Home / Berita / Anak Krakatau Masih Bisa Memicu Tsunami

Anak Krakatau Masih Bisa Memicu Tsunami

Aktivitas Gunung Anak Krakatau dikhawatirkan masih bisa memicu tsunami lagi. Untuk itu, perlu pemantauan secara intensif dan kewaspadaan masyarakat yang tinggal di pesisir Banten dan Lampung.

“Ada sepuluh mekanisme erupsi volkanik yang bisa membangkitkan tsunami. Jadi, ke depan masih ada potensi tsunami yang harus diwaspadai,” kata Ketua Ikatan Ahli Tsunami Indonesia Gegar Prasetya, di Jakarta, Kamis (3/1/2019).

Menurut Gegar, dari sepuluh mekanisme ini, terdapat lima mekanisme yang dominan, salah satunya flank collapse atau runtuhnya lereng gunung yang memicu tsunami pada 22 Desember 2018. Mekanisme lainnya adalah submarine explosion (letusan di bawah laut) dan caldera collapse (runtuhnya kaldera),pyroclastic flow (aliran awan panas), dan debris avalanche (longsoran).

“Berdasarkan saksi mata, pada 22 Desember lalu jelas sekali terjadi erupsi besar di samping punggung Anak Krakatau yang disebut sebagai lateral blast. Erupsi inidisertai runtuhnya sebagian tubuh Anak Krakatau atau flank collapse,” kata Gegar menegaskan.

Saat ini masih ada dua mekanisme tersisa yang berpotensi menimbulkan tsunami, yaitu submarine explosion dan caldera collapse. “Potensi material masih ada untuk timbulkan tsunami, apalagi Anak Krakatau masih aktif dan membangun tubuhnya lagi,” ujarnya.

Menurut dia, pemasangan alat pemantau muka air laut dapat di pasang di tiga pulau di sekitar Anak Krakatau, yaitu Sertung, Rakata dan Panjang menjadi penting. “Ini bisa memberikan peringatan dan waktu bagi masyarakat untuk evakuasi sekitar 20 menit,” ucap Gegar.

ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN–Erupsi Gunung Anak Krakatau terlihat dari KRI Torani 860 saat berlayar di Selat Sunda, Lampung, Selasa (1/1/2019). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyatakan Gunung Anak Krakatau masih berada di level III (Siaga).

Terus berubah
Peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Agustan mengatakan, berdasarkan citra satelit Gunung Anak Krakatau terus berubah. “Citra satelit Kamis pagi menunjukkan bagian tubuh gunung yang sebelumnya hilang sudah mulai pulih lagi. Kemungkinan material dari dalam terus keluar untuk kembali membangun dirinya,” ungkapnya.

Data satelit ini perlu diperjelas dengan survei dengan pesawat. “Tadi pagi rencana ada survei PVMBG bersama TNI, namun karena cuaca burukbatal. Jadi belum ada data pembanding. Tetapi, dari satelit memang terlihat Gunung Anak Krakatau sedang aktif erupsi lagi,” kata Agustan.

Data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, erupsi Gunung Anak Krakatau tercatat pada Kamis pukul 12.03 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 1600 meter di atas puncak atau 1.170 meter dari permukaan laut. Erupsi itu terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 31 milimeter dan durasi satu menit. Hingga saat ini, status gunung itu masih Siaga dengan rekomendasi masyarakat tidak boleh mendekati kawah dalam radius 5 kilometer dari kawah.

Sekretaris Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) Radmono Purbomengatakan, letusan Anak Krakatau kali ini masih lebih kecil dibandingkan letusan pada tanggal 26-27 Desember 2018. “Letusan saat itu kolom abunya sampai 2.500 meter,” katanya.

Letusan Anak Krakatau pada tangal 26-27 Desember saat itu bahkan lebih besar dibandingkan tanggal 22 Desember. “Letusan tanggal 26-27 Desember sebenarnya yang memicu lateral blast dan longsor ke laut, tetapi kenapa tidak terjadi tsunami saat itu?” ucapnya.

Hingga saat ini, lanjut Radmono, belum sepakat bahwa tsunami 22 Desember dipicu erupsi Anak Krakatau. Badan Geologi juga meyakini bahwa ancaman tsunami Anak Krakatau ke depan sangat kecil. Terkait perubahan bentuk Anak Krakatau saat ini, Radmono mengatakan, “Saat ini Anak Krakatau masuk fase erupsi. Jadi pasti kawahnya akan muncul kembali dipermukaan,” katanya.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 4 Januari 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: