Home / Berita / Astronomi / Magnet Gerhana yang Menyatukan

Magnet Gerhana yang Menyatukan

Sebagai peristiwa alam yang terukur, manusia sudah mampu memprediksi kedatangan gerhana matahari dan bulan. Bahkan, sejak ribuan tahun sebelum Masehi. Pemahaman yang baik tentang dinamika gerak Matahari, Bulan, dan Bumi serta kemajuan ilmu komputasi membuat tingkat akurasi prediksi manusia tentang gerhana semakin baik. Meski gerhana terus berulang, perburuan manusia terhadap gerhana tetap hidup. Tak pernah pudar.

Setiap gerhana matahari itu istimewa,” kata peneliti Observatorium Bosscha sekaligus dosen Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), Hakim L Malasan, Sabtu (20/2). Kondisi Matahari yang selalu berubah dan permukaan Bumi yang dilintasi jalur gerhana yang juga berbeda-beda membuat setiap momen gerhana matahari selalu menarik para pemburu gerhana.

Karena itu, sejumlah astronom, peneliti bidang ilmu terkait, astronom amatir, dan penggemar astrofotografi mulai bersiap menyambut gerhana matahari total (GMT), 9 Maret 2016. Bahkan, sejak beberapa tahun sebelumnya. Tak hanya mempelajari jalur gerhana yang akan terjadi, mereka juga memperdalam teori, mempelajari berbagai eksperimen, hingga membeli sejumlah peralatan baru untuk mendukung penelitian.

Menurut Hakim, keistimewaan gerhana kali ini terjadi saat aktivitas Matahari minimum dan jalur totalitas gerhana yang melintasi wilayah tropis. Kejadian itu langka, mengingat mayoritas rekaman gerhana matahari terjadi saat aktivitas Matahari sedang maksimum dan melintasi daerah subtropis atau kutub Bumi.

Puncak aktivitas Matahari terakhir terjadi pada 2012-2013 sehingga saat ini aktivitas Matahari sedang menurun. Saat aktivitas Matahari minimum, korona Matahari yang terlihat biasanya hanya berbentuk simetris, tidak pepat atau tak mengumpul pada bagian tertentu. Namun, kondisi itu justru membuat peneliti Matahari bisa mengamati kedalaman korona.

“Korona sejati itu tidak bisa dilihat ketika gerhana di saat aktivitas Matahari maksimum,” tambahnya. Kedalaman sejati korona itu juga membuat para peneliti bisa mengukur diamater Matahari sebenarnya yang menyusut 0,2 persen selama 200 tahun.

Sementara itu, bagi peminat astrofotografi dan astronom yang bertugas mengambil citra Matahari, gerhana di wilayah tropis akan membuat peluang memperoleh citra Matahari berkualitas dan resolusi tinggi sangat besar. Peluang itu diperoleh karena ukuran turbulensi atmosfer atau seeing di wilayah tropis kecil. Dengan demikian, citra halus kromosfer, korona, dan untaian mutiara Baily’s beads bisa diperoleh dengan baik.

Menyambut fenomena alam langka nan istimewa itu, hingga awal Februari, sudah ratusan astronom, peneliti, dan astronom amatir bersiap mengamati GMT di sejumlah daerah yang dilintasi jalur totalitas gerhana dan di daerah dengan gerhana sebagian. Jumlah itu belum termasuk astronom profesional dan amatir.

Para pemburu gerhana itu berasal dari dalam dan luar negeri, baik dari institusi pendidikan, lembaga penelitian, komunitas astronom, penggiat edukasi publik, astronom komunikator, maupun astronom amatir atau peminat astrofotografi. Mereka yang dari luar negeri umumnya bekerja berdasar kerja sama dengan mitra dari Indonesia.

Berbeda dengan gerhana matahari yang melintasi Indonesia sebelumnya, saat penelitian dan pengamatan publik hanya difokuskan di lokasi tertentu, maka lokasi penelitian, pengamatan, dan edukasi publik GMT 9 Maret tersebar luas di seluruh wilayah, mulai dari Muko-muko di utara Bengkulu hingga Maba di timur Pulau Halmahera. Mereka terdistribusi mulai dari kota besar, daerah wisata populer, hingga daerah-daerah terpencil yang kurang dikenal masyarakat Indonesia.

Hakim, yang berencana meneliti tentang flash spectrum korona dan kromosfer serta dinamika korona di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, telah mempersiapkan diri sejak pertengahan 2015. Selain mencoba spektograf baru yang dlibeli khusus menyambut GMT, mereka juga mengecek dan mencoba penggunaan berbagai peralatan sehingga pengamatan selama totalitas gerhana yang singkat, kurang dari tiga menit, bisa sukses.

Selain Hakim yang mengamati bersama Tim Pembina Olimpiade Astronomi, berbagai lembaga penelitian lain juga banyak yang memfokuskan kegiatannya di Palangkaraya. Belum lagi sejumlah astronom yang tidak terikat lembaga tertentu juga akan menyaksikan gerhana di sana.

Tim peneliti asal Amerika Serikat dengan peralatan sangat modern seberat 6 ton bersiap mengamati gerhana matahari total di Pantai Tanjung Kodok, Lamongan, Jawa Timur, awal Juni 1983. Di saat ada larangan pemerintah bagi warga beraktivitas di luar rumah saat gerhana matahari total 11 Juni 1983, peneliti-peneliti asing justru berbondong-bondong datang ke Pulau Jawa untuk mengamati fenomena alam tersebut. Kompas/Ninok Leksono (NIN) 11-06-1983

Tim peneliti asal Amerika Serikat dengan peralatan sangat modern seberat 6 ton bersiap mengamati gerhana matahari total di Pantai Tanjung Kodok, Lamongan, Jawa Timur, awal Juni 1983. Di saat ada larangan pemerintah bagi warga beraktivitas di luar rumah saat gerhana matahari total 11 Juni 1983, peneliti-peneliti asing justru berbondong-bondong datang ke Pulau Jawa untuk mengamati fenomena alam tersebut.
Kompas/Ninok Leksono (NIN)
11-06-1983

Beberapa lokasi wisata yang direkomendasikan sebagai tempat pengamatan gerhana matahari total pada 9 Maret 2016, antara lain Situs Pokekea di Poso, Sulawesi Tengah; Batu Angus di Ternate, Maluku Utara; Pantai Tanjung Tinggi di Belitung, Kepulauan Bangka Belitung; dan Dermaga Kereng Bangkirai di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Sejumlah daerah bersiap menyambut peristiwa alam langka itu.

Tim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) berencana menggelar sejumlah program edukasi publik bersama dinas pendidikan setempat. Sementara tim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) berencana menjadikan Palangkaraya sebagai salah satu lokasi siaran langsung gerhana.

Gairah menyambut gerhana juga ditunjukkan penggiat edukasi publik, baik yang berada di lembaga penelitian maupun astronom komunikator.

Tim langitselatan, yang beranggotakan astronom, astronom komunikator, dan sejumlah astronom amatir, sudah survei lokasi pengamatan di Maba, Halmahera Timur, sejak April 2015. Survei lokasi setahun sebelumnya itu untuk mengetahui posisi Matahari sebenarnya pada waktu yang hampir sama dengan waktu gerhana.

“Selain mengecek lokasi pengamatan, juga untuk mengetahui kondisi cuaca pada waktu yang hampir sama,” kata Avivah Yamani, astronom komunikator pengelola langitselatan. Kedatangan tim saat gerhana nanti akan disertai sejumlah astronom asal Australia dan Portugal.

Sebagian besar pendanaan selama proses survei hingga keberangkatan menjelang 9 Maret ditanggung masing-masing anggota tim langitselatan. Beruntung mereka mendapat bantuan filter dan frame untuk kacamata gerhana dari sejumlah komunitas astronomi di luar negeri. Hasilnya, 1.000 kacamata gerhana siap dibagikan kepada masyarakat Maba.

Di Observatorium Bosscha ITB, Lembang, Jawa Barat, pertengahan Februari 2016, sejumlah peneliti tengah sibuk persiapan akhir pengamatan dan edukasi publik tentang gerhana yang rencananya akan dilakukan di Poso, Sulawesi Tengah, dan Tanah Grogot, Kalimantan Timur. Selain di kedua daerah yang dilintasi jalur totalitas gerhana, kegiatan serupa juga akan dilakukan di Observatorium Bosscha yang akan mengamati gerhana matahari sebagian.

Khusus ekspedisi ke Poso akan terlibat sekitar 20 peneliti dan astronom komunikator. Peneliti yang berangkat pun bukan hanya berlatar belakang astronomi, melainkan juga peneliti ITB dari bidang ilmu geofisika untuk mengamati perubahan gravitasi selama GMT dan biologi untuk mengamati perubahan tingkah laku hewan.

Selama GMT, peneliti Bosscha juga berencana melakukan live streaming gerhana di bawah kepanitiaan nasional gerhana yang dikoordinasikan Lapan. Berbagai siaran gerhana itu akan dikumpulkan Kementerian Komunikasi dan Informatika sehingga masyarakat bisa melihat GMT di berbagai tempat yang terjadi dalam waktu berbeda.

“Penyebaran hasil live streaming di sejumlah tempat itu diharapkan bisa disebarkan sehingga, baik peneliti maupun masyarakat, bisa saling mengecek gerhana di daerah lain,” kata Yatny Yulianti, peneliti Observatorium Bosscha. Selain itu, upaya itu juga untuk mengantisipasi jika gerhana gagal diamati di lokasi tertentu karena cuaca dan diperoleh dokumentasi lengkap gerhana dari berbagai titik.

Profesional dan amatir
Kegairahan menyambut gerhana itu bukan hanya dimiliki astronom profesional. Sejumlah kelompok astronomi amatir yang beberapa tahun terakhir tumbuh subur di Indonesia juga ikut bersemangat. Beberapa di antaranya, yakni Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) dan Jogja Astronomy Club (JAC).

Untuk mengakomodasi minat anggota HAAJ dan penggemar astrofotografi, HAAJ menggelar Lokakarya Astronomi Amatir (WAA), Sabtu (13/2). “Meski kegiatan ini rutin setiap tahun, tahun ini khusus bertemakan gerhana matahari untuk menyambut GMT 9 Maret,” kata Muhammad Rayhan, aktivis HAAJ.

Selain menjelaskan pentingnya mengenali jenis kamera dan tujuan memotret GMT serta penggunaan filter selama pemotretan gerhana, Rayhan juga mengingatkan pentingnya perhitungan waktu yang presisi mengingat peristiwa langka itu terjadi sangat cepat. Meski rangkaian gerhana bisa sekitar 2,5 jam, totalitas gerhana hanya berlangsung 1,5-3 menit dan peralihan dari gerhana matahari sebagian menuju total hanya hitungan detik.

Sebagian besar pengurus HAAJ berencana mengamati GMT di Palu dan sekitarnya. Namun, sebagian di antaranya akan mengamati di Planetarium dan Observatorium Jakarta, serta memandu pengamatan gerhana di sejumlah sekolah binaan di Jakarta.

Kemeriahan menyambut GMT juga ditunjukkan para penggiat JAC. Meski harus mendanai mandiri, anggota klub dan lebih dari 100 relawan yang direkrut dadakan tetap bersemangat. Selain membekali pengetahuan tentang gerhana yang akan disampaikan kepada masyarakat, mereka juga membuat kacamata gerhana yang hasil penjualannya digunakan untuk mendanai kegiatan mereka.

“Beberapa pekan menjelang gerhana, para relawan yang dibagi dalam beberapa kelompok juga gencar sosialisasi tentang gerhana yang akan terjadi kepada masyarakat umum di sejumlah lokasi keramaian,” kata Mutoha Arkanuddin, pendiri sekaligus pembina JAC.

JAC berencana menggelar pengamatan GMT di sejumlah lokasi di Yogyakarta, mulai dari Tugu Yogya, Taman Pintar, hingga Alun-alun Utara. Di Alun-alun Utara direncanakan akan dilakukan shalat gerhana bekerja sama dengan pengelola Masjid Gedhe Kauman.

Gerhana tak hanya peristiwa alam, tetapi juga turut menyatukan gerak para pemburu dan peminat dengan berbagai tujuan dan latar belakang.(MZW/WKM/MHF)
——–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 Februari 2016, di halaman 24 dengan judul “Magnet Gerhana yang Menyatukan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antisipasi Risiko Tsunami di Selatan Jawa

Kajian terbaru menunjukkan potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa. Hal itu menjadi momentum ...

%d blogger menyukai ini: