Home / Berita / Mengawal Kehidupan Duyung dan Pesut

Mengawal Kehidupan Duyung dan Pesut

Tahun 1974 Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin meresmikan Gelanggang Samudra di kawasan Ancol, Jakarta. Berbeda dengan wahana lain di Ancol yang sarat unsur rekreasi, Gelanggang Samudra sejak awal diniatkan Bang Ali sekaligus sebagai sarana pendidikan dan pelestarian kekayaan bahari Indonesia.

Dibangun dengan biaya Rp 1,3 miliar, dalam upacara peresmiannya 44 tahun yang lalu, Bang Ali menegaskan Gelanggang Samudra tidak semata-mata untuk rekreasi, tetapi juga merupakan alat pendidikan dan pemupukan cinta bahari.

Namun dari enam ekor pesut itu, tiga di antaranya mati dalam proses pengangkutan dari Kaltim ke Jakarta.

KOMPAS/KARTONO RYADI–Pertama kali di dunia, pesut melahirkan di Gelanggang Samudera Ancol, Rabu, 3 Juli 1979. Tepuk tangan meledak di ruang pertunjukan lumba-lumba Gelanggang Samudera Jaya Ancol (GSJA) saat bayi pesut lahir. Foto ini melengkapi berita di Kompas, 5 Juli 1979.

“Gelanggang Samudra memang tak bersifat komersial. Harga karcis untuk masuk pentas lumba-lumba hanya Rp 300, bandingkan dengan gelanggang samudra di California, AS yang tiketnya hampir Rp 2.000 per orang,” demikian Bang Ali seperti ditulis Kompas, 29 Juni 1974.

Gelanggang Samudra atau Oceanarium hanya salah satu dari kompleks laboratorium, institusi pendidikan, penelitian, dan penerangan dalam ilmu kelautan di Jakarta. Dewan kurator yang merencanakan kompleks yang berkaitan dengan ilmu kelautan itu diketuai Wakil Presiden Sultan Hamengku Buwono IX.

KOMPAS/DIAH K MARSIDI–Gelanggang Samudra Jaya Ancol, Kamis, 20 Oktober 1983, mendapat titipan tiga duyung dari NTT. Statusnya berupa hewan titipan sampai ada serah terima dari Gubernur NTT kepada Gubernur Kepala DKI Jakarta. Belasan pria dikerahkan untuk menerima ikan duyung ke kolam yang diturunkan dengan bantuan kerekan.

Ini menunjukkan pentingnya pelestarian dan pengembangan ilmu kelautan di Tanah Air setidaknya sudah dirintis sejak tahun 1970-an (Kompas, 7 Agustus 1975). Penghuni awal Gelanggang Samudra di antaranya dua duyung (Dugong dugon) yang berasal dari perairan Selat Makassar. Deskripsi duyung yang ditulis Kompas, 21 Agustus 1975 membuat pembaca bisa membayangkan hewan dengan lingkar badan 186 cm, panjang 287 cm, dan berat 500 kg ini.

“Kepala duyung mirip babi, tetapi moncongnya mirip kuda nil. Sebagian bentuk badannya mirip lumba-lumba dengan warna kulit agak abu-abu seperti sapi. Kulit sebelah atasnya seperti kulit kerbau yang keras dan berbulu, tetapi kulit bagian bawah duyung sangat lembut dan halus seperti kulit puteri.”

Sayang, awal 1983 duyung itu mati. Gelanggang Samudra kemudian mendapat tiga ekor duyung dari perairan Timor.

Menyusui
Selain duyung, penghuni awal Gelanggang Samudra adalah lumba-lumba air tawar atau pesut (Orcella brevirostris). Sama dengan duyung dan paus, pesut bernapas dengan paru-paru, melahirkan dan menyusui anaknya. Duyung diperoleh dari Sulawesi Selatan, sedangkan pesut berasal dari Sungai Mahakam, Kalimantan Timur (Kaltim).

DOK KOMPAS–Tiga dari delapan pesut yang ditangkap di Danau Melintang, Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur, September 1974. Pesut-pesut ini ditangkap untuk Gelanggang Samudera.

Namun dari enam ekor pesut itu, tiga di antaranya mati dalam proses pengangkutan dari Kaltim ke Jakarta. Pesut peka terhadap suasana lingkungan dan benda yang menyentuh tubuhnya. Untuk menghindari hal itu, penangkapan pesut pada 1978 dilakukan dengan mengatur suhu udara, penyemprotan air terus-menerus selama perjalanan, dan pengawalan dokter hewan.

Gelanggang Samudra Jaya Ancol (GSJA) juga mempunyai singa laut yang berasal dari California. Atraksi yang melibatkan singa laut termasuk yang menarik perhatian pengunjung. Tahun 1980 ada lima ekor singa laut di GSJA. Salah satu di antaranya melahirkan bayi, yang disebut peristiwa langka karena mamalia laut itu melahirkan di daerah tropis.

Oleh karena itulah, Gubernur DKI Tjokropranolo sampai berpidato untuk menyambut kehadiran bayi singa laut yang diberi nama Tripancawati. Tak hanya singat laut, tahun 1981 untuk kedua kalinya pesut mahakam melahirkan di Ancol. Sebelumnya, seekor pesut melahirkan pada 1979.

Kelahiran itu terjadi di kolam atau tangki bergaris tengah delapan meter dan kedalaman sekitar 2,5 meter. Bayi pesut ini lahir dengan berat badan 3,8 kg dan panjang 65 cm. Bayi itu menambah koleksi GSJA menjadi 12 ekor pesut.

Koleksi GSJA masih bertambah antara lain dengan dua ekor paus putih (Delphinapterus leucas) dari Ukraina, dengan berat badan masing-masing sekitar 600 kg pada tahun 2006. Panjang paus putih berusia 6-7 tahun ini sekitar empat meter.

Naik pentas
Di GSJA pesut juga naik pentas. Tahun 1984 harga tiket untuk menonton pentas pesut sekitar Rp 6.000 per orang. Meskipun penuh penonton, tetapi pemasukan dari tiket pentas pesut saja tak bisa menutupi biaya operasional.

KOMPAS/KARTONO RYADI–Nampak foto kelahiran lumba-lumba air tawar atau pesut di Gelanggang Samudera Ancol, 3 Juli 1979.

Sekadar gambaran, untuk makan seekor pesut sehari diperlukan sekitar 8 kg ikan. Di GSJA terdapat 14 ekor pesut, yang berarti dalam sehari diperlukan 112 kg ikan. Itu belum termasuk biaya pengolahan air kolam pesut. Namun karena dimaksudkan pula untuk pendidikan dan konservasi, kebutuhan pemeliharaan pesut dipenuhi dengan berbagai cara.

Misalnya, tahun 2007 GSJA bekerjasama dengan Dirjen Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan Nasional, juga dengan Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu. Lewat GSJA para murid dan guru semakin mengenal kekayaan laut Indonesia, termasuk hewan mamalia dan ekosistem perairan di Tanah Air.

Kerja sama juga dikembangkan GSJA dengan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), terutama di bidang publikasi, pelatihan dan pertukaran informasi pada 2008. Jadilah, tak hanya biaya operasional teratasi, tetapi lewat penelitian dan upaya konservasi lainnya, pada 2013 kembali lahir bayi lumba-lumba di Ocean Dream Samudra (ODS, nama baru GSJA).

“Induk lumba-lumba itu penghuni ODS sejak tahun 2006. Sedangkan sang ayah adalah mamalia yang lahir di Gelanggang Samudera pada 1995. Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan memberi nama bayi lumba-lumba itu Ari,” demikian catatan Kompas, 2 Maret 2013.

Keramat
Awal 1980-an pesut di habitat aslinya, Sungai Mahakam diperkirakan tinggal sekitar 1.000 ekor. Padahal pada 1970-an pesut masih sering terlihat, bahkan di sekitar Kota Samarinda. Bagi umumnya penduduk di sekitar Sungai Mahakam, pesut dianggap hewan keramat.

KOMPAS/PRASETYO EKO PRIHANANTO–Foto bertanggal 31 Agustus 2005 memperlihatkan seorang warga melintas dengan perahu di Danau Semayang, hulu Mahakam, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kondisi danau itu rusak akibat sedimentasi, mengancam kehidupan satwa seperti pesut. Tumbuhan enceng gondok makin banyak bertebaran di permukaan juga menyulitkan aktivitas warga.

Mereka percaya, mamalia ini berasal dari manusia yang terkena kutukan. Oleh karena itulah mereka tak berani mengganggu pesut, karena akan berakibat malapetaka. Bahkan semburan air pesut saja, diyakini bisa mengakibatkan penyakit yang sulit tersembuhkan.

Namun faktanya, semakin hari keberadaan pesut di Sungai Mahakam terus menyusut. Kondisi ini pun sudah disuarakan berbagai pihak. Salah satu penyebabnya, masa kehamilan pesut sekitar 13-14 bulan, dan pada setiap kehamilan pesut hanya melahirkan seekor anak. Masa menyusui pesut sekitar dua tahun. Seekor pesut betina maksimal melahirkan lima kali, karena umur pesut hanya sekitar 30 tahun.

Tahun 1990-an hasil penelitian Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim menunjukkan, populasi pesut Mahakam terus menyusut. Diperkirakan jumlahnya masih sekitar 100 ekor, tetapi yang ditemukan dalam penyusuran Sungai Mahakam sepanjang 920 km pada 1997 hanya 29 ekor.

“Pesut hanya ditemukan di bagian hulu Sungai Mahakam, antara Kecamatan Kotabangun sampai daerah riam dan arus deras di Longpahangai, Kutai,” kata Kepala BKSDA Kaltim Ir Ade M. Rachmat.

Selain itu, pesut juga tak lagi ditemukan di tiga danau di Kutai. Padahal tahun 1970-an pesut banyak terdapat di tiga danau tersebut, yakni Danau Semayang (sekitar 13.000 hektar), Danau Jempang (15.000 hektar) dan Danau Melintang (11.000 hektar). Hal ini terjadi antara lain karena pendangkalan danau, akibat permukaan air tertutup gulma, terutama eceng gondok.

Sisi manusia
Sementara dari sisi manusia, perhatian dan upaya melestarikan pesut masih jauh dari optimal. Meskipun pada 1979 Menteri Pertanian telah menetapkan daerah Kecamatan Muara Kaman dan Sedulang, Kabupaten Kutai, Kaltim adalah cagar alam pesut. Cagar alam itu meliputi daerah seluas sekitar 62.500 hektar.

KOMPAS/PRASETYO EKO PRIHANANTO–Rakit kayu log ini sedang dalam perjalanan di Sungai Mahakam dari hutan di pedalaman sungai menuju ke industri kayu yang membutuhkan bahan baku kayu, 5 Juli 2005. Hutan-hutan di sekitar Sungai Mahakam terus dibabat baik oleh perusahaan HPH, HPHH, maupun penebangan liar. Kerusakan hutan mengancam satwa seperti pesut.

Di sisi lain, Kompas, 6 Agustus 1984 mencatat, meskipun ancaman kepunahan pesut ibarat sudah di depan mata, tetapi instansi yang menangani masalah pesut di Sungai Mahakam tak kunjung jelas. Ini antara lain muncul saat tujuh ekor pesut terperangkap di Danau Melintang, Kecamatan Muaramuntai, Kabupaten Kutai pada musim kemarau 1982.

Untuk menyelamatkan pesut, masyarakat berinisiatif membawanya ke Sungai Mahakam. Hal itu terjadi karena ketidakjelasan tanggung jawab terhadap kelestarian pesut, apakah dibawah Dinas Perikanan, Sub Balai PPA Kaltim, pemerintah setempat atau instansi lainnya.

Sungai Mahakam sebagai habitat asli pesut mahakam, termasuk sungai terpenting di Kalimantan. Sungai sepanjang sekitar 920 kilometer ini lebarnya bervariasi sekitar 300-700 meter. Bermuara di Selat Makassar, Sungai Mahakam mempunyai banyak anak-anak sungai di kanan-kirinya.

Pendangkalan sungai dan danau juga mengakibatkan produksi ikan terus merosot dan merugikan warga pencari ikan.

Sungai Mahakam membelah Kota Samarinda, menjadi poros Kabupaten Kutai sampai ke sumbernya di Gunung Batutiban. Keberadaan Sungai Mahakam melahirkan “kebudayaan sungai”, di mana semua kehidupan bisa dikatakan bergantung pada sungai ini.

Setiap hari banyak kapal, perahu dan sampan hilir-mudik di sepanjang Sungai Mahakam. Tahun 1980-an untuk melihat pesut muncul di permukaan Sungai Mahakam, masih menjadi pemandangan yang relatif kerap terjadi. Warga maupun wisatawan umumnya senang menikmati kemunculan pesut menyemburkan air atau mengejar ikan menjelang matahari terbenam.

Hutan dan ikan
Pendangkalan sungai dan danau juga mengakibatkan produksi ikan terus merosot dan merugikan warga pencari ikan. Tahun 1992 produksi ikan di Danau Jempang, Semayang dan Melintang sekitar 11.000 ton. Padahal tahun-tahun sebelumnya mencapai sekitar 20.000-25.000 ton per tahun.

Berkurangnya ikan sebagai makanan pesut pun memengaruhi populasi mamalia air tawar itu. Kondisi ini pun masih ditambah dengan terjadinya konversi hutan mangrove (bakau) di Teluk Balikpapan untuk pertambakan, industri dan pemukiman sekitar tahun 2000.

Di daratan pun berlangsung kegiatan perminyakan, usaha penebangan kayu, pertambangan emas, batu bara dan pembukaan lahan perkebunan yang memengaruhi ekosistem kawasan di sekitar Sungai Mahakam. Semua ulah manusia itu membebani sungai, tempat hidup pesut.

KOMPAS/LUKAS ADI PRASETYA–Bangkai pesut di pesisir kawasan Klandasan Ulu, Balikpapan, Kaltim, Senin (2/4/2018) ini diambil sampelnya untuk diteliti. Mamalia naas berstatus dilindungi ini ditemukan terdampar dalam kondisi mati, Minggu (1/4) malam. Kematiannya diduga karena perairan Teluk Balikpapan terpapar minyak.

Pada 2000 jumlah pesut di Sungai Mahakam diperkirakan tinggal 30-50 ekor. Setiap tahun setidaknya lima ekor pesut mati. Sedangkan bayi pesut yang lahir hanya tiga ekor. Kematian pesut terbanyak terkena jaring ikan. Pencari ikan tak segera membebaskan sang pesut, karena khawatir terkena air yang disemburkan pesut. Mereka meyakini air semburan pesut membawa penyakit. Kematian pesut pun tak terelakkan.

Kehidupan pesut di Sungai Mahakam semakin runyam, karena hewan ini harus berbagi dengan lalu lintas kayu tebangan, ponton batu bara, taksi kapal bermesin 300-400 PK dan perahu ces (ketinting). Pada beberapa kematian pesut ditemukan luka terinfeksi terkena baling-baling kapal.

Seiring berjalannya waktu, endapan lumpur di Sungai Mahakam pun semakin tinggi. Kompas, 26 Agustus 2003 mencatat, tahun 1990 endapan lumpur per tahun sekitar 60 cm, tahun 2000 menjadi lebih dari 100 cm.

“Rusaknya hutan akibat penebangan mengakibatkan tingginya sedimentasi di sepanjang aliran Sungai Mahakam,” kata Sigit Hardwinarto, Kepala Pusat Penelitian dan Pengelolaan Sumber Daya Air Universitas Mulawarman Samarinda.

Jaring nelayan
Serupa dengan pesut, nasib duyung di Provinsi Maluku Utara pun rawan terkena jaring nelayan. Tahun 2016 Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Jenis KKP Agus Dermawan mengatakan, sekitar 5-10 tahun lalu saja jumlah duyung tinggal 1.000 ekor. Duyung atau dugong termasuk mamalia laut pendiam dan sensitif.

Kondisi itu masih ditambah dengan penangkapan duyung di perairan Maluku Tenggara dan di Kabupaten Alor (Nusa Tenggara Timur), meskipun sudah ada larangan penangkapan satwa langka tersebut. Duyung menjadi incaran sebagian nelayan karena bisa dijual dengan harga tinggi.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Seekor duyung (Dugong dugon) jantan yang diperkirakan berusia 11 tahun berenang di perairan Pulau Sika, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur pada hari Rabu (22/3). Duyung merupakan mamalia laut herbivora yang terancam punah. Perairan ini diharapkan bisa menjadi rumah aman bagi sebagian populasi duyung di Indonesia yang sedikit jumlahnya.

Duyung baru dewasa setelah berusia 10 tahun. Duyung betina mengandung sekitar 12-14 bulan, dan hanya melahirkan seekor anak. Anak duyung disusui induknya hingga berusia 14-18 bulan, dan tetap dalam pengasuhan sang induk sampai si anak duyung berusia 6-7 tahun.

Untuk menjaga keberadaan duyung, pemerintah menetapkan area konservasi bagi duyung. Tahun 2017 data KKP dan WWF Indonesia menunjukkan area konservasi duyung seluas 276.639,38 hektar terletak di perairan Alor, Tolitoli (Sulteng), Bintan (Kepulauan Riau), dan Kotawaringin (Kalimantan Tengah).

Sementara untuk menyelamatkan ekosistem di Teluk Balikpapan, Kaltim, dibentuk semacam Lembaga Pengelola Teluk Balikpapan. Di sini Gubernur Kaltim, Bupati Penajam Paser Utara, Bupati Pasir, Bupati Kutai Kartanegara, dan Wali Kota Balikpapan sepakat mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Teluk Balikpapan.

Maka, pada 2003 ketika sejumlah pengusaha membabat hutan mangrove untuk tambak udang seluas 270 hektar di Kabupaten Penajam Paser Utara, pemerintah, warga setempat dan nelayan langsung memprotesnya.

Semua kegiatan yang membebani Sungai Mahakam memang memberi sumbangan pada perputaran ekonomi. Akan tetapi, manfaat itu seharusnya dibandingkan pula dengan mudaratnya.

Bila industri, pertambangan dan perkebunan itu hanya dinikmati segelintir orang, sementara kerugiannya ditanggung lebih banyak orang dan lingkungan, apakah tak sebaiknya ditinjau ulang? (Sumber: arsip harian Kompas, 29 Juni 1974 – 25 Maret 2017)–CHRIS PUDJIASTUTI

Sumber: Kompas, 29 Juni 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: