Data DNA agar Terapi Lebih Tepat

- Editor

Kamis, 12 Maret 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Riset genetika pada populasi Nusantara perlu dilakukan. Hal itu karena data asam deoksiribonukleat populasi Nusantara bisa membuat penanggulangan penyakit lebih efektif.
Menurut peneliti pada Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Herawati Sudoyo, seusai Seminar “Genetic Diversity: Austronesian Diaspora”, di Jakarta, Rabu (11/3), respons tubuh setiap orang terhadap penyakit berbeda. Selain karena lingkungan, faktor genetika memengaruhi.

Maka dari itu, latar belakang genetika tiap populasi di Nusantara perlu diketahui. Dengan demikian, pendekatan dan penanggulangan penyakit bisa lebih tepat. “Pemetaan DNA atau epidemiologi molekuler perlu untuk manajemen penyakit,” ujarnya.

Ia mencontohkan, pemanfaatan data genetika untuk penyakit itu bisa dilakukan pada kelainan sel darah merah atau talasemia. Adapun penapisan perinatal bisa dilakukan dengan menggunakan data genetika pasangan suami-istri untuk menyaring sel pembawa sifat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selama ini data genetika kerap digunakan untuk identifikasi forensik mulai dari identifikasi korban bencana, terorisme, serta perdagangan manusia dan satwa liar. Ke depan, Lembaga Eijkman akan meneliti genetika, bagaimana respons imunitas tubuh terhadap tekanan.

Sayangnya, riset dan pemetaan DNA di Asia umumnya terbelakang. Itu karena sedikit peneliti yang tertarik atau teknologi untuk melakukan itu belum dikuasai. Untuk itu, butuh komitmen jangka panjang pemerintah dalam mendukung riset.

Herawati memaparkan temuannya dalam melacak hubungan orang Madagaskar dengan Indonesia secara genetika.   Hasilnya, meski banyak kata dalam bahasa Malagasi, bahasa nasional Madagaskar, yang sama dengan bahasa suku Dayak Maányan di Kalimantan, tak ada kaitan genetika di antara kedua populasi itu.

“Justru populasi penduduk di Indonesia timur, mulai dari garis Wallace sampai timur, memiliki kedekatan genetika secara paternal dan maternal,” ujarnya.

Philippe Grange, linguis dari Universite La Rochelle, Perancis, berasumsi, tanah asal suku Bajo dari muara Sungai Barito. Lalu, mereka bermigrasi di wilayah segitiga terumbu karang mulai dari Filipina, Sulawesi, hingga ke Nusa Tenggara dan timur Jawa.

Namun, riset linguistik suku Bajo di Indonesia sedikit. Padahal, itu bisa mengungkap misteri hubungan Nusantara dengan leluhur orang Madagaskar. Karena itu, ia akan meneliti genetika suku Bajo di Kalimantan. (ADH)
————————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 Maret 2015, di halaman 14 dengan judul “Data DNA agar Terapi Lebih Tepat”.

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 38 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB