Home / Berita / Air Bertingkat bagi Desa di Kawasan Hutan

Air Bertingkat bagi Desa di Kawasan Hutan

Selama ada aliran air dan beda tinggi, turbin pembangkit listrik tenaga mikrohidro akan mampu menggerakkan kipas untuk memutar dinamo. Prinsip utama ini dipakai di tiga kampung di Bulukumba, Sulawesi Selatan untuk menghasilkan listrik bagi ratusan keluarga.

Mereka memanfaatkan aliran sungai yang sama dari Gunung Lompobattang. Dalam peta Daerah Aliran Sungai (DAS), wilayah ini masuk dalam wilayah DAS Bialo Hulu. Aliran ini pula yang menyuplai kebutuhan air bersih bagi masyarakat di pusat kota Bulukumba.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Seorang ibu di Kampung Kayubiranga, Bulukumba, Sulawesi Selatan, Kamis (19/4/2018), memperagakan cara kerja aalat roasting kopi hasil inovasi Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar. Alat roasting itu menggunakan bahan bakar ranting kayu dengan dilengkapi blower yang digerakkan oleh pembangkit listrik tenaga mikrohidro. Kopi yang ditanam di perbukitan Lompobattang ini menjadi penggerak perekonomian setempat.

Pembangunan PLTMH ini awalnya, pada tahun 2014 dikerjakan di Kampung Senggang-Katimbang, Desa Borongrapoa, Kecamatan Kindang. Di tahun yang sama, PLTMH itu direplikasi pada dua kampung tetangga yang berada di hilir.

Saat itu, Lembaga Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), Yayasan Ballang Institute dan Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar (BP2LHK) melihat kebutuhan listrik bagi warga Senggang-Katimbang. Di lokasi paling tinggi ini, debit air diketahui sebesar 80 liter per detik dengan beda tinggi 25 meter dan 14 meter. Di sini, debit air hanya dimanfaatkan sebagian untuk menghasilkan listrik 7 kilowatt (KW) dan 5 KW bagi 33 keluarga.

Air yang keluar dari saluran pembuangan turbin ini kembali memasuki sungai serta mengalir ke Kampung Kayubiranga. Di kampung penghasil kopi Lompobattang ini, debit air mencapai 130 liter per detik. Beda ketinggian air pada kampung ini hanya 6-10 meter. Namun dengan debit air sebesar itu, hanya dengan mengalirkan 100 liter per detik bisa menghasilkan 15 kilowatt listrik yang menerangi 47 keluarga.

Aliran air yang terbuang dari saluran pembuangan turbin ini kembali dimasukkan ke aliran sungai yang mengalir menuju Kampung Na’na. Di kampung yang relatif lebih dekat dengan pusat kota ini, debit aliran air mencapai 350 liter per detik dengan beda tinggi lima meter. Sejumlah 300 liter air per detik dipergunakan untuk memutar dinamo sehingga menghasilkan listrik sebesar 15 watt bagi 40 keluarga.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Natsir (70), warga Kampung Kayubiranga, Kelurahan Borongrapoam, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Kamis (19/4/2018), meninggalkan rumah mesin pembangkit listrik tenaga mikrohidro. Mesin ini hasil inovasi peneliti Balai Litbang Makassar yang bekerjasama bersama masyarakat membangunnya untuk memenuhi kebutuhan listrik setempat.

Sistem bertingkat
Peneliti BP2LHK Hunggul YSH Nugroho menyebut pemanfaatan aliran air seperti ini sebagai sistem bertingkat atau cascade system. “Pada dasarnya, istilah cascade digunakan untuk menjelaskan sistem pemanfaatan aliran air untuk PLTMH berurutan dari hulu menuju hilir dimana aliran air yang keluar dari satu unit PLTMH digunakan untuk PLTMH berikutnya,” kata dia.

Istilah cascade juga digunakan untuk menjelaskan proses pembangunan PLTMH yang berurutan yaitu pembangunan PLTMH berikutnya dipicu oleh keberhasilan PLTMH yang dibangun sebelumnya. Seperti yang terjadi di Bulukumba, kesuksesan di Senggang-Katimbang disusul Kayubiranga dan Na’na.

Hunggul menggandeng kawan-kawannya di BP2LHK untuk mendesain dan membuat turbin bagi ketiga kampung ini. Prinsipnya, mereka memilih tipe turbin crossflow atau aliran silang yang menunjukkan aliran air dua kali menabrak bilah.

Meski diakui efisiensi crossflow masih lebih rendah dibandingkan tipe lain, tipe ini lebih sederhana, murah, dan relatif mudah dibuat oleh bengkel kecil sekalipun. Keunggulan lainnya, kata Hunggul, adalah sesuai dipergunakan pada berbagai variasi debit dan beda ketinggian.

Di bengkel BP2LHK Makassar, mesin turbin dan sistem transmisi mekanik ini dibuat keroyokan oleh peneliti, teknisi, hingga staf tata usaha yang memiliki ketertarikan sama dalam mengotak-atik turbin. Mereka berusaha menciptakan alat yang bisa dibongkar-pasang dan diperbaiki sendiri oleh warga kampung serta efektif digunakan pada karakter potensi fisik lokasi.

Alhasil, pada ketiga lokasi, Hunggul dan kawan-kawan membangun mesin turbin berbeda-beda. Namun masing-masing sama-sama memiliki keunggulan suku cadang utama bearing mudah dilepas dan diganti apabila mengalami kerusakan serta rotor atau kincir mudah dilepas tanpa harus membongkar mesin turbin. Untuk generator atau dinamo, dibeli dari toko mekanik setempat.

”Kami ingin menyediakan solusi tanpa meninggalkan pekerjaan rumah selain perawatan sederhana dan bisa dikerjakan masyarakat sendiri,” kata dia.

Kami ingin menyediakan solusi tanpa meninggalkan pekerjaan rumah selain perawatan sederhana dan bisa dikerjakan masyarakat sendiri.

Hal itu belajar dari pengalaman kampung-kampung setempat yang sempat merasakan aliran listrik di tahun 2006 melalui pembangkit listrik tenaga surya. Namun bantuan dari pemerintah daerah ini hanya bisa berfungsi selama 2 tahun karena alat rusak dan tidak bisa diperbaiki warga.

Saat ini, warga menetapkan iuran Rp 10.000 per keluarga untuk biaya pemeliharaan PLTMH yang dikelola kelompok masyarakat. Dana ini digunakan untuk penggantian sukucadang yang mudah aus seperti v-belt yang terus berputar 24 jam.

Tak hanya PLTMH, Hunggul dan kawan-kawannya pun memberikan tambahan kemudahan bagi masyarakat untuk merangsang pertumbuhan ekonomi kampung. Salah satunya adalah, dengan membangun pondok pengering dan kompor biomassa untuk mengoptimalkan produksi dan nilai tambah kopi yang dihasilkan kampung itu.

Pondok pengering yang bersumber energi dari listrik PLTMH dibangun untuk menyiasati proses pengeringan pascapanen di bulan Mei dan Juni yang biasanya masih dilanda hujan. Sementara kompor biomassa berbahan bakar ranting serta diberi blower dari kipas sederhana, menjadi alat roasting atau penyangrai kopi sehingga meningkatkan nilai tambah penjualan biji kopi.

Pembangunan PLTMH beserta pemberdayaan ekonomi lanjutannya ini merupakan bentuk pengelolaan hutan berbasis masyarakat. Itu bertujuan mempererat hubungan antara hutan dan masyarakat di sekitar hutan.

Kepala Badan Litbang dan Inovasi KLHK Agus Justianto memaparkan, melalui PLTMH, persepsi positif masyarakat terhadap hutan dan fungsinya meningkat. Hal itu membuat warga sekitar kawasan hutan mau bersama-sama menjaga kelestarian fungsi hutan, bahkan secara aktif mau memperbaiki kondisi hutan yang ada disekitarnya.

Melihat dampak positif PLTMH ini, Bupati Bulukumba AM Sukri A Sappewali berkomitmen untuk mereplikasikannya di desa-desa lain di sekitar hutan yang belum teraliri listrik. ”Iuran masyarakat sangat murah dengan PLTMH ini dibanding membayar listrik dari PLN,” ungkapnya.

Tidak hanya Bulukumba, menurut catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, sampai akhir 2017 terdapat 2.500 desa atau 7 persen total desa di Indonesia yang belum dialiri listrik. Sebagian di antaranya berada di pinggir atau dalam kawasan hutan yang potensial menggunakan PLTMH sederhana ini.

Melalui manfaat langsung seperti ini, masyarakat lebih mudah memahami bahwa debit air yang kecil akan menghasilkan daya listrik yang kecil juga. Dengan demikian, masyarakat kian yakin bahwa kondisi hutan dan air yang dihasilkan akan menentukan besar kecilnya manfaat bagi mereka.–ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 30 April 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: