Home / Berita / Melacak Penyakit Dengan Bantuan DNA Probe

Melacak Penyakit Dengan Bantuan DNA Probe

Mendeteksi kelainan genetika pada sesorang, apalagi masih berupa janin, sangat sukar. Tetapi hal itu bisa dipermudah dengan adanya DNA probe yang dirancang khusus untuk setiap kelainan genetika.

KEMAJUAN bioteknologi yang begitu pesat saat ini memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi peningkatan kesejateraan. Mendeteksi kelainan genetika pada sesorang, apalagi masih berupa janin, sangat sukar. Tetapi hal itu bisa dipermudah dengan adanya DNA probe yang dirancang khusus untuk setiap kelainan genetika. Mendeteksi kelainan genetika pada sesorang, apalagi masih berupa janin, sangat sukar. Tetapi hal itu bisa dipermudah dengan adanya DNA probe yang dirancang khusus untuk setiap kelainan genetika. Mendeteksi kelainan genetika pada sesorang, apalagi masih berupa janin, sangat sukar. Tetapi hal itu bisa dipermudah dengan adanya DNA probe yang dirancang khusus untuk setiap kelainan genetika.raan umat manusia. Kehadiran bioteknologi ini diramalkan akan mencapai klimaksnya pada tahun 2020, setelah berbagai penem uan terungkap melalui riset yang membutuhkan ketelitian, kecerdikan, waktu, dana, dukungan peralatan dan sebagainya.

Banyak pihak meramalkan bahwa kemajuan bioteknologi ini nanti akan menyamai kemajuan yang telah dicapai bidang elektronika, komputer, teknologi ruang angkasa dan sebagainya. Melihat kegunaan yang demikian besar dari bioteknologi ini, banyak negara yang menaruh harapan terhadap penelitian-penelitian yang berkaitan dengan bioteknologi.

Di antara bidang bioteknologi, ternyata bioteknologi kesehatan menduduki peringkat teratas dalam kajian ilmu dan bisnis. Banyak perusahaan bioteknologi yang menyandarkan diri pada bioteknologi kesehatan ini. Salah satu kemajuan bioteknologi kesehatan adalah aplikasi pelacakan kelainan genetika, virus bakteri dan organisme lain dengan menggunakan DNA probe. DNA probe ini merupakan untai
tunggal DNA yang diberi penanda, bisa isotop maupun non isotop. Untuk mendeteksi suatu virus tertentu misalnya, maka harus dibuat DNA probe yang spesifik bisa mendeteksi virus tersebut. Urutan basa-basa tertentu pada fragmen DNA itulah yang menunjukkan kespesifikan DNA probe. Fragmen. DNA yang spesifik miliknya bakteri Salmonella, misalnya, maka bisa dijadikan DNA probe untuk mendeteksi Salmonella itu sendiri. Apabila terjadi komplemen (perpasangan) antara basa-basa pada untai DNA probe dan basa-basa pada DNA sampel, maka hal ini berarti bahwa identifikasi tersebut positif.

Berbagai penyakit kelainan genetika, virus, bakteri dan sebagainya bisa dideteksi dengan bantuan DNA probe. Ada lebih dari 30 penyakit kelainan genetika yang sudah dapat dilacak dengan DNA probe, antara lain talasemia, haemopilia A dan B, fenilketonuria (gangguan akibat sedikitnya enzim fenilalanin hidroksilase), cystic fibrosis, defesiensi ADA (enzim adenosin deaminase) dan sebaganya.

Mendiagnosa seseorang memiliki kelainan genetika sejak dini, membutuhkan waktu yang lama serta diperlukan kesabaran dan ketangguhan kerja yang tinggi. Dalam era revolusi bioteknologi ini, cara-cara pendeteksian penyakit diinginkan secepat mungkin. Kalau bisa sejak bayi masilt dalam kandungan.

DNA probe juga dapat mendeteksi adanya bakteri Salmonella yang mencemari makanan. Deteksi Salmonella secara konvensional membutuhkan waktu sekitar 5 hari, maka dengan DNA probe hanya diperlukan waktu 2 hari. Juga dapat dilacak mikroorganisme Listeriamonocylogenes yang mencemari bahan pangan dengan DNA probe ini (Food Technology, Juli 1988).

Hingga kini sudah ada bcbcrapa bakteri dan virus yang dapat dilacak dengan DNA probe, seperti Streptococcus, Staphylococcus, M. leprae, Pseudomonas fluorescens, virus Herpes simplex 2, Hepatitis B, Rubella dan lainnya.

Berbagai pihak masih terus berlomba guna menciptakan DNA probe. Kalangan peneliti serta pihak industri di AS paling dominan menciptakan DNA probe ini. Sudah lebih dari 7 perusahaan di AS yang muncul untuk meramaikan industri DNA probc, yang satu sama lain berlomha mengadakan kerja sama pcnelitian dan membeli hak paten dari pihak universitas.

Misalnya Enzo Biochem membeli lisensi atas penemuan penandaan (labeling) DNA memakai zat nonradioaktif dari Universitas YaIe. Pasaran DNA probe ini sangat pokstisial, diperkirakan mencapai 1 milyar dollar AS pada tahun 1995. (Bio/ technology, Maret 1987).

DNA PROBE
DNA probe yang sedang menjadi idola ini berupa untai tunggal DNA yang urutan basanya komplemen terhadap untai tunggal DNA dari sampel yang akan dideteksi. DNA probe ini diberi penanda yang berupa radioisotop 32P maupun penanda yang terakhir ditemukan yakni biotinstreptavidin.

Untuk menghasilkan DNA probe itu, ada dua teknik yaitu melalui jasa rekayasa genetika pada E. coli bila penyusun DNA itu panjang, misalnya sampai 150 basa. Apabila DNA itu pendek, bisa memakai mesin DNA synthesizer.

Perlu pekerjaan yang ulet untuk menentukan urutan basa yang akan dijadikan sebagai DNA probe. Misalnya untuk membuat DNA probe untuk melacak Samonella. Mulanya dipilih satu strain Salmonella dari sekitar 250 strain yang ada. Strain yang dipilih ini didasarkan pada strain Salmonella yang banyak dijumpai di herbagai ternpat.

DNA pada Salmonella diisolasi, lalu dihidrolisis oleh berbagai macam enzim restriksi. Untai-untai DNA yang terbentuk lalu didenaturasi sehingga terbentuk dua untai DNA tunggal. Selanjutnya diberi penanda.

Karena tidak diketahui untai tunggal DNA yang mana spesifik miliknya Salmonella saja, maka perlu dilakukan prossedur skrening yang sistematik. Dalam hal ini pengujian dilakukan untuk mencari untai tunggal DNA spesifik yang hanya terhibridisasi pada DNA Salmonella, tetapi tidak terhibridisasi (berpasangan) dengan DNA dari berbagai sumber lain.

Apabila di antara untai-untai tunggal DNA itu ada yang terhibridisasi, hal ini berarti bahwa untai tunggal DNA tersebut dapat digunakan sebagai DNA probe untuk melacak ada tidaknya Salmonella.

CARA KERJA
Cara kerja DNA probe ini didaSarkan pada proses hibridisasi DNA antara untai tunggal DNA probe dan untai tunggal DNA sampel. Apabila basa-basa nukleotidanya komplemen satu sama lain, berarti terjadi hibridisasi. Hibridisasi artinya perpasangan antara basa-basa di kedua untai DNA. Basa A (adenin) selalu berpasangan dengan basa T (timin), basa G (guanin) selalu berpasangan dengan basa C (sitosin).

Kalau DNA probe diberi penanda yang berupa isotop 32 P, maka deteksinya menggunakan alat yang dapat menerima pancaran radiasi, tetapi bila menggunakan penanda nonradioaktif, yakni biotin + streptavidin, maka deteksinya dapat menggunakan mikroskop fluorescens.

Pelacakan virus Herpes sudah dapat dilakukan dengan menggunakan DNA probe yang diberi penanda isotop sejak 1983 lalu. Namun sejak tahun 1987, lembaga pengawasan obat dan makanan (FDA) di AS memberi ijin pada perusahaan Enzo Biochem untuk memasarkan DNA probe berlabel non-radioaktif untuk melacak virus Herpes ini. –mgs

Sumber: Majalah AKUTAHU/ MARET 1992

Share
%d blogger menyukai ini: