Home / Berita / arkeologi-antropologi / Mamalia-Mamalia di Relief Lalitavistara Candi Borobudur

Mamalia-Mamalia di Relief Lalitavistara Candi Borobudur

Riset terbaru mengidentifikasi 23 jenis mamalia di relief Lalitavistara, Candi Borobudur. Identifikasi tersebut memberi kesadaran bahwa masyarakat saat itu menghargai flora dan fauna sebagai bagian kesatuan kehidupan.

—Indeks Pariwisata Candi Borobudur – Relief pada Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Kamis (23/6/2016).

Relief Lalitavistara yang terukir di Candi Borobudur banyak dijumpai motif flora dan fauna yang mencerminkan keanekaragaman spesies dan pemanfaatannya oleh masyarakat Jawa kuno. Dari hasil penelitian terungkap bahwa terdapat 23 spesies mamalia dengan total sebanyak 131 individu yang tersebar di 43 panel cerita Lalitavistara. Spesies tersebut juga memiliki makna dalam mendukung konteks cerita utuh Lalitavistara.

Lalitavistara merupakan salah satu relief cerita di candi Borobudur yang mengisahkan tentang perjalanan hidup Buddha di semua masa. Kisah lima babak dalam 120 panel relief Lalitavistara digambarkan dalam sejumlah adegan di berbagai lingkungan habitat.

Para peneliti kemudian melakukan riset untuk mengidentifikasi sekaligus menganalisis makna spesies mamalia dalam relief Lalitavistara. Riset dilakukan oleh peneliti dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB), Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Negeri Sebelas Maret, dan Balai Konservasi Borobudur.

Dalam riset yang dilakukan sejak 2018 tersebut, peneliti menerapkan pengamatan secara langsung pada dinding relief candi Borobudur dan foto-foto panel. Setelah itu, peneliti melakukan analisis konsistensi bentuk atau morfologi kemunculan spesies di setiap panel.

Hasil penelitian yang telah terbit di Jurnal Biologi Indonesia itu mengungkap 23 spesies mamalia. Secara rinci, ke-23 spesies itu yakni monyet kra, lutung budeng, anjing kampung, sero ambrang, binturung muntu, linsang, musang luwak, garangan jawa, singa asia, harimau loreng, gajah jawa, kuda ternak, babi celeng, pelanduk peucang, kijang muncak, rusa timor, kerbau ternak, trenggiling peusing, bajing hitam, bajing kelapa, jelarang hitan, tikus hutan, dan kelinci tengkuk coklat.

Dari ke-23 spesies mamalia yang teridentifikasi, peneliti mengkategorikan ke dalam empat kelompok utama yaitu anjing kampung, kuda ternak, harimau loreng, dan singa asia-gajah jawa. Kuda ternak merupakan spesies yang paling banyak kemunculan individunya, sedangkan gajah jawa menjadi satu-satunya spesies yang muncul di lima babak relief Lalitavistara.

Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI Ibnu Maryanto mengatakan, dalam 120 panel relief Lalitavistara terdapat binatang mamalia, aves (burung), reptilia, ikan, dan moluska. Spesies mamalia menjadi relief yang paling banyak diukir. Spesies mamalia yang teridentifikasi juga diyakini hidup di Pulau Jawa saat itu. Hal ini menunjukkan adanya adopsi lingkungan alam setempat dalam penuangan cerita Lalitavistara.

“Dalam identifikasi mamalia itu kami deskripsikan satu per satu apakah dia binatang asli dari Indonesia khususnya Jawa atau India Utara tepatnya Nepal Selatan. Ternyata kami lihat hampir semua mamalia tersebut berada di Jawa, kecuali hanya satu yaitu singa. Tetapi dilihat dari bentuk rambutnya, singa itu merupakan singa asia dan bukan singa afrika,” ujarnya saat dihubungi, Jumat (2/10/2020).

BALAI KONSERVASI BOROBUDUR—Babak Pertanda dan Pelepasan Duniawi relief Lalitavistara menceritakan tentang keinginan Bodhisattva untuk mengganti pakaiannya yang bagus dengan jenis pakaian lain yang lebih sederhana dan sesuai. Dua Harimau Loreng (persegi kuning) terpahat di kanan panil. Keberadaan spesies tersebut diperkirakan sebagai satwa liar pembangun ekosistem hutan.

Ibnu juga meyakini bahwa relief gajah di Lalitavistara merupakan gajah jawa yang masih hidup di masa dibangunnya candi Borobudur. Sebab, relief tersebut menunjukkan ciri-ciri gajah jawa dengan bentuk telinganya yang lebih besar dibandingkan gajah asia atau gajah sumatera. Pada masa tersebut, gajah jawa juga menjadi kendaraan oleh raja-raja di Nusantara.

Spesies mamalia di relief Lalitavistara memiliki empat makna yaitu sebagai pembangun habitat lingkungan, penanda waktu, sarana kendaraan atau transportasi, dan ragam hias. Spesies mamalia yang muncul di setiap babak ini juga memiliki makna dalam mendukung konteks cerita utuh relief Lalitavistara.

“Hampir semua binatang yang ada di Lalitavistara adalah simbol-simbol kehidupan. Babi juga tersingkap di sana. Kita melihat babi sebagai simbol keserakahan, tetapi di sini dimaknakan sebagai hewan yang suka berlari kencang dan tidak bisa dihentikan. Ini bermakna bahwa Buddha melakukan penyebaran agama dengan sungguh-sungguh, tekun, dan lurus,” tuturnya.

Analisis bahasa rupa
Selain ahli biologi, Peneliti arkeologi dari Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Pindi Setiawan juga melakukan analisis struktural atau bahasa rupa dalam identifikasi relief spesies mamalia relief Lalitavistara. Imaji dalam setiap relief dibongkar untuk mengetahui tujuan orang memahat relief tersebut.

“Kami bedah dulu setiap gambar untuk melihat strukturnya seperti apa. Ternyata setelah dibedah secara bahasa rupa itu juga bisa membetulkan hasil peneliti sebelumnya. Contohnya peneliti sebelumnya menyimpulkan gambar tersebut merpati, tetapi dilihat dari struktur gambar, burung yang berperilaku seperti itu adalah elang,” katanya.

Pindi memandang, adanya kolaborasi dari konteks ilmu biologi dan seni rupa membuat riset ini menghasilkan perspektif baru dalam menyingkap sejarah dan cerita di candi Borobudur melalui relief yang terpahat. Sebab, selama ini masyarakat lebih berpedoman pada teks dalam melihat sejarah Borobudur.

Dijadikannya relief sebagai pedoman untuk mengungkap relief di Borobudur juga pernah dilakukan arkeolog Belanda, Nicholaas Johannes Krom pada 1927. Riset itu kemudian diterbitkan Krom dalam buku “Barabudur, Archaeological Description”. Namun, Pindi menilai, Krom kurang memahami ilmu seni rupa sehingga analisis gambar terkesan sekadar dicocokan dengan teks.

“Begitu bercerita berdasarkan relief, secara umum kesimpulannya akan sama dengan versi teks, tetapi urutannya akan berbeda. Jadi banyak yang mengira membaca Lalitavistara bisa dari mana saja karena patokannya teks. Padahal, ini suatu relief yang berurut atau berseries sehingga pembacaannya juga harus konsisten,” ucapnya.

Tantangan dan harapan
Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI Cahyo Rahmadi mengatakan, karakter morfologi untuk identifikasi yang terbatas menjadi tantangan dalam riset serupa ke depan. Jumlah panel yang cukup banyak juga membuat riset memerlukan waktu lama sehingga penyelesaian identifikasi juga dilakukan secara bertahap.

“Dalam konteks ilmu bilogi tentu identifikasi ini tidak bisa bekerja sendiri. Oleh karena itu, kami mengajak tidak hanya ahli biologi yang mengenal kelompok spesies burung, mamalia, atau reptil, tetapi juga dalam konteks visual atau desain gambar. Ternyata ini dapat memperkaya proses identifikasi,” tuturnya.

Ia berharap, hasil kajian tentang makna kehadiran spesies fauna di Lalitavistara menjadi informasi yang penting dan menarik untuk melengkapi cerita panel. Kelengkapan cerita ini akan menambah nilai candi Borobudur sebagai wisata sejarah dan wisata edukasi.

“Ke depan perlu kita pikirkan bagaimana mengkombinasikan Borobudur sebagai cultural heritage sekaligus sebagai media untuk mengenalkan keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna. Kita perlu memberikan pemahaman bagaimana masyarakat Jawa kuno bisa menghargai flora dan fauna sebagai bagian suatu kesatuan kehidupan,” ungkapnya.

Oleh PRADIPTA PANDU

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 3 Oktober 2020

Share
%d blogger menyukai ini: