Home / Berita / ”Tarian” Pesut di Teluk Balikpapan

”Tarian” Pesut di Teluk Balikpapan

Dua punggung berwarna hitam-kelabu menyembul dari permukaan air. Sejenak hilang dari pandangan, lalu muncul lagi di kejauhan. Itu dia pesut-pesut yang dinanti kemunculannya saat kami menyusuri Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (16/12) lalu.


Seusai menikmati ”tarian” menakjubkan itu, gerombolan bekantan berloncatan di rerimbunan bakau primer yang giliran memukau mata. Seakan menyapa akrab saat kami mendatangi ”rumah” mereka. Namun, mungkin juga bertanya apa yang kini terjadi dengan rumah mereka.

Kawasan Industri Kariangau (KIK) di sisi barat Kota Balikpapan yang menggeliat dengan cepat menghabisi satu demi bakau primer dan mencemari air teluk. Tak terhitung rerimbunan bakau di sepanjang teluk yang berubah warna kecoklatan, pertanda tengah dikupas.

Teluk Balikpapan sekarang dijejali pabrik pengolah minyak kelapa sawit mentah, stockpile atau tempat penyimpanan sementara batubara, galangan kapal, dan sejumlah dermaga jetty yang panjang. Kapal dan ponton batubara pun berseliweran di atas perairannya.

Rerimbunan bakau pelindung teluk semakin botak. Di Sungai Somber, salah satu sungai yang berhulu ke teluk, satu demi satu bakau tercabut mengenaskan. Kapal-kapal tongkang yang menambatkan tali ke bakau adalah penyebabnya, dan sampai detik ini masih terjadi.

Jembatan Pulau Balang yang melintang di teluk juga sudah separuh jalan pengerjaannya. Bentang pendek jembatan yang sepanjang 470 meter hampir rampung. Tinggal menyelesaikan bentang panjangnya, sebentar lagi Balikpapan dan Penajam Paser Utara akan terhubung.

Tak terelakkan, hektar demi hektar daratan di area teluk diambil secara legal untuk dikupas. Namun, ternyata masih ada juga perusahaan yang rakus merusak bakau yang bukan haknya. Hulu Sungai Barenga Kanan, sebagai contoh, ditimbun tanah oleh satu perusahaan.

Kerusakan hutan bakau di teluk mendapat sorotan di tingkat internasional, terutama oleh Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), asosiasi gabungan organisasi berbagai sektor industri kelapa sawit. Berhektar-hektar bakau di Sungai Puda yang dilindungi dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Balikpapan ternyata juga beralih menjadi lokasi perluasan gudang sebuah perusahaan. Celakanya lagi, perorangan juga ikut membabati bakau. Tahun lalu, sekitar 2 hektar bakau di kawasan Mangrove Center digunduli.

Kejadian itu mencengangkan karena Mangrove Center adalah kawasan konservasi. ”Juga sekaligus membuka mata bahwa Balikpapan, yang selama ini dikenal pro lingkungan, ternyata terus kecolongan bakaunya,” ucap Agus Bei, Ketua Mangrove Center Balikpapan.

”Kerusakan teluk sudah terjadi. Jika tidak direm, tinggal menunggu waktu semua yang dibanggakan Balikpapan bakal hilang, termasuk pesut yang hidup di air payau teluk ini,” ujar Caecilia Nurimpikanasari, pemerhati lingkungan dari Forum Peduli Teluk Balikpapan.

Dilindungi
Teluk Balikpapan adalah habitat satwa yang statusnya dilindungi, seperti pesut mahakam (Orcaella brevirostris) dan bekantan (Nasalis larvatus). Pesut termasuk satwa sangat langka. Habitat asalinya air tawar seperti sungai. Sungai Mahakam adalah salah satunya. Namun, uniknya, pesut Mahakam ternyata juga ditemukan di teluk itu.

Stanislav Lotha, pemerhati teluk dan primata, pernah mengestimasi populasi bekantan di teluk mencapai 1.400 ekor. Jumlah itu sekitar 5 persen dari populasi bekantan di dunia. Sementara jumlah pesut di teluk ini belum dipastikan persisnya berapa.

Teluk Balikpapan seluas 150 kilometer persegi, seperti pernah disampaikan Stanislav Lotha, memiliki karakter khas karena berbentuk cekungan. Pertanda sebuah perairan tertutup, artinya adalah sampah, limbah, dan sedimen yang masuk ke teluk akan tertahan di teluk.

Geliat industri di teluk mulai masif 10 tahun terakhir. Keinginan memiliki kawasan industri terdepan di Indonesia bagian timur menggoda Balikpapan. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), yang salah satu koridor ekonominya adalah Kalimantan, seakan membenarkan masifnya geliat industri di Balikpapan.

Namun, geliat industri itu pun menciptakan cerita-cerita kemunduran lingkungan. Nelayan tak bisa lagi mencari ikan di teluk. Hilir-mudik kapal berikut suara bisingnya, ditambah pencemaran, dan serpihan batubara yang berjatuhan dari ponton membuat ikan-ikan menghilang.

”Dulu, sebelum tahun 2005, saya suka memancing di teluk karena gampang mendapat ikan. Tetapi, sekarang, lupakan saja itu. Ikan-ikan hanya bisa didapat di lokasi yang jauh dari kapal dan jauh dari kebisingan,” ujar Herman, warga Balikpapan.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Balikpapan Ketut Astana menyebutkan, suka tidak suka, pembangunan di teluk berdampak habisnya bakau primer. Namun, apa yang masih bisa dipertahankan di teluk tetap akan dipertahankan, seperti Mangrove Center Balikpapan.

Balikpapan baru menorehkan prestasi karena menyabet penghargaan 3rd ASEAN Environmentally Sustainable Cities Award 2014. Balikpapan menyisihkan 15 kota kandidat lainnya. Penghargaan tersebut diberikan kepada kota di kawasan Asia Tenggara yang berhasil membangun kotanya, tetapi masih mempertahankan lingkungan.

Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi mengakui beratnya tantangan untuk mempertahankan lingkungan. Namun, Rizal Effendi yakin, konsep green industry masih bisa diterapkan Balikpapan. Kuncinya adalah pengawasan dan ketegasan. Jika teluk rusak, Balikpapan juga yang rugi.

Namun, kentara terlihat bahwa lingkungan teluk kalah dalam ”perang” melawan industri. Pesut-pesut akan makin enggan ”menari” di air yang tercemar. Bekantan terancam punah karena hutan beton dan baja tak bisa menghasilkan buah makanan mereka. (Lukas Adi Prasetya)

Sumber: Kompas, 30 Desember 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: