Eksploitasi Luwak untuk Kopi Disoal; Asosiasi Tunggu Standar Produksi

- Editor

Jumat, 18 Oktober 2013

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Organisasi perlindungan hewan, PETA, menyoal eksploitasi luwak atau musang sebagai penghasil kopi bernilai tinggi. Hasil investigasi mereka terhadap produsen kopi luwak di Filipina dan Indonesia menunjukkan, luwak yang dikandangkan dari alam diperlakukan tidak layak.

Para aktivis yang berbasis di Hongkong itu juga menyoal pencantuman kata-kata yang intinya ”berasal dari luwak liar” di kemasan kopi luwak. Itu dinilai bentuk penipuan karena biji kopi dihasilkan dari luwak yang dikandangkan, bukan luwak liar.

”Investigasi kami di desa-desa di Indonesia dan Filipina, negara yang menghasilkan kopi luwak terbesar di dunia, menunjukkan bagaimana luwak hidup di kandang sempit dan kotor serta tidak layak,” kata Jason Baker, Wakil Presiden Operasi Internasional People for the Ethical Treatment of Animals (PETA), Kamis (17/10), di Jakarta. Atas temuan ini, ia telah memberi tahu Kementerian Perdagangan. Di sisi lain, ia mengajak konsumen mendukung penghentian praktik itu.

Dalam konferensi pers, PETA menunjukkan rekaman video berisi perilaku stres luwak di dalam kandang. Perilakunya terus-menerus berputar di dalam kandang, menggigit-gigit jeruji kandang, dan mengayun-ayunkan kepala.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hasil wawancara PETA terhadap sejumlah petani kopi luwak menemukan informasi bahwa luwak dilepas kembali setelah tiga tahun dikandangkan. Itu dinilai terlalu lama dan membuat satwa tak bertahan di alam.

Lebih lanjut Baker menyebutkan, luwak yang biasanya memperoleh buah kopi matang dengan cara memanjat pohon malah dikandangkan. Bahkan, hewan itu dipaksa mengonsumsi buah kopi berlebihan. Padahal, luwak atau musang membutuhkan variasi makanan lain, seperti daging atau buah-buahan.

Terkait tudingan itu, M Teguh Pribadi, Bendahara Asosiasi Kopi Luwak Indonesia (AKLI), tak menampik temuan tersebut. Namun, ia mengingatkan bahwa praktik itu tak dijalankan semua produsen kopi luwak.

Rencana sertifikasi
Saat ini, pihak AKLI masih menunggu persetujuan sertifikat standar kompetensi kerja nasional Indonesia (SKKNI) produk kopi luwak dari Kementerian Pertanian. Teguh memastikan dalam SKKNI dicantumkan syarat kesejahteraan hewan/luwak yang dipekerjakan.

Ia mencontohkan, minimal ukuran kandang bagi luwak adalah 2 meter x 1 meter dengan tinggi 2 meter. ”Dalam sehari, luwak membutuhkan makanan sekitar 5 kilogram, 2 kilogram di antaranya biji kopi. Lainnya aneka buah dan daging,” kata Teguh. Dari 1 kilogram kopi yang dikonsumsi, hanya dihasilkan 0,3-0,4 kilogram biji kopi.

Teguh mengatakan, pemberlakuan standar itu juga untuk menghentikan praktik pengoplosan kopi luwak dengan kopi biasa. Terkait tudingan penipuan produsen kopi luwak dengan mencantumkan

”berasal dari luwak liar” di kemasan, ia berbeda pandangan.
”Semua luwak itu diambil dari alam liar. Setahu saya belum bisa diternakkan atau dibudidayakan,” ujarnya.

Kopi luwak dihasilkan dari buah kopi yang dikonsumsi luwak. Feses luwak berupa biji kopi itulah yang kemudian diolah menjadi minuman kopi premium.

Di dunia internasional, kopi luwak menjadi terkenal saat ditayangkan dalam Oprah Winfrey Show dan film The Bucket List. Di restoran di Inggris, satu cangkir kopi luwak seharga sekitar Rp 800.000.

Di Indonesia, harga per cangkir kopi luwak arabika di kedai kopi di Aceh sekitar Rp 60.000, sedangkan kopi arabika biasa Rp 20.000. Adapun bubuk kopi luwak arabika kemasan 100 gram seharga 30 dollar AS (sekitar Rp 300.000) dan kopi arabika biasa 3 dollar AS (Rp 30.000). (ICH)

Sumber: Kompas, 18 Oktober 2013

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’
Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan
UII Tambah Jumlah Profesor Bidang Ilmu Hukum
3 Ilmuwan Menang Nobel Kimia 2023 Berkat Penemuan Titik Kuantum
Profil Claudia Goldin, Sang Peraih Nobel Ekonomi 2023
Tiga Ilmuwan Penemu Quantum Dots Raih Nobel Kimia 2023
Penghargaan Nobel Fisika: Para Peneliti Pionir, di antaranya Dua Orang Perancis, Dianugerahi Penghargaan Tahun 2023
Dua Penemu Vaksin mRNA Raih Nobel Kedokteran 2023
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 21 November 2023 - 07:52 WIB

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

Senin, 13 November 2023 - 13:59 WIB

Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan

Senin, 13 November 2023 - 13:46 WIB

UII Tambah Jumlah Profesor Bidang Ilmu Hukum

Senin, 13 November 2023 - 13:42 WIB

3 Ilmuwan Menang Nobel Kimia 2023 Berkat Penemuan Titik Kuantum

Senin, 13 November 2023 - 13:37 WIB

Profil Claudia Goldin, Sang Peraih Nobel Ekonomi 2023

Senin, 13 November 2023 - 05:01 WIB

Penghargaan Nobel Fisika: Para Peneliti Pionir, di antaranya Dua Orang Perancis, Dianugerahi Penghargaan Tahun 2023

Senin, 13 November 2023 - 04:52 WIB

Dua Penemu Vaksin mRNA Raih Nobel Kedokteran 2023

Senin, 13 November 2023 - 04:42 WIB

Teliti Dinamika Elektron, Trio Ilmuwan Menang Hadiah Nobel Fisika

Berita Terbaru

Berita

UII Tambah Jumlah Profesor Bidang Ilmu Hukum

Senin, 13 Nov 2023 - 13:46 WIB

Berita

Profil Claudia Goldin, Sang Peraih Nobel Ekonomi 2023

Senin, 13 Nov 2023 - 13:37 WIB