Home / Berita / Manuskrip Bencana; Menafsir Ulang Riwayat Gunung

Manuskrip Bencana; Menafsir Ulang Riwayat Gunung

Akhir tahun 2013, gunung api di Pulau Lombok, yang tak dikenal dalam katalog gunung api di Indonesia, baru diketahui pernah meletus hebat tahun 1257. Catatan tentang letusan Gunung Samalas itu ada dalam Babad Lombok. Temuan ini menegaskan pentingnya manuskrip kuno menarasikan sejarah Nusantara.

Pemantauan dan prediksi gunung api berada di dua kutub saling berkaitan, yaitu soal riwayat gunung dan aktivitas kekiniannya. Riwayat gunung api bersumber dari catatan sejarah ataupun jejak geologinya, sedangkan kondisi kekinian bersumber dari analisis geofisika dan kimianya.

Dengan mempelajari geologi gunung api, riwayat letusan terlacak, karakter, jangkauan bahaya, hingga periode letusan sejak ratusan bahkan ribuan tahun sebelumnya. Data geologi itu lalu dikombinasikan dengan letusan-letusan terbaru yang tercatat sejarah—dalam kasus Indonesia sangat terbatas datanya—kemudian dijadikan dasar membuat peta risiko bencana gunung api, bahkan menentukan tipe gunung api.

Hingga sebelum tahun 2010, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi membagi gunung api aktif di Indonesia dalam tiga kelompok berdasarkan sejarah letusannya. Tipe A (79 buah) adalah gunung api yang meletus sejak tahun 1600, tipe B (29 buah) yang diketahui meletus sebelum tahun 1600, dan tipe C (21 buah) adalah lapangan solfatara dan fumarola (Bemmelen, 1949; Van Padang, 1951; Kusumadinata, 1979).

Setelah letusan Gunung Sinabung pada 2010, gunung api tipe A di Indonesia bertambah. Sinabung yang semula tipe B, dan karenanya tak dipantau dan tidak memiliki pos pemantauan, dinaikkan tipenya menjadi A.

11081445-(1)hPenentuan tipe gunung api ini memang sarat masalah. Kepala Badan Geologi Surono berkali-kali mengatakan, seharusnya tidak ada pembedaan tipe gunung api, sebagaimana dilakukan di Jepang. ”Semua gunung api aktif harus dipantau karena bisa meletus,” kata dia. Pembedaan tipe ini lebih ke persoalan politik anggaran.

Tak hanya itu, pembuatan tipologi gunung api sebenarnya bermasalah karena mengabaikan sumber-sumber lokal. Geolog Museum Geologi, Indyo Pratomo, mengatakan, patokan tahun 1600 untuk menentukan tipologi gunung api tipe A di Indonesia mengikuti pencatatan Belanda. ”Belanda mendarat pertama di Banten pada 1596. Itu yang dianggap titik awal pencatatan gunung api Indonesia modern,” kata dia.
Sumber manuskrip

Beberapa penelitian terbaru menunjukkan fakta berbeda. Letusan Gunung Samalas di Pulau Lombok sekitar 1257 ternyata terekam Babad Lombok. Sebanyak 15 ahli gunung api menemukan letusan Samalas melebihi kedahsyatan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa yang saat meletus pada 1815 menyebabkan tahun itu tanpa musim panas di Eropa.

”Ditemukannya ribuan kerangka manusia di London dari tahun 1258 kemungkinan terkait erat dengan dampak global letusan Samalas tahun 1257,” seperti ditulis jurnal PNAS edisi akhir September 2013.

Tulisan itu merupakan hasil penelitian 15 ahli gunung api dunia. Dari Indonesia yang terlibat adalah Indyo Pratomo, Danang Sri Hadmoko dari Geografi Universitas Gadjah Mada, dan  Surono. Dari luar negeri yang terlibat meliputi 12 ahli dari sejumlah kampus ternama di Eropa, di antaranya Frank Lavigne dari Université Panthéon-Sorbonne, Jean-Philippe Degeai dari Université Montpellier, dan Clive Oppenheimer dari University of Cambridge, Inggris.

Mereka awalnya melacak letusan Samalas dari jejak rempah vulkanik yang ada di lapisan es Kutub Utara. Jejak itu terkonfirmasi dalam Babad Lombok yang menyebut cukup rinci: ”Gunung Rinjani longsor, dan Gunung Samalas runtuh, banjir batu gemuruh, menghancurkan Desa Pamatan, rumah-rumah roboh dan hanyut terbawa lumpur, terapung-apung di lautan, penduduknya banyak yang mati. Tujuh hari lamanya, gempa dahsyat meruyak bumi, terdampar di Leneng (lenek), diseret oleh batu gunung yang hanyut, manusia berlari semua, sebagian lagi naik ke bukit…”.

Gunung Samalas itu ternyata belum masuk katalog gunung api di Indonesia. Saat ini, dalam kaldera Segara Anak, yang diduga terbentuk karena letusan Samalas masa lalu, telah terbentuk gunung baru, Gunung Barujari. ”Lokasi Samalas itu memang sekarang adalah Gunung Barujari. Kalau terus tumbuh, mungkin akan menjadi seperti Samalas lagi,” kata Indyo.

Profesor Filologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Oman Fathurahman menyebutkan, Indonesia salah satu negara pemilik naskah kuno (manuskrip) terbesar di dunia, dengan tak kurang dari 20 ragam bahasa lokal yang dipakai. Naskah kuno itu seharusnya jadi sumber primer karena mengandung sejarah kehidupan masyarakat Nusantara, termasuk kondisi alamnya di masa lalu.

Selain Babad Lombok, beberapa manuskrip juga mengisahkan letusan gunung api, misalnya naskah Bo’ Sangaji Kai di Bima, salah satu sumber terpenting petaka letusan Gunung Tambora, 11 April 1815, yang membuat Eropa tanpa musim panas.

Adapun dahsyatnya tsunami setelah letusan Gunung Krakatau pada Agustus 1883 ternyata banyak ditulis penulis pribumi. Contohnya, syair ”Lampung Karam” yang ditulis Muhammad Saleh dengan rinci. Sastrawan Betawi, Muhammad Bakir, juga menulis sastra imajinatif ”Hikayat Merpati Mas” soal itu.

Sumber lebih tua, yaitu Kitab Raja Purwa, tulisan pujangga Kesultanan Surakarta, Ronggowarsito, pada 1869 atau 14 tahun sebelum letusan Krakatau 1883, juga mengisahkan kedahsyatan letusan gunung yang disebut Gunung Kapi itu. Deskripsi dalam kitab ini sangat mirip dengan peristiwa tsunami saat Krakatau meletus pada 1883. Itu memicu tanya, apakah buku ini reportase peristiwa letusan Krakatau sebelum 1883 atau ”ramalan” terhadap letusan 1883?

Beberapa manuskrip yang secara deskriptif mengisahkan letusan gunung-gunung api itu merupakan bagian dari ribuan manuskrip Nusantara yang masih berserak dan belum banyak digali. Nusantara pun kaya sumber lisan atau folklor yang bisa jadi menyimpan kisah-kisah penting.

Oleh: Ahmad Arif

Sumber: Kompas, 7 Juni 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antisipasi Risiko Tsunami di Selatan Jawa

Kajian terbaru menunjukkan potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa. Hal itu menjadi momentum ...

%d blogger menyukai ini: