Home / Berita / Korea Beri Dukungan Atasi Sampah Plastik

Korea Beri Dukungan Atasi Sampah Plastik

Korea International Cooperation Agency menyelenggarakan kompetisi multitahap King Sejong and Jang Yeong-sil Prize untuk mengurangi sampah plastik di Indonesia.

DOKUMENTASI INSTELLAR—Acara puncak penghargaan kompetisi multitahap King Sejong and Jang Yeong-sil Prize di Jakarta, Kmias (30/07/2020). Penghargaan yang diberikan Korea International Cooperation Agency (KOICA) bekerja sama dengan Instellar ini untuk mendukung Indonesia mengatasi sampah plastik yang mencemari laut. Pemenang diraih perusahaan bisnis sosial Komodo Water yang berkantor di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

Dukungan untuk mengatasi sampah plastik yang mencemari laut di Indonesia diberikan Korea International Cooperation Agency dengan menyelenggarakan kompetisi multitahap King Sejong and Jang Yeong-sil Prize. Perusahan bisnis sosial Komodo Water yang bergerak untuk menyediakan air bersih dan es di sejumlah pulau yang berdekatan dengan Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur menjadi pemenang dan mendapat dukungan dana 200.000 dollar AS

Penghargaan King Sejong and Jang Yeong-sil Prize kepada Komodo Water diserahkan Direktur KOICA Indonesia Hoe Jin Jeong dalam acara dengan undangan terbatas dan memenuhi protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19 di Jakarta, Kamis (30/07/2020). Hadir pula perwakilan dari tiga finalis lainnya yakni Eva&Co, Tridi Oassis, dan Waste4Change.

Sebelumnya keempat finalis terpilih mendapat dukungan dana masing-masing 50.000 dollar untuk mewujdukan inovasi mereka dalam mengatasi sampah plastik di Indonesia. Di puncak acara, dipilih satu pemenang yang jatuh pada Komodo Water yang menjalankan kegiatannya sejak tahun 2012 di Labuan Bajo. Kabupaten Manggarai Barat

Hoe Jin Joeng, mengatakan sampah plastik menjadi isu yang krusial saat ini, termasuk di Indonesia. Sebagai negara besar di ASEAN, Indonesia merupakan negara yang paling tepat untuk menumbuhkan nilai luhir yang diwariskan King Sejong dan Jang Yeong-sil .

“Semua peserta telah menunjukkan potensi yang baik untuk memecahkan masalah sampah plastik,” ujar Hoe Jin Joeng.

Setiap tahun Indonesia menghasilkan sekitar 3,22 juta ton sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik. Tidak hanya mencemari daratan, sekitar 0,48 -1.29 juta ton dari sampah plastik tersebut yang mencemari lautan.

Sementara itu, Chief Executive Officer Instellar Romy Cahyadi mengatakan, upaya yang dilakukan KOICA ini menunjukkan bahwa di masa sekarang dan masa depan bisnis akan memainkan peran yang semakin besar dalam menyelesaikan berbagai masalah lingkungan dengan cara yang inovatif, berkelanjutan, dan inklusif bagi masyarakat. Partisipasi aktif para pegiat bisnis dalam King Sejong and Jang Yeong-sil Prize menjadi dorongan dalam penyelesaian masalah tersebut.

Instellar yang merupakan perusahaan untuk mendukung peningkatan dampak dan pengembangan bisnis para wirausaha sosial digandeng KOICA dalam penyelenggaraan King Sejong and Jang Yeong-sil Prize. “Indonesia memiliki sumber daya yang besar, sedangkan Korea memiliki teknologi terdepan. Kalau keduanya bisa digabungkan, ya akan memberikan manfaat yang saling menguntungkan. Apalagi bagi Indonesia, masa depan itu ada di laut,” ujar Romy.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU—Sampah plastik terlihat mengapung di perairan di Taman Nasional Bunaken, Sulawesi Utara, pada Maret 2020 lalu.

Kompetisi diikuti perusahaan rintisan, bisnis inovatif, maupun wirausaha sosial di Indonesia yang memiliki misi memecahkan masalah lingkungan, khususnya polusi plastik di laut. Ada 70 proposal yang diterima panitia. Lalu dipilih 14 peserta untuk presentasi di hadapan dewan juri yang ahli bidang lingkungan, pengembangan masyarakat, serta bisnis.

Rahyang Nusantara dari Gerakan Indonesia Diet Plastik yang mewakili dewan juri, menjelaskan mereka menilai keterkaitan solusi yang ditawarkan dan masalah yang diangkat. Dewan juri juga melihat inisiatif peserta dapat dijalankan dengan manajemen bisnis yang bagus serta keterlibatan pemangku kepentingan di bisnis masing-masing.

“Kami melihat keseriusan mereka dari sumber daya yang mereka miliki mulai sumber daya manusia dan sumber daya pendukung lainnya seperti materi komunikasi. Kami juga melihat portofolio dan pencapaian mereka di program-program sebelumnya,” papar Rahyang.

Sampah plastik di pulau
Atiek Puspa Fadhilah, Perwakilan dari Komodo Water mengatakan, mereka melihat air bersih di hampir semua pulau di Indonesia, serta masalah es batu yang digunakan para nelayan. “Belum banyak program yang mendukung ketersediaan air bersih dan nelayan di pulau. Jadi, kami melihat ini sebagai potensi,” ujar Atiek.

Menurut Atiek, kehidupan di pulau juga dapat bersumbangsih pada masalah sampah platik di luar. Para nelayan di sekitar taman nasional Komodo, memakai es batu yang dibungkus plastik. Sampah plastiknya dibuang begitu saja di laut.

“Masalah air bersih juga sulit bagi masyarakat. Untuk bisa mendapat air bersih beli di pulau lain di pelabuhan yang jarak tempuhnya dnegan kapal sekitar dua jam. Berkisar 20 persen pengeluaran masyarakat untuk membeli air,” jelas Atiek.

Komodo Water datang dengan kegiatan menyediakan air bersih dengan teknologi reverse osmosis sehingga layak diminum. Air ini dikelola masyarakat untuk dibisniskan ke sejumlah pulau. Daerah pulau yang tidak ada listrik dialiri listrik dengan mesin diesel, lalu kini dibangun listrik bertenaga surya.

Ketersediaan listrik membuat freezer untruk pembuatan es batu bisa dilakukan tidak lagi dengan plastik berukuran kecil. Para nelayan tidak lagi membawa es batu berplastik untuk menjaga kesegaran ikan hasil tangkapan mereka, sehingga sampah plastik di laut bisa dikurangi.

“Kemenangan ini bisa menambah semangat untuk berkiprah di pulau-pulau. Akibat air bersih yang minim di pulau, banyak masalah kesehatan yang timbul seperti stunting dan diare,” ujar Atiek.

Menurut Atiek, terpilihnya Komodo Water sebagai penerima King Sejong and Jang Yeong-sil Prize bisa jadi karena yang dilakukan Komodo Water cukup unik. Sebab, belum banyak pihak yang bergerak di isu kebutuhan air dan es di pulau terpencil yang juga menghasilkan sampah plastik.

“Komodo Water menangani masalah sampah yang memiliki efek langsung ke laut. Apalagi itu di taman nasional yang merupakan wilayah konservasi. Terlebih tidak ada sistem pengolahan sampah di pulau kecil. Mungkin ini menjadi realita baru bagi kebanyakan orang, terutama yang tinggal di area urban. Ternyata, sampah juga menjadi masalah di pulau-pulau terpencil,” papar Atiek.

Kiprah tiga finalis lainnya dalam mengatasi sampah plastik juga menjanjikan. Dengan pendekatan bisnis sosial, penanganan sampah, terutama sampah plastik diyakini bisa semakin masif di Indonesia.

David Christian dari Evo & Co menjelaskan, pihaknya ingin menciptakan dunia tanpa polusi plastik. Alternatif plastik bisa dibuat rumpul laut yang dikembangkan sejak 2016.

Kampanye pengurangan plastik dilakukan dan juga riset untuk mengembangkan bahan baku pengganti plastik yang ramah lingkungan. Kontribusi dari Evo & Co setidaknya bisa mengurangi sebanyak 1,3 juta platik, terbanyak sedotan palstik dan gelas plastik.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA—Sampah terlihat saat peneliti dari Ecoton mengambil sampel air Sungai Kalimas di Taman Petekan Riverside, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (8/7/2020). Pengambilan sampel air untuk meneliti kandungan mikroplastik dan uji kualitas air dari Sungai Kalimas. Dari hasil penelitian diketahui Sungai Kalimas tercemar oleh limbah microplastik dan klorin. Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Sementara itu, M Bijaksana Rosano selaku Managing Direcor Waste4Change menjelaskan pihaknya memberikan solusi sistem pengelolaan sampah pintar yang terintegrasi dan terpadu dengan baik. “Sampah sampai bocor ke laut karena cakupan pelayanan sampah di Indonesia belum terpenuhi,” jelas Rosano .

Menurut Rosan, tata keloala pemerintah soal sampah masih belum memadai. Masalah penegakkan hukum, anggaran, dan kemitraan, jadi persoalan yang harsu diperkuat. “Anggaran pengelolaan sampah hanya sekitar satu persen di Indonesia,” ujar Rosano.

Inovasi yang ditawarkan Wate4Change dengan membenahi tata kelola sampah di daerah secara cerdas. Pemerintah daertah diajak untuk melakukan penegahkkan hukum, sosialiasasi cerdas dengan teknologi, mengintegrasikan kota dengan satu aplikasi sehingga berbasis data. “Jadi dimulai dr fondasi untuk membuat tata kelola sampah berjalan baik, bukan sekadar teknologi pengolahan sampah,” ujar Rosano.

Adapun Tridi Oasis, ujar Dian Kurniawati, mendaur ulang sampah plastik dan menciptakan dampak ekonomi ke masyarakat. Di tahun 2016 berdiri, sebanyak 100 juta plastik botol didaur ulang. Dan ada 50 pekerjaan diciptakan, serta lebih dari 300 orang yang mendapat dampak secara langsung dan tidak lansgung .

“Dari aksi bersih pantai di Pulau Seribu, ada plastik mie instan di laut yang sudah berusia 19 tahun yang kami temukan. Sampah masih berakhir begitu saja di tempat pembuangan akhir atau laut,” ujar Dian.

Dukungan dana dari kompetisi Kim Sejong and Jang Yeong-sil Prize digunakan untuk merealisakan sampah yang dianggap jadi masalah menjadi peluang ekonomi. Sampah plastik diubah jadi poduk layak pakai.

Oleh ESTER LINCE NAPITUPULU

Editor: MARIA SUSY BERINDRA

Sumber: Kompas, 1 Agustus 2020

Share
x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: