Home / Artikel / Dari Demam Tifus ke Ensefalitis CMV

Dari Demam Tifus ke Ensefalitis CMV

Diego Mendieta, 32 tahun, pesepakbola asal Paraguay yang pernah merumput di klub PERSIS Solo,  meninggal 04 Desember 2012 karena infeksi sitomegalovirus di Rumah Sakit Dr. Moewardi, Solo. Tiga minggu sebelumnya sempat dirawat di Rumah Sakit Yarsis Solo lantaran menderita penyakit tifus.

Demam tifus disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi. Demam tifus merupakan penyakit endemis baik di Amerika Selatan maupun di Asia Tenggara. Tingkat endemis di Amerika Selatan 10-100 kasus tifus per 100.000 penduduk per tahun. Sedangkan di Indonesia diperkirakan endemisitas 100 kasus setiap 100.000 penduduk per tahun. Sekitar 91 persen penyakit tifus di Indonesia melanda usia 3-19 tahun. Di seluruh dunia diperkirakan terdapat 22 juta penyakit tifus dengan 200.000 kematian setiap tahun.

Kuman Samonella typhi menyerang organ liver, limpa, sumsum tulang, kandung empedu, ileum terminal (patch peyeri), dan saraf pusat. Karenanya, infeksi akut Salmonella typhi memberikan gejala demam, nyeri perut, dan sakit kepala hingga penurunan kesadaran (delirium, somnolens).  Sekitar 10 persen kasus tifus berkembang parah terutama pada kondisi daya tahan tubuh lemah (imunokompromi), pemberian antasida, dan kuman yang lebih virulen sehingga praktis memerlukan rawat inap di rumah sakit.

Prognosis penyakit tifus tegantung pada faktor umur dan daya tahan tubuh (status imunitas) penderita. Angka mortalitas penyakit tifus semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia penderita terhitung dari usia 30 tahun. Angka mortalitas penyakit tifus sekitar satu persen. Lebih dari 10 persen kematian disebabkan oleh keterlambatan diagnosis, perawatan dan pengobatan.

Selain itu, kematian terjadi karena penyakit komplikasi pneumonia, syok atau kolaps sirkulasi, pendarahan usus (5 persen kasus), perforasi usus pada 2 persen kasus, dan gagal ginjal.

Kemiripan

Repotnya secara medis klinis, gejala penyakit tifus memiliki kemiripan dengan gejala infeksi sitomegalovirus. Dalam penetapan diagnosis banding, penyakit tifus lebih urgen untuk diterapi lantaran cenderung bergejala akut, parah dengan risiko kematian pada hari ke-9 hingga ke-18 sejak sakit.

Berbeda dengan infeksi sitomegalovirus yang sebagian besar bersifat asimtomatis. Meskipun, merupakan endemi di seluruh planet bumi ini dimana seropositif terhadap sitomegalovirus mencapai hingga 90 persen penduduk. Jikalau simtomatis, infeksi sitomegalovirus memberikan gejala sesuai dengan organ tubuh yang terkena. Sitoomegalovirus cenderung menyerang susunan saraf pusat, mata, sumsum tulang, ginjal, paru, saluran cerna,pamkreas, kelenjar tiroid, kelenjar adrenal.

Sama halnya dengan penyakit tifus, ringan atau parahnya infeksi sitomegalovirus dan tifus dalam tubuh manusia tergantung kepada kuat atau lemahnya daya tahan tubuh. Pada kondisi imunokompeten (daya tahan tubuh kuat) kedua jenis infeksi ini cenderung bergejala ringan hingga asimtomatis. Sebaliknya, menimbulkan infeksi parah hingga fatal tatkala daya tahan tubuh lemah (imunokompromi atau imunosupresi). Pada imunokompromi yang parah, infeksi kuman tifus maupun sitomegalovirus dapat menyerang sistem saraf pusat. Sehingga dapat terjadi meningitis dan ensefalitis. Gejala paling umum berupa demam berkepanjangan dengan suhu tubuh hingga 40 derajat celcius, nyeri kepala, lemah badan (malaise) hingga penurunan kesadaran. Kondisi imunokompromi dapat juga terkait defisiensi gizi dan keracunan. Meningoensefalitis akibat infeksi sitomegalovirus jarang terjadi pada kondisi daya tahan tubuh normal (imunokompeten).

Beberapa dekade silam, sebagian besar kasus ensefalitis sitomegalovirus merupakan penyakit komplikasi pada transplantasi organ, HIV/AIDS, dan infeksi virus Epstein-Barr terutama saat angka limfosit CD4 di bawah 50 sel per milimeter kubik. Namun dengan aplikasi obat antivirus, khususnya antiretroviral, kasus ensefalitis sitomegalovirus menurun drastis. Sitomegalovirus merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan penurunan limfosit CD4 yang drastis.

Penegakan diagnosis infeksi sitomegalovirus tidak bisa semata lewat gejala klinis saja. Namun lewat pemeriksaan PCR dimana ditemukan DNA CMV (deoxyribonucleic acid dari cytomegalovirus) pada plasma darah. Sedangkan ensefalitis akibat infeksi sitomegalovirus, diagnosis sulit ditegakkan karena kebanyakan tidak ditemukan DNA sitomeglovirus pada cairan otak (serebrospinal).

Pencegahan

Prevalensi infeksi sitomegalovirus tergolong endemis tinggi di negara berkembang. Di Indonesia prevalensi seropositif, baik yang simtomatis maupun asimtomatis, diperkirakan mencapai 90 persen dari populasi penduduk. Transmisi sitomegalovirus dapat juga melalui kontak langsung dengan cairan tubuh, saliva, darah, urine, cairan sperma, lendir pada leher rahim, dan air susu ibu.

Pada daerah dengan sanitasi yang buruk dan minimnya akses air bersih, bakteri Salmonella typhi maupun sitomegalovirus dapat mencemari makanan dan minuman, sehingga merupakan salah satu jalur transmisi (penularan) antarmanusia. Dengan demikian cuci tangan dengan sabun dan menjaga higiene makanan, merupakan metode pencegahan yang efektif untuk mengurangi laju penularan penyakit tifus maupun sitomegalovirus.

Untunglah, sepanjang tubuh dalam kondisi imunokompeten, sitomegalovirus cenderung asimtomatis dan tidak memberikan dampak destruktif pada berbagai organ tubuh manusia. Demikian pula pada penderita tifus yang karier namun asimtomatis. Sayangnya, keduanya selalu melepaskan mikroorganisme patogen ke lingkungan tempat tinggal dan siap menginfeksi antarmanusia, khususnya yang imunokompromi.(11)

F Suryadjaja adalah dokter di Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali

Sumber: Suara Merdeka, 12 Desember 2012

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pemulihan Ekonomi: V, U, atau W?

Kita memang tak hidup dalam dunia yang ideal saat ini. Kita sadar, kebijakan ideal ala ...

%d blogger menyukai ini: