Home / Berita / Kopi Lampobattang Rasa Konservasi

Kopi Lampobattang Rasa Konservasi

Kopi Lompobattang bukan sembarang kopi. Kopi dari Bulukumba, Sulawesi Selatan ini memiliki nilai lebih dari kopi Indonesia yang beraneka cita rasa. Biji kopi robusta dan arabica yang dihasilkan dari kebun-kebun masyarakat ini disebut-sebut sebagai kopi ramah lingkungan.

Di Kampung Kayubiranga, Desa Borongrapoa, Kecamatan Kindang di Bulukumba, Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) membawa sejumlah media menyusuri kebun kopi serta cengkeh yang berada di kebun warga. Tak jauh dari situ, Hunggul YSH Nugroho, peneliti BP2LHK, menunjukkan instalasi dan saluran sungai yang digunakan untuk pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH).

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Nasir (70), warga Kayubiranga di Desa Borongrapoam, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Kamis (19/4/2018), merawat kopi di kebunnya yang berada di kaki Gunung Lampobattang.

Dari PLTMH inilah, sejak tiga tahun terakhir 47 keluarga di kampung yang berada di kaki Perbukitan Lompobattang ini menikmati aliran listrik. Aliran listrik sebesar 15.000 watt ini mampu untuk menghidupkan lampu, televisi, penanak nasi, hingga alat pertukangan.

PLTMH setempat – termasuk tiga kampung lain di Desa Borongrapoa – menggunakan pembangkit hasil inovasi Hunggul dan kawan-kawannya di BP2LHK Makassar. Kekhususannya, peneliti BP2LHK merakitkan pembangkit yang bisa dipasang, diperbaiki, dan dioperasikan sendiri oleh warga desa. Termasuk suku cadangnya pun diklaim tak susah.

Warga bergotong-royong membangunnya dengan saweran Rp 2 juta – Rp 3 juta per keluarga untuk pemasangan PLTMH ini. Setelah PLTMH beroperasi, warga hanya iuran Rp 10.000 per keluarga per bulan untuk pemeliharaan PLTMH yang dikelola komunitas desa setempat.

Tak sekadar mengaliri listrik, PLTMH ini pun menyadarkan warga untuk menjaga hutan di Perbukitan Lompobattang agar tetap mengalirkan air. Manfaat langsung yang dirasakan ini menggeliatkan perekonomian masyarakat setempat, termasuk mengembangkan potensi kopi setempat.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Ibu-ibu di Kampung Kayubiranga, Desa Borongrapoam, Kecamatan Kindang, Bulukumba, Sulawesi Selatan, Kamis (19/4/2018), memilah biji kopi yang telah dikeringkan. Kopi setempat ditanam di kaki perbukitan Lompobattang.

Dan yang terkini, Hunggul dan kawan-kawan membuatkan alat roasting (untuk menyangrai) biji kopi. Alat ini sederhana dengan tetap menggunakan bahan bakar ranting. Hanya saja, di bagian bawah kompor diberi kipas angin (bentuknya seperti kipas angin komputer) yang berfungsi sebagai blower. Tentu saja sumber listrik berasal dari PLTMH tadi.

Selain tenaga listrik dan bahan bakar ranting kayu, tenaga manusia juga dibutuhkan untuk memutar tabung yang berisi biji kopi. Dibutuhkan sekitar 30 menit proses memasak hingga kopi cukup matang merata dan tidak gosong.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Seorang ibu di Kampung Kayubiranga, Bulukumba, Sulawesi Selatan, Kamis (19/4/2018), memperagakan cara kerja alat roasting kopi hasil inovasi Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar. Alat roasting itu menggunakan bahan bakar ranting kayu dengan dilengkapi blower yang digerakkan oleh pembangkit listrik tenaga mikrohidro. Kopi yang ditanam di perbukitan Lompobattang ini menjadi penggerak perekonomian setempat.

Selain alat roasting, sebenarnya Hunggul juga menyediakan alat pemisah biji kopi, pondok pengering. Di daerah ini pada Mei-Juni saat hujan masih sering turun. Hanya saja, karena keterbatasan waktu selama media tour di Bulukumba yang hanya setengah hari, alat-alat itu tidak sempat ditunjukkan selama di Kampung Kayubiranga.

Berkat alat pengering ini, warga tak lagi menjual kopi berupa buah atau gelondongan. Alhasil, nilainya pun naik Rp 3.000 – Rp 4.000 per liter.

Pemisah kopi ini dibutuhkan warga untuk meningkatkan nilai tambah. Sedangkan pondok pengering membantu warga untuk mengeringkan kopi di saat hujan.

Nilai tambah hasil panen
Nasir (70), warga Kayubiranga yang juga petani kopi, mengatakan peningkatan nilai tambah hasil panen kopi ini sangat signifikan. Ia menyebutkan harga kopi dalam bentuk kering hanya Rp 12.000 per kilogram. Ketika sudah di-roasting – apalagi dibuat bubuk – harganya mencapai Rp 25.000 per kilogram.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Kopi Lompobattang jenis arabica ini mulai dikemas secara menarik oleh Kampung Kayubiranga, Desa Borongrapoam, Kecamatan Kindang, Bulukumba, Sulawesi Selatan, Kamis (19/4/2018). Biji kopi setempat dihasilkan dari Perbukitan Lompobattang yang merupakan hutan penyedia air bagi masyarakat desa dan kota di Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Kompas sempat mencecap kopi setempat yang disajikan ibu-ibu bagi para tamu. Namun sayang, kopi panas yang sebenarnya cocok dengan udara setempat yang sejuk ini, telah “terkontaminasi” gula. Lagi-lagi dengan alasan keterbatasan waktu permintaan untuk menyajikan kopi tanpa gula tak sempat dipenuhi.

Untungnya, saat media tour pada 19 April 2018, ibu-ibu setempat menyajikan demo me-roasting kopi di atas kompor biomassa buatan BP2LHK. Kopi hasil roasting ini kemudian ditaruh dalam tampah (loyang dari bambu) dan disajikan kepada Kepala Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Agus Justianto dan Wakil Bupati Bulukumba Tomy Satria Yulianto, yang hadir dalam kegiatan itu. Kompas sempat mengudap biji kopi robusta yang masih hangat itu. Rasanya nikmat dan tidak gosong saat disesap.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Kepala Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Agus Justianto, Kamis (19/4/2018), menghirup aroma biji kopi Lompobattang di Kampung Kayubiranga, Desa Borongrampoa, Kecamatan Kindang, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Biji kopi setempat dihasilkan dari lahan di perbukitan Lompobattang yang merupakan hutan penyedia air bagi masyarakat desa dan kota di Bulukumba.

Warga setempat memberikan oleh-oleh berupa kopi bubuk yang telah dibungkus dalam kemasan apik bertuliskan “Kopi Lompobattang” untuk diseduh di rumah.

Setelah kami mencoba menyeduhnya di rumah, kopi ini sepertinya masih dihasilkan dari proses roasting dengan cara lama sehingga terasa pahit dan terlalu gosong. Jauh beda saat kami menjajal kopi hasil roastingan kompor biomassa yang diproses saat demo di kemarin.

Namun hal ini tertutupi dari perkataaan Hunggul saat berada di Kayubiranga kemarin, “Soal rasa kopi banyak yang bisa menyamai. Tapi yang membedakan, kopi ini dikelola dengan mikrohidro dan masyarakat yang ramah lingkungan. Diolah dari bahan di masyarakat sendiri serta langsung bernilai tambah”.

Semoga melalui inovasi ini kian menggiatkan petani untuk menyejahterakan dirinya dari kopi. Kopi dari Lompobattang ini menjadi contoh bahwa perekonomian bisa ditingkatkan dari pinggiran hutan dengan tetap menjaga kelestarian hutan. Sempurna nikmatnya kopi rasa konservasi.–ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 28 April 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: