Kopi Lestari demi Hutan Konservasi

- Editor

Kamis, 1 Oktober 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seorang petani yang menggarap lahan di Kawasan Hutan Lindung Kota Agung Utara, Kabupaten Tanggamus, Lampung, tengah menyiangi tanaman kopinya, Sabtu (13/4/2019).

Seorang petani yang menggarap lahan di Kawasan Hutan Lindung Kota Agung Utara, Kabupaten Tanggamus, Lampung, tengah menyiangi tanaman kopinya, Sabtu (13/4/2019).

Meski kini pemasaran kopi sedang tertekan oleh pandemi Covid-19, pada jangka panjang budidayanya perlu dikelola agar tak lagi merangsek ke hutan konservasi. Justru kebun kopi agar menjadi benteng bagi kawasan dilindungi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

KOMPAS/VINA OKTAVIA –Seorang petani yang menggarap lahan di kawasan hutan lindung Kota Agung Utara, Kabupaten Tanggamus, Lampung, tengah menyiangi tanaman kopinya, Sabtu (13/4/2019).

Tingginya potensi kopi membuat masyarakat lokal kerap menanam komoditas ini di dalam area kawasan hutan konservasi. Penerapan program penanaman lestari perlu terus dikembangkan guna mengurangi tekanan terhadap kawasan konservasi dengan tetap mempertahankan produksi kopi.

Direktur Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember Agung Wahyu Susilo mengemukakan, terdapat beberapa jenis kopi yang berkembang di Indonesia, di antaranya arabika, liberika, robusta, arabusta, mokka, dan kapakata. Dari beberapa jenis tersebut, kopi robusta yang paling banyak berkembang di Indonesia dan disusul jenis arabika.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, Indonesia menjadi negara terbesar keempat sentra produksi keempat dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Hal ini juga menjadikan keempat negara tersebut termasuk Indonesia sebagai eksportir kopi dunia.

”Tiga spesies kopi, yakni arabika, robusta, dan liberika, yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Spesies kopi berkembang adaptasinya sesuai kondisi lingkungan tumbuh dan menghasilkan cita rasa yang spesifik karena kondisi geografis yang berbeda-beda dari Sumatera hingga Papua,” ujarnya dalam webinar bertajuk ”Keragaman Kopi Indonesia dan Kontribusinya dalam Upaya Konservasi Ekosistem”, Rabu (30/9/2020).

Direktur Program Yayasan Kehati Rony Megawanto mengatakan, program kopi lestari dapat diterapkan sebagai salah satu langkah meningkatkan produksi kopi tetapi tetap memperhatikan kelestarian alam. Program kopi lestari menerapkan sejumlah aspek, di antaranya pola wanatani (agroforestry), pendekatan pertanian organik, hingga peningkatan mutu dan kesejahteraan petani.

”Kopi lestari memiliki karakteristik berkebun di luar kawasan konservasi. Jadi, perkebunan kopi ini menjadi semacam benteng alami untuk melindung kawasan konservasi. Tanaman kopi juga bisa digunakan untuk rehabilitasi lahan kritis,” tuturnya.

Program kopi lestari untuk jenis arabika telah diterapkan di sekitar kawasan Cagar Alam Dolok Sibual-buali (Tapanuli Selatan, Sumater Utara), Taman Nasional/TN Batang Gadis (Mandailing Natal, Sumut), dan TN Kerinci Seblat (Jambi). Sementara untuk jenis robusta, program kopi lestari juga telah diterapkan di Hutan Lindung Bukit Daun (Bengkulu) dan TN Bukit Barisan Selatan (Lampung).

Lahan tidak produktif
Upaya menerapkan pola produksi kopi yang memperhatikan kelestarian alam juga telah dilakukan Aliansi Konservasi Alam (Akar) Network yang melibatkan masyarakat lokal di kaki Gunung Kerinci, TN Kerinci Seblat sejak 2012. Selain meningkatkan produksi, upaya ini juga dilakukan untuk mengurangi tekanan terhadap kawasan konservasi.

Koordinator Akar Network Emma Fatma mengatakan, kawasan di sekitar TN Kerinci Seblat kerap terjadi perambahan hutan yang dilakukan masyarakat lokal untuk dijadikan lahan perkebunan. Hal ini dilakukan karena pola pemanfaatan lahan masyarakat di luar kawasan konservasi belum optimal sehingga mereka mencari lahan baru dan meninggalkan lahan lama.

—Perkebunan kopi arabika kini menggantikan perkebunan sayur yang sebelumnya mendominasi pemanfaatan kawasan hutan produksi di Renah Pemetik, Kecamatan Air Hangat Timur, Kabupaten Kerinci, Jambi, Selasa (23/1/2018). Kawasan di sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat ini sekarang kembali menghijau sepanjang tahun setelah tanaman kopi mulai ditanam warga.

”Kami memanfaatkan lahan yang tidak produktif itu untuk menanam kopi arabika. Sebelum perencanaan dimulai, kami melakukan pendekatan kepada masyarakat yang awalnya menolak. Kami menamam tiga sampai lima jenis varietas untuk memunculkan variasi rasa yang berbeda,” tuturnya.

Pola produksi ini berhasil meningkatkan pendapatan petani hingga 30 persen. Selain itu, tren perambahan lahan di TN Kerinci Seblat juga mengalami penurunan sejak adanya penanaman kopi arabika khususnya saat masa panen pada 2014. Ke depan, pelibatan masyarakat diharapkan semakin meningkat guna menurunkan kembali kejadian perambahan hutan.

Oleh PRADIPTA PANDU MUSTIKA

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 30 September 2020

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 63 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru