversitas, perubahan iklim, dan pertumbuhan populasi manusia yang terus berlanjut.

Disebutkan, “… dibutuhkan langkah radikal untuk menjaga Bumi dan kehidupan di dalamnya, jika kita ingin menghindarkannya dari tragedi besar.”

Meski demikian, seruan ini sepertinya menuju jalan buntu. Kualitas lingkungan hidup di Bumi terus merosot, nyaris di semua lini yang dikhawatirkan para ilmuwan itu.

Untuk mengingatkan 25 tahun seruan itu, 15.364 ilmuwan dari 184 negara kembali mengeluarkan peringatan kedua. Peringatan itu ditulis dalam jurnal BioScience edisi pertengahan November tahun ini untuk kembali menggedor kesadaran kita. Namun, peringatan ini relatif sepi perhatian, terutama di Indonesia.

Melewati batas
Dalam seruan kedua yang diprakarsai ekolog dari Oregon State University, William Ripple. ini disebutkan, sebentar lagi kita sampai pada titik akhir di mana laju kehancuran Bumi tak bisa lagi dicegah. Perubahan iklim jadi kekhawatiran utama. Rata-rata emisi karbon dioksida meningkat sampai 62 persen sejak 1992 sehingga laju kenaikan suhu atmosfer dan lautan susah direm.

“Anomali suhu Bumi meningkat, yang tadinya kurang dari 0,5 derajat celsius tahun 1992, pada 2016 mendekati 1 derajat celsius,” kata Widodo Setiyo Pranowo, Kepala Laboratorium Data Laut dan Pesisir Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Namun, memburuknya perubahan iklim ini hanya satu masalah yang dikhawatirkan. Akses terhadap air bersih menurun, seiring menyusutnya luasan hutan. Berdasarkan data PBB, satu dari seperenam penduduk di Bumi saat ini kekurangan air bersih. Sementara penyusutan luas hutan secara global, menurut Badan Pangan Dunia (FAO) tahun 2015, mencapai 129 juta hektar atau seluas Afrika Selatan sejak 1990-an.

Kehancuran juga terjadi di lautan yang mendominasi luasan permukaan Bumi. Zona laut mati, istilah untuk menunjukkan menyusutnya kandungan oksigen (hypoxia) di lautan yang menyebabkan kematian massal dan migrasi ikan di zona itu, meluas. Zona laut mati yang kerap jadi contoh adalah Teluk Meksiko dan mulai terjadi di banyak perairan lain di dunia, termasuk Indonesia. Situasi perairan laut kian kritis menyusul sejumlah riset terbaru yang menunjukkan meluasnya pencemaran mikro plastik dan aneka jenis logam berat.

Di tengah penurunan daya dukung lingkungan ini, populasi manusia terus membengkak, bahkan kini hampir mencapai 7 miliar jiwa. Menurut kajian Roser dan Ospina (2017), antara tahun 1900 hingga 2000, pertambahan penduduk dunia mencapai tiga kali lipat dibandingkan dengan sepanjang sejarah keberadaan manusia. Populasi penduduk dunia meningkat dari 1,5 miliar menjadi 6,1 miliar jiwa hanya dalam satu abad.

Pada saat bersamaan, seluruh populasi fauna menurun, bahkan sebagian telah punah. Riset Rodolfo Dirzo yang terbit dalam jurnal Science, pada Desember 2014, menyebut, 322 spesies hewan bertulang belakang (vertebrata) punah sejak 1500, dan yang tersisa menurun populasinya sampai 25 persen. Hewan tak bertulang belakang (invertebrata) sama soalnya: dari 67 persen jenis yang dipantau, 45 persen di antaranya anjlok populasinya.

Satu-satunya kabar baik di antara sederet kegagalan mengantisipasi seruan para ilmuwan sejak 25 tahun lalu ialah menciutnya lubang ozon yang jadi pelindung planet ini. Menurut Ripple, lubang ozon kini menciut sampai ukuran terkecil sejak 1998. Para ilmuwan ini menilai, penciutan lubang ozon itu karena penghentian penggunaan klorofluorokarbon, bahan kimia yang pernah digunakan di kulkas dan pendingin udara. “Cepatnya penurunan lubang ozon secara global ini menunjukkan kita masih bisa bertindak positif,” kata Riplle.

Seperti diingatkan Ripple, nasib Bumi masa depan tergantung pada tindakan kita saat ini. Para ilmuwan menemukan bukti-bukti kuat bahwa Bumi pernah mengalami pemusnahan massal setidaknya lima kali. Terakhir, pemusnahan massal terjadi 66 juta tahun lalu akibat jatuhnya meteor raksasa ke Bumi. Periode ini dikenal sebagai kepunahan Cretaceous yang mengakhiri zaman dinosaurus. Beda dengan sebelumnya, pemusnahan massal di Bumi kali ini berpeluang disebabkan ulah manusia.

Sumber: Kompas, 22 November 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: