Infeksi pada Anak-anak Masih Bermunculan

- Editor

Selasa, 20 Mei 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Imunisasi Memperkuat Kesehatan Komunitas
Berbagai penyakit yang bisa dicegah melalui imunisasi terus bermunculan. Sebagian besar penyakit itu menyerang anak-anak. Hal ini disebabkan rendahnya cakupan imunisasi dasar lengkap di sejumlah provinsi. Untuk itu, pemerintah melaksanakan program layanan imunisasi yang menjangkau daerah-daerah terpencil.

Direktur Surveilans, Imunisasi, Karantina, dan Kesehatan Matra Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Desak Made Wismarini mengemukakan hal itu, Senin (19/5), di Jakarta.

Made mengatakan, pemerintah tak hanya menargetkan cakupan imunisasi yang tinggi, tetapi juga cakupan yang merata. ”Pemerataan cakupan imunisasi hingga ke tingkat desa menjadi perhatian pemerintah,” kata dia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, kenyataannya cakupan imunisasi menghadapi tantangan berat. Dari 33 provinsi, ada 19 provinsi yang capaian cakupan imunisasi dasar lengkapnya di bawah angka nasional (90 persen). Tidak meratanya cakupan imunisasi dasar lengkap itu menyebabkan risiko infeksi penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi tetap besar.

Menurut Made, kondisi itu disebabkan ketidaktahuan masyarakat akan pentingnya imunisasi, pengaruh kelompok anti imunisasi, dan kekhawatiran efek imunisasi. Aspek geografis juga memengaruhi rendahnya cakupan imunisasi. Sebagai negara kepulauan, banyak wilayah di Tanah Air yang sulit dijangkau.

Untuk itu, pemerintah berupaya meningkatkan cakupan imunisasi dengan beberapa cara, antara lain melalui program layanan penjangkauan berkelanjutan (sustainable outreach services/SOS) untuk menjangkau daerah terpencil. Seorang anak di daerah yang sulit diakses hanya empat kali berkunjung ke penyedia layanan kesehatan untuk diimunisasi. Di daerah yang tidak terpencil, seorang anak biasanya lima kali berkunjung.

Upaya lain adalah pemberian vaksin kombinasi (pentavalen) DPT-HB-Hib yang telah dimulai di empat provinsi pada 2013. Hal itu dinilai lebih efektif dan efisien. Jadi, satu vaksin mengandung lima antigen untuk mencegah penyakit tuberkulosis, pertusis, difteri, hepatitis B, dan pneumonia. Pemberian vaksin pentavalen menyeluruh di semua provinsi dilakukan pada 2014.

Komplikasi campak
Nastiti Kuswandani, dokter spesialis anak dari Divisi Respirologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), menyatakan, jumlah kasus penyakit komplikasi campak yang naik adalah radang paru. Dalam sebulan, ada 1-2 kasus baru radang paru sebagai komplikasi campak. ”Selain mencegah penyakit bagi anak, imunisasi memperkuat kesehatan komunitas,” kata dia.

Salah satu penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi yang banyak muncul adalah difteri. Pada 2008-2012, angka kasus difteri naik signifikan (218 kasus tahun 2008 menjadi 1.192 kasus di 2012), disertai kenaikan angka kematian (dari 14 penderita meninggal pada 2008 menjadi 76 pasien pada 2012). Pada 2008-2011, mayoritas kasus menyerang kelompok usia 1-4 tahun dan 5-9 tahun. Pada 2012, difteri umumnya dialami kelompok anak usia 5-9 tahun dan di atas 14 tahun.

Lebih dari 50 persen kasus di tahun 2012 terjadi akibat tidak mendapat imunisasi. Pada tahun sama, kasus difteri ditemukan di 19 provinsi, jumlah kasus terbanyak ada di Jawa Timur, yakni 954 kasus atau 79,5 kasus.

Selain itu, penularan campak masih terus terjadi. Sepanjang 2012, ada 160 kejadian luar biasa campak dengan 2.319 kasus dan empat pasien meninggal. Kasus penularan campak kebanyakan terjadi di Pulau Jawa (Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten). Masalah itu harus segera dituntaskan untuk mencapai target eliminasi campak pada 2018.

Mayoritas kasus campak pada 2008-2012 menyerang kelompok umur 5-9 tahun. Pada 2007 dan 2010, penderita campak justru anak usia 1-4 tahun. (ADH)

Sumber: Kompas, 20 Mei 2014

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 22 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB