Bumi Menuju Pemusnahan Massal Keenam

- Editor

Selasa, 8 Oktober 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Para ilmuwan telah mengidentifikasi, bumi setidaknya pernah lima kali mengalami pemusnahan massal. Terakhir, pemusnahan massal terjadi 66 juta tahun lalu akibat tumbukan meteor besar ke bumi.

Manusia telah merusak siklus karbon di Bumi, melebihi kehancuran akibat jatuhnya asterod 66 juta tahun lalu yang memunahkan 75 persen kehidupan di Bumi, termasuk dinosaurus. Penelitian terbaru menunjukkan, kehancuran akibat melonjaknya emisi karbon yang dipicu ulah manusia sejak tahun 1750 juga mengarah pada kepunahan massal kehidupan.

Kepunahan massal ini terutama dari dampak langsung emisi karbon terhadap terjadinya perubahan iklim dan pengasaman lautan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

KOMPAS/ HERU SRI KUMORO–Lahan gambut yang sebagian ditanami sawit di Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau, terbakar, Kamis (19/9/2019). Kebakaran di lahan gambut tersebut susah dipadamkan. Asap dari kebakaran ini menyebar ke sejumlah daerah, seperti ke Pekanbaru dan daerah di sekitarnya. Selain mengganggu kesehatan, asap kebakaran hutan ini juga menggelontorkan emisi karbon ke atmosfer.

Kesimpulan ini berasal dari serangkaian paper ilmiah yang diterbitkan di jurnal Elements pada Selasa (1/10/2019) dan dirilis Livescience pada hari yang sama. Kajian ditulis oleh tim peneliti dari Deep Carbon Observatory (DCO), sebuah kumpulan global lebih dari 1.000 ilmuwan yang mempelajari pergerakan karbon dari inti planet kita hingga ke ruang angkasa.

Dalam edisi khusus jurnal tersebut, para ilmuwan DCO mencermati proses terjadinya ”gangguan” terhadap siklus karbon di Bumi selama 500 juta tahun terakhir. Gas karbon, dalam bentuk karbon dioksida dan karbon monoksida, secara alami dipompa dari inti Bumi ke atmosfer oleh gunung berapi dan rekahan bawah tanah.

KOMPAS/ANGGER PUTRANTO–Warga menyaksikan Agung yang sedang meletus, Selasa (28/9/2017).

Dalam kondisi normal, emisi karbon akan diserap ke interior planet pada batas lempeng tektonik. Keseimbangan ini membuat iklim yang ramah, baik di darat dan laut yang menjadi fondasi bagi keanekaragaman hayati planet kita.

Namun, terkadang terjadi peristiwa dahsyat yang mengganggu keseimbangan ini dan membuat langit dibanjiri gas rumah kaca karbon dioksida (CO2). Gangguan ini menyebabkan iklim planet tidak ramah selama ratusan tahun, bahkan bisa mengakibatkan kepunahan massal.

Dalam makalah ini, para peneliti mengidentifikasi beberapa gangguan besar terhadap siklus karbon yang pernah terjadi di Bumi. Di antaranya, letusan gunung berapi raksasa dan tabrakan asteroid yang memusnahkan dinosaurus sekitar 66 juta tahun yang lalu.

KOMPAS/ARBAIN RAMBEY–Puncak Anak Krakatau dengan latar depan pesawat replika Garuda Indonesia Seulawah (pesawat pertama Garuda Indonesia), difoto 31 Desember 1996 dari pesawat Tobago.

Dengan mempelajari peristiwa-peristiwa yang mengganggu siklus karbon ini, para penulis bisa memproyeksikan skala bencana akibat melonjaknya gas rumah kaca akibat ulah manusia sejak Revolusi Industri.

”Hari ini, emisi karbon yang dihasilkan secara antropogenik, terutama dari pembakaran bahan bakar fosil yang terbentuk selama jutaan tahun, berkontribusi terhadap gangguan besar pada siklus karbon,” tulis para peneliti dalam pengantar mereka untuk masalah ini.

Para peneliti ini menghitung, jumlah total CO2 yang dilepaskan ke atmosfer setiap tahun oleh pembakaran bahan bakar fosil telah melebihi jumlah kumulatif karbon yang dilepaskan oleh setiap gunung berapi di Bumi. Jumlahnya mencapai 80 kali lipat.

KOMPAS/ WAWAN H PRABOWO–Kendaraan terjebak kemacetan dari arah Senayan menuju Semanggi di Jalan Gerbang Pemuda, Senayan, Jakarta, Kamis (15/6). Selain pemborosan energi, kemacetan juga menjadi salah satu penyumbang utama polusi udara di Ibu Kota.

Menurut mereka, krisis iklim kita saat ini sudah setara dengan bencana yang disebabkan saat asteroid selebar 10 kilometer jatuh di Teluk Meksiko 66 juta tahun yang lalu. Bencana kala itu menyebabkan kepunahan 75 persen kehidupan di Bumi, termasuk semua dinosaurus non-unggas.

Ketika asteroid itu menabrak Bumi dengan miliaran kali energi bom atom, gelombang kejut dari ledakan itu memicu gempa bumi, letusan gunung berapi, dan kebakaran hutan. Kombinasi itu mengeluarkan sebanyak 1.400 gigaton (1.400 miliar ton) karbon dioksida ke atmosfer.

Efek rumah kaca yang dihasilkan dari emisi mendadak saat itu, telah menghangatkan planet ini dan mengasamkan lautan selama ratusan tahun. Hal itulah yang berkontribusi pada kematian massal tanaman dan hewan yang dikenal sebagai kepunahan Cretaceous-Paleogene.

Antroposen
Para peneliti ini juga menghitung, emisi COX yang dipicu tumbukan meteor saat itu masih lebih rendah dibandingkan emisi yang telah dikeluarkan manusia sejak 1750. Total emisi yang dikeluarkan sejak saat itu hingga kini berjumlah sekitar 2.000 gigaton CO2.

Berbeda dengan pelepasan emisi tiba-tiba saat meteor jatuh, emisi karbon saat ini secara progresid terjadi selama bertahun-tahun. Dampak perubahan iklim akibat penambahan emisi saat ini pun terjadi secara perlahan, namun jelas indikasinya ada peningkatan setiap tahun.

Kajian menekankan bahwa kecepatan dan skala manusia mengganggu keseimbangan karbon planet ini telah sebanding dengan beberapa peristiwa geologis yang paling dahsyat dalam sejarah.

”Perubahan iklim saat ini akan meninggalkan warisan berupa kepunahan massal kehidupan di Bumi akibat rusaknya habitat. Perubahan iklim yang disebabkan oleh gas rumah kaca pada biosfer sudah berada pada titik kritis,” sebut para peneliti ini.

Kajian ini meneguhkan peringatan para peneliti lain sebelumnya, di antaranya Rodolfo Dirzo dalam jurnal Science (2014). Dalam kajiannya itu, Dirzo menyebutkan, 322 spesies hewan bertulang belakang (vertebrata) punah sejak tahun 1500 dan yang tersisa menurun populasinya hingga 25 persen. Hewan tak bertulang belakang (invertebrata) sama saja: dari 67 persen jenis yang diketahui, 45 persen anjlok populasinya.

Situasi ini, menurut Dirzo, akan ”membawa pemusnahan massal keenam kalinya di Bumi”. Para ilmuwan telah mengidentifikasi, Bumi setidaknya pernah lima kali mengalami pemusnahan massal. Terakhir, pemusnahan massal terjadi 66 juta tahun lalu akibat tumbukan meteor besar ke Bumi. Pemusnahan massal ke depan disebabkan oleh faktor manusia: disebut babak Antroposen.

Oleh AHMAD ARIF

Editor YOVITA ARIKA

Sumber: Kompas, 7 Oktober 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 13 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB