Home / Berita / Menjelang 91 Tahun Munculnya Anak Krakatau

Menjelang 91 Tahun Munculnya Anak Krakatau

Anak Krakatau akan berusia 91 tahun. Pada 28 Januari 1928, Anak Krakatau muncul pertama kalinya di permukaan laut. Kelahirannya ditandai muntahan material vulkanik di bawah permukaan laut di barat daya ”Kaldera 1883”, sebutan lubang kaldera Krakatau yang meletus pada 1883.

Material itu terus menumpuk. Pertumbuhan gunung api itu 4,25 meter per tahun. Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menunjukkan tinggi Anak Krakatau dari permukaan laut pada 1992 mencapai 199 meter dan pada 2018 telah mencapai 338 meter.

Hery Harjono, ahli geofisika doktor lulusan Universite de Paris Sud, menilai gunung itu superaktif. Aktivitas Anak Krakatau termaktub dalam disertasinya. ”Pertumbuhan Anak Krakatau ke barat daya amat cepat, sebanding aktivitasnya,” ujarnya. Aktivitasnya terdeteksi pada dua reservoir bawah Krakatau. Di kedalaman 22 kilometer, ada reservoir besar. Reservoir kedua berupa kantong-kantong magma lebih kecil dengan kedalaman 10 kilometer.

KOMPAS/ARBAIN RAMBEY–Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, dalam beberapa hari terakhir menyemburkan material vulkanik berupa pasir dan bebatuan pijar rata-rata setiap 15 menit. Foto diambil Rabu 22 Agustus 2018, dinihari dari Pulau Rakata.

Riset itu dilakukan Hery saat menjadi peneliti di Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama tim peneliti dari Perancis, di antaranya Christine Deplus dari Institute de Physique du Globe de Paris (IPG) Paris, pada 1995. ”Hasil riset dikonfirmasi peneliti dari Jerman, Rusia, dan Swedia tahun 2011,” kata Hery yang kini menjadi Manajer Proyek Integrated Airborne Geophysical Survey di Timor Leste.

Bagaimana perbandingan tinggi Anak Krakatau dengan Krakatau yang meletus pada 1883? Dua tahun sebelum Krakatau meletus, Rogier Diederik Marius Verbeek, geolog asal Belanda, meneliti Krakatau. Dalam bukunya, Krakatau (1884), Verbeek menjelaskan, Krakatau ialah rangkaian gunung api, yakni Rakata setinggi 800 meter di selatan, di tengah ada Gunung Danan (456 meter), dan utara Gunung Perbuatan (120 meter). Tiap gunung membentuk pulau sepanjang 11 kilometer disebut Pulau Krakatau.

Saat terjadi letusan, 27 Agustus 1883, Gunung Danan dan Perbuatan hancur. Rakata tersisa sebagian kecil di utaranya. Sebelum letusan utama ini didahului beberapa letusan sejak 20 Mei 1883. Ukuran Krakatau itu jauh lebih besar dibandingkan Krakatau Purba. Diameter kalderanya setelah letusan lebih dari 11 kilometer. Nenek moyang Krakatau itu, dikemukakan Berend George Escher, ahli geologi Belanda, pada 1919 tersusun batuan andesitik.

Saat Krakatau Purba meletus tahun 400-500, tersisa tiga tepian kawah atau kaldera di permukaan. Bagian kawah itu menjadi tiga pulau kecil, yakni Sertung, Rakata Kecil, dan Rakata. Peneliti dari Badan Geologi, Adjat Sudrajat, melengkapi riset itu pada 1981. Setelah munculnya Rakata, Danan, dan Perbuatan, yang meletus pada 1883, Anak Krakatau muncul pada 1927 di lingkaran kaldera Purba, zona perairan antartiga pulau itu.

KOMPAS/HELENA F NABABAN–Kendati status Anak Gunung Krakatau di Selat Sunda sudah turun menjadi waspada, gunung berapi itu tetap aktif mengeluarkan asap tebal, Minggu (3/8). Asap keluar setiap 5-15 menit sekali tanpa disertai gempa atau tremor. Namun demikian, nelayan tetap diimbau untuk tidak mendekati gunung berapi tersebut dalam radius satu sampai dua kilometer.

Dampak erupsi
Ketika tiga gunung di Pulau Krakatau meletus, dampaknya amat dahsyat. Seperti dilaporkan Neumann van Padang, akibat hancurnya tiga perempat bagian pulau seluas 28,5 kilometer persegi itu, material yang terjun ke laut mengakibatkan gelombang setinggi 20 meter, menyapu bersih pantai barat Laut Jawa, hingga menewaskan 36.417 orang.

Kini tsunami merusak di Selat Sunda setelah letusan 135 tahun silam. Menurut Hery, sisi barat daya Anak Krakatau lebih curam dibandingkan sisi lain dan kerap erupsi sehingga banyak digelontor material baru yang memicu tsunami jika longsor.

Material vulkanik diendapkan di sekitar Anak Krakatau dengan usia batuan kurang dari 100 tahun. Materi batuan itu belum terkompaksi sempurna, apalagi material vulkanik membawa silika. Area barat daya Anak Krakatau diperkirakan kerap terjadi tsunami kecil akibat longsoran lereng. Karena gelombangnya kecil, penduduk tak sadar itu bukan gelombang biasa.

Laporan riset Camus dan Sigurdsson yang dipublikasikan tahun 1987 dan 1991 menyebut tsunami terjadi pada 1981 di area itu. Menurut PVMBG, letusan besar terjadi pada 1960, 1963, 1972-1973, 1983, dan 1992. Tsunami 2012 pernah dilaporkan.

Eko Yulianto, pakar paleotsunami dari LIPI, meneliti endapan Krakatau akibat letusan tsunami 1883 dan menemukan endapan tsunami Krakatau di Teluk Lampung, Teluk Semangko, dan Pantai Anyer. Endapan batu koral besar ada di Tarahan dan Anyer serta perulangan lapisan pasir laut dan abu letusan gunung tersebut.

Pada 2016, Eko dan timnya meneliti endapan tsunami akibat letusan Krakatau tahun 535 yang tertulis di Babat Pustaka Raja tahun 416 Saka. Dengan potensi tsunami yang terus mengancam, alat pemantau tsunami mendesak segera dipasang.–YUNI IKAWATI

Sumber: Kompas, 27 Desember 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Covid-19 Menurunkan Emisi Karbon Global

Pandemi Covid-19 telah memangkas lebih dari delapan persen emisi karbon global, Berkurangnya emisi ini terjadi ...

%d blogger menyukai ini: