Home / Berita / Pelajaran Mahal dari Anak Krakatau

Pelajaran Mahal dari Anak Krakatau

Hingga sebelum bencana melanda Selat Sunda pada Sabtu (22/12/2018) lalu, ancaman tsunami dari Gunung Anak Krakatau cenderung diremehkan karena volume gunungnya dianggap masih kecil. Namun, longsoran sebagian tubuh gunung ini ke laut dengan volume relatif kecil, ternyata membangkitkan tsunami yang menghancurkan pesisir Selat Sunda.

Sebanyak 437 orang meninggal dunia akibat bencana ini. Selain korban meninggal, tercatat 16 orang hilang, 14.059 orang luka-luka, dan 33.721 mengungsi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana juga mencatat, rumah rusak 2.752 unit, penginapan dan warung 92 unit, perahu dan kapal 510 unit, dan kendaraan 147 unit.

KOMPAS/AHMAD ARIF–Kawah Gunung Anak Krakatau kembali muncul di atas daratan, Minggu (13/1/2019). Ini menandai evolusi baru gunung ini setelah erupsi dan longsornya sebagian tubuhnya sehingga memicu tsunami pada 22 Desember 2018. Anak Krakatau memulai kembali siklus membangun tubuh gunungnya. KOMPAS/AHMAD ARIF

Dibandingkan tsunami dahsyat saat Gunung Krakatau meledak pada 27 Agustus 1883, jumlah korban pada 2018 memang relatif kecil. Tsunami yang disebabkan letusan Gunung Krakatau 146 tahun lalu itu, menewaskan lebih dari 36.417 jiwa dan tercatat sebagai tsunami vulkanik terhebat dalam sejarah modern.

Setelah letusan dahsyat itu, Gunung Krakatau menghilang dari Selat Sunda. Namun, pada 29 Desember 1927, di bekas kaldera Krakatau muncul gunung baru, yang kemudian dinamakan Anak Krakatau. Gunung ini tumbuh cepat dan sebelum tsunami 22 Desember 2018, ketinggiannya mencapai 340 mdpl.

Riwayat letusan dan cepatnya pertumbuhan Anak Krakatau ini membuat sejumlah ilmuwan mengkaji risikonya. Tahun 2012, peneliti dari Perancis, T Gichetti, R Paris, dan K Kelfoun, bersama Budianto Ontowirjo, yang saat itu bekerja di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), memublikasikan kajian di jurnal Geological Society, London.

Kajian itu memperingatkan, Anak Krakatau bisa memicu tsunami. ”Salah satu bahaya utama Anak Krakatau adalah tsunami akibat runtuhnya lereng (flank collapse) karena anak gunung ini tumbuh di lereng terjal kaldera yang terbentuk setelah letusan tahun 1883,” demikian artikel ini memaparkan. Para peneliti ini bahkan telah memodelkan ketinggian gelombang dan waktu tibanya tsunami di pesisir Banten dan Lampung. Jika 0,28 kilometer kubik bagian tubuh Anak Krakatau longsor ke arah barat daya, akan terpicu tsunami.

Namun, kajian ini tak pernah menjadi dasar mitigasi tsunami di Indonesia. Hingga sebelum 22 Desember 2018, sistem peringatan dini tsunami Indonesia (InaTEWS) hanya didesain untuk mengantisipasi gempa besar di laut. Tsunami vulkanik dari gunung api, termasuk juga Anak Krakatau, sama sekali tak dipantau.

AFP/RONALD–Warga melihat bangunan yang hancur akibat terjangan tsunami Selat Sunda di Kawasan Carita, Banten, Minggu (23/12/2018). Tsunami itu terjadi karena letusan Gunung Anak Krakatau pada Sabtu (22/12/2018) malam. Sedikitnya 168 orang tewas dalam peristiwa itu

Bahaya longsoran
Kajian ilmiah terbaru menunjukkan, besarnya korban bencana Selat Sunda karena kita meremehkan ancaman tsunami dari gunung api. Tak hanya dari letusannya, tsunami gunung api juga bisa dipicu oleh longsoran.

Kajian Rebecca Williams dari Hull University, Inggris dan tim di jurnal Geology edisi Agustus 2019 menyebutkan, volume material Gunung Anak Krakatau yang jatuh ke laut sebenarnya relatif kecil, tetapi gelombang yang ditimbulkannya ternyata cukup besar. Kajian ini dilakukan dengan mengkaji foto-foto citra satelit yang diambil sebelum, pada saat dan setelah tsunami 22 Desember 2018 lalu.

Salah satu foto terpenting yang dianalisis didapatkan dari satelit Sentinel-1a milik Uni Eropa yang melewati bagian atas Anak Krakatau delapan jam setelah lereng bagian barat longsor ke laut, dan sebelum puncak gunung tersebut ambruk. Williams menghitung, volume tubuh gunung yang jatuh ke laut dan memicu tsunami diperkirakan sekitar 0,1 kilometer kubik.

Volume longsoran ini sebenarnya hanya sepertiga dari perhitungan Gichetti dkk pada 2012. Namun, tinggi tsunami dan sebarannya ternyata hampir sama dengan yang diperkirakan Gichetti. Ini berarti bahwa, kekuatan tsunami akibat longsoran gunung api di laut bisa lebih besar dari perhitungan normal.

Kemungkinan lain, seperti analisis Ketua Ikatan Ahli Tsunami Indonesia (IATsI) Gegar Prasetya yang dipresentasikan dalam forum American Geophysical Union (AGU) di Amerika pada April 2019 lalu, jatuhnya jatuhnya material Anak Krakatau disertai dorongan kuat akibat letusan menyamping (lateral blast).

MUHAMMAD RAYHAN–Puncak Gunung Anak Krakatau yang dipotret Koordinator Kegiatan Himpunan Astronomi Amatir Jakarta Muhammad Rayhan, dari Pondok Club Bahari, Anyer, Banten Sabtu (22/12/2018) sekitar pukul 19.00-19.30 WIB. Selanjutnya pada pukul 21.03 WIB terjadi longsor lereng Anak Krakatau yang diduga memicu tsunami di pantai barat Banten dan selatan Lampung.–MUHAMMAD RAYHAN–22-12-2018

“Analisis kami yang didasarkan pada kesaksian nelayan yang berada di sekitar Anak Krakatau saat kejadian, terjadi lateral blast dulu sebelum tsunami. Kesimpulan ini memang agak berbeda dengan kajian Grilli maupun Williams yang hanya didasarkan dari analisis citra satelit dan pemodelan,” kata Gegar.

Sementara itu, kajian yang dilakukan oleh Stephan T. Grilli dari University of Rhode Island, Amerika dan tim yang dipublikasikan di jurnal Nature juga pada Agustus 2019 lalu menyebut, volume material yang longsor ke laut mencapai 0,22–0,3 kilometer kubik atau lebih mendekati perkiraan Gichetti. “Karena mekanisme keruntuhan aktual tidak diketahui, untuk setiap volume keruntuhan, simulasi dilakukan dengan asumsi dua reologi alternatif (bahan granular dan cairan kental padat),” sebut publikasi ini.

Meski masih ada perbedaan penyebab longsor yang memicu tsunami Anak Krakatau, namun menurut Guru Besar Teknik Kelautan Institut Teknologi Bandung, Muslim Muin, satu-satunya orang Indonesia, yang terlibat dalam publikasi Grilli di Nature, analisis terbaru ini memberi pelajaran bahwa selama ini kita cenderung meremehkan bahaya tsunami yang bersumber longsoran.

“Tak hanya di Anak Krakatau, tsunami di Teluk Palu juga dipicu oleh longsor bawah laut. Jika Anak Krakatau longsor dipicu aktivitas vulkanik, di Teluk Palu longsor akibat gempa bumi,” kata Muslim.

Sumber tsunami akibat longsor, baik karena aktivitas vulkanik maupun gempa bumi ini harus dipetakan dan dimitigasi. “Mitigasi tsuami tidak boleh hanya didasarkan pada gempa bumi besar saja,” katanya.

Kajian Gegar menunjukkan, Indonesia memiliki 18 gunung api bawah laut yang letusannya berpotensi memicu tsunami. Selain Krakatau, letusan Tambora di Sumbawa pada 1815 dan letusan Gunung Banda Api di Maluku berulangkali memicu tsunami. Beberapa gunung api yang diduga kuat pernah menyebabkan tsunami di masa lalu, di antaranya, adalah Rokatinda di Pulau Flores saat meletus tahun 1928, Ruang pada 1889, Awu pada 1856 dan 1892, Gamkonora pada 1673, dan Gamalama pada 1871.

Gunung Api Makian di Halmahera, Karangetan di Sangihe, dan Una-Una di Teluk Tomini juga diduga kuat pernah menyebabkan tsunami. Selain itu, gu-nung api bawah laut di sekitar Pulau Weh juga pernah mengirim tsunami hingga ke Banda Aceh.

Sementara tsunami akibat longsoran bawah laut setelah gempa, diduga juga pernah terjadi saat gempa M 7,2 di Flores 1992 dan gempa M 6,8 di Pangandaran pada 2006. Tsunami hingga 80 meter yang dicatat Rumphius di Ambon dan Seram pada 17 Februari 1674, juga sangat tinggi karena adanya longsoran bawah laut setelah gempa.

Longsoran di bawah laut, baik karena gempa bumi maupun tsunami, terbukti bisa memberikan tambahan energi dan mengamplifikasi kekuatan tsunami menjadi lebih dahsyat lagi. Kombinasi gempa, gunung api, dan logsor bawah laut itu memiliki riwayat panjang di Indonesia.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 5 September 2019

Share
x

Check Also

NASA Luncurkan Wahana Pencari Tanda Kehidupan di Mars

Mars kini menjadi tujuan eksplorasi sejumlah negara dalam beberapa waktu terakhir. Setelah UEA dan China, ...

%d blogger menyukai ini: