Meningoensefalitis; Sulit Menular, tetapi Mematikan

- Editor

Kamis, 2 April 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penyakit meningitis atau radang pada selaput otak menjadi bahan pembicaraan publik, termasuk media massa, dalam sepekan terakhir. Ini lantaran berpulangnya Olga Syahputra, Jumat (27/3), disertai kabar salah satu presenter kondang televisi itu sebelumnya menderita meningitis. Namun, meningitis hanya satu bagian dari radang terkait otak. Ada pula radang otak, dengan nama ensefalitis.

Sangat jarang orang hanya menderita meningitis, karena posisi selaput dengan otak sangat dekat,” ujar Mursyid Bustami, Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Selasa (31/3), di Jakarta. Karena itu, sebutan yang lebih tepat adalah meningoensefalitis.

Meningoensefalitis terbentuk dari tiga kata bahasa Yunani: menix (membran atau selaput), enkephalos (otak), dan akhiran itis yang dalam bahasa medis berarti radang. Jika dipisahkan, meningitis berarti radang pada selaput otak dan ensefalitis adalah radang pada organ otak. Penyebabnya beragam, di antaranya bakteri, virus, dan jamur.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

a1262a85fbe44f7786e368f8f04f4573Pusat Pengendalian dan Prevensi Penyakit (CDC) Amerika Serikat mencatat, Neiserria meningitidis merupakan salah satu bakteri utama penyebab meningitis akibat bakteri. Di dunia, meningitis akibat jenis bakteri itu terbanyak terjadi di kawasan sub-sahara Afrika, dikenal sebagai “sabuk meningitis”. Daerah endemis tinggi terbentang dari Senegal ke Etiopia, biasanya terjadi pada musim kering (tingkat insidensi 10-100 kasus per 100.000 populasi).

Sayang, Indonesia belum punya data tahunan terkait infeksi itu. Jumlah kasus sempat tinggi pada 1980-an, lalu menurun seiring pertumbuhan ekonomi masyarakat.

868e93fa2680458a90d3e9753204a469Akibatnya, penyakit itu kurang mendapat perhatian serius. Namun, belakangan ini kasus meningoensefalitis kembali muncul. Menurut Mursyid, itu kemungkinan akibat kian banyak kasus kuman tuberkulosis resisten obat dan meningkatnya penyakit terkait daya tahan tubuh seperti HIV/AIDS.

Secara umum, gejala meningitis berupa demam, nyeri kepala, nyeri otot, lemas, dan kaku kuduk. Penderita kemungkinan sudah terkena ensefalitis jika ada tambahan gejala berupa penurunan kesadaran. “Jika lebih berat, bisa kritis,” ujar Mursyid.

Ada pula beberapa gejala berbeda akibat ensefalitis menyerang bagian otak berbeda. Misalnya, infeksi mengenai bagian otak untuk mengoordinasikan gerak kaki dan tangan bagian sebelah, gejala yang muncul bisa lemahnya bagian tubuh sebelah seperti penderita stroke. Jika terkena bagian pengatur kemampuan kognitif, bisa menurunkan kemampuan berpikir.

Mursyid menjelaskan, ada dua jenis meningoensefalitis, yakni akut dan kronis. Meningoensefalitis akut datang tiba-tiba akibat virus dan bakteri, misalnya bakteri N meningitidis, Streptococcus pneumoniae, dan Listeria monocytogenes.

Untuk yang kronis atau menahun, penyebabnya antara lain kuman seperti kuman tuberkulosis dan parasit Toksoplasma gondii. Jumlah kasus yang akut dan kronis hampir sama, tetapi di Indonesia lebih umum meningoensefalitis kronis.

Sulit menular
Pengobatan utama pasien meningoensefalitis adalah pemberian antibiotik. Jenis antibiotik yang diberikan dan lama terapi tergantung dari mikroorganisme penyebab infeksi. Misalnya, infeksi karena kuman TB, antibiotik juga untuk terapi TB pada paru-paru, dipilih yang bisa menembus sel pertahanan otak.

Karena itu, dokter harus tahu mikroorganisme penyebab meningoensefalitis pada pasien agar bisa memilih antibiotik yang tepat. Caranya, mengambil cairan otak lewat sumsum tulang belakang.

“Penyakit ini sulit menular. Namun, sekali kena, kemungkinan kematiannya tinggi,” kata Mursyid. Alasannya, sistem pertahanan otak hebat. Selaput otak tergolong bagian dari sistem pertahanan itu. Ada juga sawar darah otak (blood brain barrier). Sistem itu berfungsi melindungi otak, termasuk dari cedera dan infeksi.

Hal itu membuat mikroorganisme pemicu meningoensefalitis sulit mencapai otak. Namun, tetap ada kuman atau virus “bandel” dan tak mampu ditahan sistem itu. Jika mikroorganisme itu mampu mencapai otak, pengobatan menjadi sulit karena harus mencari antibiotik spesifik yang juga bisa menembus pertahanan otak.

Akibatnya, dokter harus memberi dosis antibiotik lebih tinggi bagi terapi infeksi pada otak dibandingkan pada infeksi bagian lain. Kadang, bisa 3-4 kali dibandingkan infeksi di bagian tubuh lain. “Ini karena kemampuan obat menembus pertahanan otak minim, ada yang 15 persen, ada yang 20 persen,” ucap Mursyid.

Pengobatan pun lebih lama dibandingkan penyakit biasa. Contohnya, pasien TB harus mengonsumsi obat tanpa putus selama enam bulan, sedangkan pasien meningoensefalitis akibat TB mengonsumsi obat sama tanpa putus selama 9-12 bulan.

Hal lain yang menyebabkan infeksi itu punya tingkat kematian tinggi adalah bagian vital otak terdesak jika ada bengkak. Jika mendesak batang otak, fungsi tubuh berhenti, termasuk fungsi bernapas.

Dokter spesialis penyakit dalam dari Divisi Alergi Imunologi Klinik Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, Iris Rengganis, mengatakan, sudah ada vaksin untuk mengurangi risiko tertular meningoensefalitis. Vaksin itu khusus untuk meningoensefalitis meningokokus yang disebabkan N meningitidis.

Efektivitas vaksin itu 80-90 persen, bergantung pada kondisi daya tahan penerima vaksin. Jemaah haji dan umrah yang akan ke Arab Saudi wajib mendapat vaksin itu paling lambat dua pekan sebelum berangkat.

Mursyid menambahkan, pencegahan utama adalah menjalankan gaya hidup sehat dan tinggal di lingkungan sehat demi menjaga daya tahan tubuh.9j galuh bimantara)
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 1 April 2015, di halaman 14 dengan judul “Sulit Menular, tetapi Mematikan”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 22 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB