Home / Berita / Melayani Masyarakat Menjangkau Dunia

Melayani Masyarakat Menjangkau Dunia

Bencana alam silih berganti melanda sejumlah wilayah di Indonesia, bahkan jumlahnya terus meningkat. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, tahun 2016 ada peningkatan 35 persen kejadian bencana dibandingkan dengan pada 2015. Bahkan, bencana tahun lalu merupakan yang terbanyak dalam 14 tahun terakhir, yaitu mencapai 2.342 kejadian.

Di antara musibah itu, bencana hidrometeorologi paling dominan. Banjir paling sering melanda, yakni 766 kali kejadian, yang menewaskan 147 orang. Namun, tanah longsor yang terbanyak merenggut korban jiwa. Dari 611 peristiwa longsor, tercatat 188 orang meninggal.

“Curah hujan yang tinggi hingga menimbulkan banjir dan tanah longsor itu sebenarnya lebih disebabkan oleh ulah manusia yang merusak sistem hidrologi alami,” ujar Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB yang juga pakar hidrologi.

Kejadian bencana antropogenik itu pada masa mendatang bakal makin sering melanda negeri ini karena lingkungan kian rusak. Ancaman ini telah menyadarkan sebagian masyarakat dan pemerintah daerah serta pihak-pihak terkait. Oleh karena itu, mereka memerlukan informasi prediksi kemunculan fenomena alam itu sebagai dasar untuk melakukan upaya pencegahan dan peredaman dampaknya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun berupaya meningkatkan penyampaian informasi prediksi cuaca, iklim, dan peringatan dini bencana kebumian (letusan dan erupsi gunung berapi serta tsunami) yang dilakukan sejak 30 tahun lalu. Kiprah BMKG ini terangkum dalam buku berjudul BMKG, 70 Tahun Melayani Masyarakat, yang diluncurkan saat hari ulang tahun badan observasi MKG ini, Jumat (21/7), di Kantor Pusat BMKG Jakarta.

Layanan informasi
Dalam upaya meningkatkan akses informasi bagi masyarakat, sejak Juni lalu, BMKG memberikan layanan informasi cuaca dan iklim secara daring melalui aplikasi di telepon seluler atau telepon cerdas yang dila. Informasi prakiraan cuaca, peringatan dini cuaca hingga tiga hari ke depan, tingkat pencemaran udara, dan gempa tersedia gratis melalui aplikasi App Store dan Play Store di ponsel dan situs http://apps.bmkg.go.id.

Pada 31 Maret lalu, BMKG meluncurkan layanan informasi cuaca maritim yang dinamai Ocean Forecast System (OFS). Layanan ini dapat diakses di ponsel berbasis Android/IOS. Informasi yang tersedia meliputi informasi arus, suhu, dan salinitas di berbagai kedalaman, informasi lintasan kapal untuk memantau tumpahan minyak, serta mendukung operasional pencarian dan penyelamatan.

KOMPAS/YUNI IKAWATI–Meteorology Early Warning Center di kantor pusat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika di Jakarta menampilkan citra liputan awan, arah dan kecepatan angin, serta sistem prakiraan kondisi kelautan. Citra di layar monitor ini hasil pengindraan jauh satelit cuaca Himawari dan radar.

Untuk mengembangkan sistem peringatan dini bencana, kata Kepala BMKG Andi Eka Sakya, BMKG mengembangkan sistem peringatan dini multibencana (MHEWS) dan menyelenggarakan pelatihan dengan dukungan dana dari Jepang. Program ini diselenggarakan Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UN ESCAP) dalam kerangka kerja sama selatan-selatan. BMKG dipercaya membangun proyek percontohan MHEWS di salah satu negara Pasifik Barat.

Dukungan BMKG pada sektor strategis, dalam hal ini pertanian, dilakukan dengan membangun sistem otomatis pemantau agroklimat, menyusun indeks kekeringan lahan, dan menyelenggarakan sekolah lapang iklim (SLI). Untuk menetapkan indeks kekeringan lahan, telah dibangun sekitar 250 pos agroklimat di 18 provinsi, 11 di antaranya merupakan sentra padi. Informasinya disampaikan kepada petani untuk menyesuaikan pola tanamnya dalam kondisi cuaca ekstrem sehingga kegagalan panen dapat dicegah.

Adapun pelatihan penerapan data iklim untuk pertanian dan perikanan dilakukan melalui SLI. Sekolah iklim untuk petani dan nelayan yang dirintis sejak 2003 ini telah diterapkan di 23 provinsi dan melibatkan sekitar 400 petani. Program ini dinilai berhasil oleh banyak negara dan lembaga di dunia. Asosiasi Negara-negara di Asia Tenggara (ASEAN), Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), dan Badan Atmosfer dan Kelautan Nasional AS (NOAA) menilai program ini berhasil dalam menerapkan prakiraan cuaca dan iklim untuk mengatur pola tanam.

Keberhasilan ini, menurut Sekretaris Utama BMKG Widada Sulistya, antara lain, terlihat pada peningkatan produksi pertanian di Nusa Tenggara Barat dari 5 ton menjadi 9 ton per hektar. Karena itu, tiga organisasi besar dunia tersebut sejak 2014 meminta BMKG memberikan pelatihan SLI bagi pengajar dari negara ASEAN lainnya, di antaranya Filipina dan Vietnam serta negara di Pasifik, yaitu Tuvalu dan Vanuatu.(YUNI IKAWATI)
———-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 28 Juli 2017, di halaman 14 dengan judul “Melayani Masyarakat Menjangkau Dunia”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: