Home / Berita / Mikrohidro untuk Jaga Hutan

Mikrohidro untuk Jaga Hutan

Membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro tidak hanya mengatasi masalah pasokan listrik di pedalaman, tetapi juga mendorong masyarakat menjaga hutan.

Pembangunan pembangkit listrik tenaga mikrohidro menjadi strategi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk melibatkan masyarakat dalam mengelola hutan di sekitar tempat tinggal mereka. Pembangkit listrik ini memerlukan aliran air yang berkelanjutan sehingga dibutuhkan kondisi hutan yang tetap terjaga sebagai penyuplai air.

Hal ini seperti dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Hutan lindung setempat, yaitu Hutan Lompo Battang, yang memenuhi kebutuhan air bagi masyarakat di pusat kota serta kabupaten-kabupaten sekitarnya dijaga melalui strategi ini.

Mengacu data Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral hingga akhir 2017 terdapat 2.500 desa atau 7 persen total desa di Indonesia yang belum dialiri listrik. Melalui Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup Makassar (BP2LHK), KLHK membangun 4 mikrohidro di Bulukumba dengan model cascade atau berurutan dalam satu aliran air sejak tahun 2015.

Pembangkit itu memenuhi kebutuhan listrik bagi 113 keluarga. Satu dari empat pembangkit itu ditunjukkan dalam media tour di Kampung Kayubiranga, Desa Borongrapoam, Kecamatan Kindang, Bulukumba

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Natsir (70), warga Kampung Kayubiranga, Kelurahan Borongrapoam, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Kamis (19/4/2018), meninggalkan rumah mesin pembangkit listrik tenaga mikrohidro. Mesin ini hasil inovasi peneliti Balai Litbang Makassar yang bekerjasama bersama masyarakat membangunnya untuk memenuhi kebutuhan listrik setempat.

Penyediaan listrik melalui pembangkit listrik tenaga mikrohidro membuat masyarakat merasakan manfaat langsung kelestarian hutan.

“Tanpa perlu kita suruh, masyarakat sudah menjaga hutan sendiri. Kalau hutan hilang, listrik mereka juga hilang,” kata Hunggul YSH Nugroho, peneliti BP2LHK Makassar, Kamis (19/4/2018), di Bulukumba.

Hunggul menjadi inovator mikrohidro ini. Pembeda dari mikrohidro lainnya, pembangkit yang dibuatnya mudah untuk dirakit dan diperbaiki oleh warga. Bahkan, katanya, onderdil mesin bisa diperoleh di pusat kota Bulukumba, tanpa perlu mendatangkan dari Jakarta atau Surabaya.

Manfaat dari hutan
Mengamini hal ini, Wakil Bupati Bulukumba Tomy Satria Yulianto mengatakan pengamanan hutan tak lagi dengan cara kekerasan. “Menjaga hutan itu tak sekadar menjaga hutan, tetapi mendapat manfaat dari hutan itu sendiri,” kata dia.

Ia pun mengarahkan masyarakat agar listrik dimanfaatkan untuk kegiatan produktif, bukan konsumtif. Ia mencontohkan peningkatan nilai tambah pada kopi yang menjadi produk unggulan setempat. Ia berharap masyarakat tak hanya menjual dalam bentuk buah kopi, tetapi telah kering maupun disangrai.

Kepala Badan Litbang dan Inovasi KLHK Agus Justianto berharap inovasi peneliti-penelitinya – terutama terkait mikrohidro yang melibatkan masyarakat dan berdampak pada perlindungan hutan – direplikasi oleh Pemkab Bulukumba maupun pemerintah-pemerintah daerah lainnya.

“Langkah ini menjadi kontribusi bagi ketahanan energi, peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan, peningkatan persepsi masyarakat terhadap hutan dan kehutanan, dan penggalangan sinergi perencanaan dan pelaksanaan, serta meningkatkan kemampuan masyarakat untuk melaksanakan kegiatan produktif,” kata dia.

Pembangkit listrik tenaga mikrohidro merupakan salah satu pembangkit listrik energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Berdasarkan data Kementerian ESDM pada 2017, potensi tenaga air yang dapat dikembangkan menjadi pembangkit listrik mikrohidro sebesar 19.385 MW yang tersebar di seluruh Indonesia. Karena itu, prospek pengembangan pembangkit listrik mikrohidro masih sangat menjanjikan.

Pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 22 tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) menargetkan porsi Energi Baru dan Energi Terbarukan dalam bauran energi nasional sebesar 23 persen pada tahun 2025. Untuk sektor ketenagalistrikan, pembangunan pembangkit listrik mikrohidro ditargetkan sebesar 3.000 MW pada tahun 2025.–ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 20 April 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: