Home / Berita / Mendekati Masa Depan Dunia dari Cibinong

Mendekati Masa Depan Dunia dari Cibinong

Raut wajah Puspita Lisdiyanti diliputi ekspresi bungah. Ia antusias memaparkan rencana operasional pusat penyimpanan koleksi mikroba Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang Kamis (11/9) pagi itu diresmikan Wakil Presiden Boediono. Dunia sedang menuju ekonomi berbasis hayati.

”Sekarang, saya lebih percaya diri,” kata Puspita, peneliti senior mikrobiologi pada Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI yang juga kurator bakteri dan arkea itu seusai peresmian. Pusat penyimpanan koleksi mikroba atau mikroorganisme (Indonesian Culture Collection/InaCC) di kawasan Cibinong Science Center, Bogor, Jawa Barat, itu siap menampung 50.000 isolat mikroba. Saat ini baru dikoleksi 6.000 isolat yang tahan disimpan selama 50 tahun.

Kepercayaan diri Lisdiyanti tentu bukan soal penampilan fisik, melainkan pada performa penelitian. Melalui sistem penelitian dan penyimpanan berstandar internasional, semua proses identifikasi hingga karakterisasi mikroba melalui tahapan benar dan bisa dipertanggungjawabkan ilmiah.

Sebelum ada InaCC, Lisdiyanti sudah mengoleksi setidaknya 3.000 bakteri nonpatogen dalam ampul khusus berjejal di lemari pendingin pada suhu titik beku. Isolat-isolat itu sebagian sudah dimanfaatkan untuk penelitian lanjut.

Kini, seluruh mikroba koleksi tim Lisdiyanti siap dipindahkan ke InaCC. Namun, harus diidentifikasi ulang mengikuti standar pengoleksian di InaCC. ”Istilahnya, dipastikan validitas dan kualitasnya,” kata kurator mikroba khamir (yeast) yang juga peneliti pada Puslit Bioteknologi LIPI, Atit Kanti. Ia lama mempelajari sistem administrasi pengoleksian dan pendistribusian mikroba di sejumlah negara, seperti Jepang dan Jerman.

Validitas untuk memastikan kebenaran semua informasi terkait isolat mikroba di antaranya informasi kemurnian, asal, jenis, kurator, dan waktu pengoleksiannya. Sementara kualitas merujuk pada kondisi mikroba bahwa harus benar-benar hidup dan bukan patogen serta diketahui karakternya.

Nantinya seluruh koleksi yang disimpan, baik dari peneliti LIPI, akademisi, perusahaan, maupun individu, akan diperlakukan sama. InaCC jadi ”bank” koleksi mikroba nonpatogen yang dikumpulkan melalui proses dan sistem berstandar internasional. Seluruh mikroba diketahui identitas dan pemiliknya.

Pusat rujukan
d3d6e799a3fc4e2f8b6040dc652b7398Tidak hanya mencari, menyimpan, dan mendistribusikan koleksi, InaCC diharapkan menjadi pusat rujukan nasional segala informasi tentang mikroba Tanah Air dan potensi pemanfaatannya. Kini, seiring keberadaan gedung berikut fasilitas dan sumber daya manusianya, siapa saja—individu atau kelompok dari dalam maupun luar negeri—bisa menjadikan InaCC sebagai tujuan mencari informasi.

Ada enam tim kurator, yaitu tim mikroba jamur (fungi), tim khamir (yeast), tim actinomycetes, tim mikroalga, tim bakteri dan arkea, serta tim DNA dan bakteriofag. Seluruh tim beranggota peneliti mikroba yang mengenyam pendidikan lanjut, yang sebagian besar belajar di Jepang, negara kecil yang sangat terobsesi dengan pembangunan negara berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

Jumlah dan kapasitas peneliti serta alat-alat pendukung akan ditambah, yang sebagian hibah Jepang. Semua itu untuk mencapai performa tinggi. Indonesia, negara kaya sumber daya alam, belum memanfaatkannya maksimal dan berkelanjutan.

Salah satu keunggulan InaCC adalah keberadaan pemindai (screening) yang bisa mengenali karakter mikroba koleksi. Itu satu tahap di atas identifikasi awal mikroba. Dengan screening, diketahui potensi lanjut atau manfaat mikroba tertentu.

Peneliti bioteknologi LIPI, Yopi Sunarya, mengatakan, ia sebagai peneliti pada tahap lanjut atau pengguna berkepentingan dengan InaCC. Ia tinggal mengambil mikroba koleksi yang teridentifikasi awal untuk diketahui lebih lanjut pemanfaatannya. ”Tak perlu pergi jauh mencari mikroba. Hemat waktu, energi, dan segalanya,” katanya.

Setahun terakhir, Yopi bersama tim mengembangkan bioenergi memanfaatkan mikroba pendegradasi biomassa (sampah organik, seresah daun, dan limbah perkebunan) atas dana Jepang. Ia beruntung, dari 100 isolat mikroba yang diteliti, timnya memperoleh mikroba khusus sesuai tujuan. Targetnya, tahun 2018, berdiri kilang percontohan penghasil bioetanol dan bioplastik berbasis biomassa.

Bioekonomi
Mikroba, makhluk hidup superkecil, bukan hanya sumber utama bahan aktif bioenergi. Kegunaannya luas, seperti bidang pangan, obat-obatan (kesehatan), atasi pencemaran lingkungan (bioremediasi), dan kosmetik. Bahkan, dunia kini sedang menuju pembangunan ekonomi berbasis hayati (bioekonomi) atau bioresources.

”Tim dari Jepang sangat antusias dengan perkembangan penelitian kami,” kata Yopi. Khusus proyek itu, 17 perusahaan swasta Jepang bergabung dalam National Bioresource Center (NBC) di bawah Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang untuk turut mendanai proyek.

Wakil Pemerintah Jerman juga bertandang ke LIPI, Maret 2014. Mereka menjajaki kerja sama, salah satunya mengembangkan bahan bakar berbasis biomassa di bawah proyek National Research Strategy Bioeconomy 2030.

Menurut Sekretaris Utama LIPI Siti Nuramaliati Prijono, yang juga mantan Deputi Kepala LIPI Bidang Ilmu Hayati, banyak negara niat bekerja sama.

Data Kementerian Riset dan Teknologi, periode 2009-2013, sekitar 800 proposal penelitian diajukan dari AS, Tiongkok, Perancis, Australia, Inggris, Belanda, Korea Selatan, dan Kanada. Mayoritas bidang keanekaragaman hayati terkait penelitian obat dan bioenergi, selain identifikasi satwa endemik di Tanah Air (Kompas, 11/4/2014).

Di Indonesia, terjadi sebaliknya. Dunia riset jauh dari prioritas. Dana riset nasional kurang dari 1 persen produk domestik bruto. Terakhir, dana pembangunan InaCC—tulang punggung penelitian hayati— tersendat pada akhir 2013.

Model bisnis
Secara khusus, saat meresmikan InaCC, Wakil Presiden Boediono menegaskan perlunya memastikan model bisnis pengelolaan InaCC. Artinya, keberadaannya harus bisa menjamin keberlangsungan dan operasionalisasi penelitian terkait mikroba dan InaCC itu sendiri.

Sebab, jika seluruhnya mengandalkan APBN, kata Boediono, sewaktu-waktu bisa naik, dihentikan, atau dipotong. ”Ini realitas. Karena itu, harus dipikirkan model bisnis InaCC agar mampu terus hidup dan maju. Penelitian ini penting dan kadang kita melupakan,” katanya.

Kepala LIPI Lukman Hakim mengatakan, pemanfaatan mikroba untuk mikrobiologi dan bioteknologi secara berkesinambungan bisa segera diwujudkan. LIPI telah memulai eksplorasi, identifikasi, karakterisasi, dan koleksi sejak tahun 1960.

Tanpa kecerdasan pemerintah melihat hubungan kemajuan bangsa dengan iptek, Indonesia tetap hanya menjadi obyek dan pasar, bukan pelaku, apalagi penentu. Pusat koleksi mikroba sebenarnya langkah penting.(WHY/BRO/A04)

Oleh: Gesit Ariyanto

Sumber: Kompas, 21 September 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: