Home / Berita / Edukasi Meminimalkan Dampak Penyakit Bawaan

Edukasi Meminimalkan Dampak Penyakit Bawaan

Edukasi tentang kelahiran bayi dengan kelainan bawaan di Indonesia amat kurang. Padahal, edukasi memungkinkan deteksi dini dilakukan sehingga tata laksana medis secepatnya dilakukan untuk meminimalkan dampaknya.

Menurut Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman Bhakti Pulungan, Kamis (3/3), di Jakarta, pengetahuan masyarakat tentang kelainan bawaan minim karena tak ada edukasi. Padahal, dengan mengetahui faktor risiko kelainan bawaan, orangtua dan dokter bisa melakukan intervensi untuk meminimalkan dampaknya.

“Satu dari 33 bayi di dunia lahir dengan kelainan bawaan. Sebanyak 276.000 meninggal di bulan pertama setelah dilahirkan karena kelainan bawaan,” kata Aman mengomentari Hari Kelainan Bawaan Sedunia yang diperingati setiap 3 Maret.

Data Organisasi Kesehatan Dunia Regional Asia Tenggara (WHO-SEARO) tahun 2010 memperkirakan, prevalensi kelainan bawaan di Indonesia 59,3 per 1.000 kelahiran hidup. Jika setiap tahun lahir 5 juta bayi di Indonesia, maka ada sekitar 295.000 kasus kelainan bawaan per tahun di Indonesia.

Aman menjelaskan, kelainan bawaan bisa disebabkan beberapa hal, mulai dari genetik, infeksi penyakit, nutrisi, hingga lingkungan. Jadi, perlu diketahui asal-usul dan rekam medis keluarganya.

Ia mencontohkan usia perempuan saat hamil terkait terjadinya salah satu kelainan bawaan, yakni down syndrome. “Satu dari 100 bayi yang lahir dari ibu hamil usia di atas 40 tahun kemungkinan down syndrome,” ujarnya.

Kondisi itu diperburuk dengan tak adanya perusahaan asuransi komersial bersedia menanggung biaya kesehatan bayi yang lahir dengan kelainan bawaan saat berobat.

Data WHO-SEARO menyebut, kelainan bawaan yang banyak terjadi di Asia Tenggara ialah kelainan jantung, kelainan saraf, dan down syndrome. Dalam pernyataan tertulis WHO-SEARO disebutkan, intervensi sebelum dan saat hamil mencegah kematian, mengobati, dan mengurangi dampak kelainan bawaan pada bayi. Misalnya, vaksin rubela, asupan asam folat cukup, asupan yodium adekuat, dan layanan antenatal baik jadi kunci mencegah kelainan bawaan.

Kematian bayi
Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan Eni Gustina menjelaskan, masalah kelainan bawaan harus mendapat perhatian khusus karena berkontribusi pada kematian neonatal. Riset Kesehatan Dasar 2007 menunjukkan, 1,4 persen bayi baru lahir usia 0-6 hari pertama kelahiran dan 18,1 persen bayi baru lahir usia 7-28 hari pertama meninggal karena kelainan bawaan.

“Kelainan bawaan menyebabkan bayi lahir mati dan abortus spontan. Meski bayi bertahan hidup, banyak di antaranya menyandang disabilitas dan mengidap penyakit kronis,” kata Eni.

Kemenkes melakukan surveilans sentinel bersama 13 rumah sakit terpilih di 9 provinsi sejak September 2014. Ada 15 jenis kelainan bawaan yang disurveilans dengan kriteria antara lain kelainan bawaan yang bisa dicegah, mudah dideteksi, bisa dikoreksi (preventable, detectable, dan correctable), serta jadi masalah kesehatan masyarakat.

Dari kegiatan itu, teridentifikasi 231 bayi dengan kelainan bawaan yang mayoritas lahir dengan satu jenis kelainan bawaan (87 persen). Ada juga yang lahir dengan lebih dari satu jenis kelainan bawaan (13 persen).

Kelainan bawaan paling banyak adalah dari kelompok sistem muskuloskeletal atau otot dan tulang (talipes equinovarus) 22,3 persen, sistem saraf (anensefalus, spina bifida, dan meningokel) 22 persen, celah bibir dan langit-langit 18,5 persen, serta omfalokel 12,5 persen. (ADH)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 Maret 2016, di halaman 14 dengan judul “Edukasi Meminimalkan Dampak”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: