Hindari Penularan Demam Tifoid lewat Makanan

- Editor

Senin, 2 September 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebagai salah satu penyakit yang mematikan, penularan demam tifoid atau tifus melalui makanan patut menjadi perhatian, terutama bagi anak sekolah. Kebersihan makanan menjadi syarat mutlak agar penularan demam tifoid melalui makanan tidak terjadi, mulai dari pemilihan bahan makanan hingga cara penyajian.

Ketua Satuan Tugas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Syamsuridjal Djauzi mengatakan, angka kematian akibat demam tifoid pada pasien dirawat di Indonesia berkisar 5-10 persen. Penyebabnya, sebagian besar karena terlambat diagnosis atau terjadi komplikasi. ”Komplikasi misalnya terjadi pendarahan sehingga pengobatan sulit dilakukan,” katanya saat ditemui pada lokakarya Building and Managing Healthy Workforce Collaboration di Jakarta, Sabtu (31/8/2019).

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA –Anak-anak bermain di sekitar air yang menggenangi halaman sekolah mereka di Muktiharjo, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (6/12/2012). Sisa genangan air banjir yang kotor juga menjadi ancaman bagi kesehatan bagi anak-anak, seperti disentri, kolera, dan tifus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Demam tifoid adalah penyakit yang disebabkan bakteri Salmonella typhi yang masuk melalui usus. Gejalanya antara lain demam tinggi, diare, dan sembelit. Makanan dan minuman yang tidak higienis menjadi salah satu pintu masuk bakteri Salmonella typhi tersebut.

Menurut Syamsu, penularan demam tifoid erat kaitannya dengan gaya hidup masyarakat. Selama ini masyarakat cenderung memilih makanan yang enak ketimbang yang sehat. Mereka tidak peduli apakah alat makan yang digunakan hanya dicuci menggunakan seember air dari pagi hingga siang hari.

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN–Ketua Satuan Tugas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Syamsuridjal Djauzi.

Bakteri juga bisa menempel langsung pada makanan yang disentuh oleh carrier atau orang yang membawa bakteri. Secara fisik, carrier adalah orang yang bugar. Mereka dulunya adalah penderita demam tifoid yang pengobatannya tidak tuntas sehingga masih ada bakteri yang bersarang di tubuhnya.

”Biasanya Salmonella typhi pada carrier menempel pada kantong empedu atau organ lain sehingga perlu dimatikan lewat antibiotik khusus,” ujarnya.

Menurut Syamsu, ada beberapa cara untuk memastikan makanan yang dikonsumsi adalah makanan yang sehat. Makanan sehat bisa disiapkan mulai dari pemilihan bahan makanan, cara memasak, dan cara menghidangkan. Hal tersebut juga berlaku bagi makanan yang disiapkan secara mandiri. ”Sebisa mungkin makanan yang sudah siap segera disantap. Jika tidak, kuman-kumannya bisa menyebar lebih banyak,” ujarnya.

Tantangannya kini ada pada anak-anak sekolah lantaran mereka cenderung belum bisa memilah mana saja makanan yang sehat. Syamsu menyarankan kepada pihak terkait, terutama guru, memperhatikan kebersihan kantin-kantin sekolah.

Selain untuk carrier, antibiotik juga perlu diberikan kepada para penderita demam tifoid yang tengah dirawat. Masalah muncul jika penderita menjadi resisten terhadap antibiotik sehingga pengobatan lebih sulit dilakukan. Oleh karena itu, penting dilakukan pengobatan secara dini.

Adapun pencegahan demam tifoid bisa dilakukan lewat pemberian vaksin tifoid. Vaksin melalui suntikan tersebut akan aktif setelah dua minggu pemakaian dan harus diulang selama tiga tahun.

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN–Ketua Umum Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (Perdoki) Nusye E Zamsiar

Penjamah makanan
Ketua Umum Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (Perdoki) Nusye E Zamsiar menjelaskan, penularan bakteri Salmonella typhi tidak hanya bersumber dari warung makan pinggiran, akan tetapi juga dari penjamah makanan di industri atau perkantoran. Sebab, penjamah makanan tersebut bisa juga sebagai carrier.

”Bakteri tersebut dikeluarkan dari kotorannya sehingga kalau dia tidak menjaga kebersihannya juga bisa menularkan di mana pun,” ujarnya.

Dalam hal ini, Nusye menyoroti pentingnya vaksinasi tifoid bagi penjamah makanan, khususnya pada perusahaan jasa boga. Penjamah makanan bisa berupa juru masak, pramusaji, atau pekerja industri makanan. Hal itu penting dalam menjaga kesehatan konsumen sekaligus menjaga citra perusahaan.–FAJAR RAMADHAN

Editor ANDY RIZA HIDAYAT

Sumber: Kompas, 31 Agustus 2019

Informasi terkait

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI
Ketika Alam Tak Lagi Pasti
Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Berita ini 70 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Berita Terbaru

Artikel

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Berita

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Artikel

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB