Konsumen Kurangi Kantong Plastik

- Editor

Kamis, 14 April 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Harga Rp 200 Dinilai Masih Terlalu Rendah
Kebijakan plastik berbayar mulai menurunkan penggunaan kantong plastik berbelanja, setidaknya di Jakarta. Meski demikian, pemerintah tetap diminta melakukan perbaikan kebijakan jika serius hendak menurunkan dampak penggunaan plastik.

Survei efektivitas uji coba kebijakan kantong plastik berbayar yang dilaksanakan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyebutkan, terjadi penurunan 40-50 persen penggunaan kantong plastik. “Sudah ada dampak pengurangan penggunaan kantong plastik belanja. Namun, kalau mau bicara efektivitas, seharusnya penurunannya sampai 90 persen,” ujar Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi, di Jakarta, Rabu (13/4).

Survei dilakukan 1 Maret hingga 6 April 2016 di 25 lokasi pada 15 ritel modern di DKI Jakarta. Rinciannya, melibatkan 8 minimarket, 11 supermarket dan hipermarket, serta 6 pusat perbelanjaan. Teknik penelitian dilakukan dengan metode observasi ritel, wawancara kasir, dan wawancara konsumen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

bf0201423acb4868a60fa052b520e7b4Adapun jumlah konsumen yang jadi sampel uji coba mencapai 222 orang. Komposisinya adalah 43,2 persen pegawai swasta, 14,4 persen pelajar atau mahasiswa, 12,6 persen wiraswasta, 11,3 persen ibu rumah tangga, 6,3 persen profesional, dan 9 persen lain-lain.

Dari sisi sebaran umur responden, mayoritas pada kategori 21-30 tahun dengan 38,7 persen. Kategori usia 31-40 tahun (27,9 persen), usia 41-50 tahun (16,2 persen), di bawah 21 tahun (13,1 persen), 51-60 tahun (3,2 persen), dan di atas 60 tahun (0,9 persen).

Hasilnya, selama pengamatan 10 menit, dalam 20 transaksi, terdapat 10 konsumen menggunakan kantong plastik. Sementara itu, dari 16-20 transaksi, terdapat 10 konsumen yang menggunakan kantong plastik. Adapun dari 11-15 kali transaksi, 9 konsumen menggunakan kantong plastik; sedangkan dari 6-10 transaksi, ada 5 konsumen menggunakan plastik; dan di bawah 5 transaksi, ada 3 konsumen yang menggunakan kantong plastik.

72564fc340534452ab6a204196569a6aDari total pengamatan dan survei, 46,4 persen konsumen membawa tas belanja sendiri. Sementara itu, 37,4 persen menggunakan lebih dari 3 kantong plastik, 13,1 persen menggunakan 3-4 kantong plastik, dan 3,1 persen menggunakan plastik lebih dari 4 kantong.

Selain itu, sebanyak 22 kasir mengatakan, konsumen mulai terbiasa membawa kantong belanja sendiri, sedangkan 3 kasir mengatakan sebaliknya. Sebanyak 16 kasir mengatakan terjadi penurunan penggunaan kantong plastik, sedangkan 9 kasir lainnya mengatakan tidak.

Perbaikan kebijakan
Meskipun memberi dampak positif pengurangan penggunaan kantong plastik, menurut Tulus, hal itu masih diperlukan perbaikan kebijakan. Salah satunya terkait dengan sosialisasi. Dari survei tersebut, tercatat 22 dari 25 kasir tidak melakukan penjelasan tambahan mengenai kebijakan itu.

Peneliti YLKI, Natalya Kurniawati, mengungkapkan, bahkan ditemukan pelayan ritel yang tidak memasang papan pengumuman soal kebijakan penggunaan plastik berbayar. “Baru diambil papan ketika saya tanya,” ujarnya.

Sorotan lain adalah mengenai harga plastik Rp 200 yang dirasa belum cukup untuk membuat warga meninggalkan kebiasaan membeli kantong plastik. “Itu terlalu kecil, hanya setara ongkos produksi plastik itu. Kami usulkan Rp 1.000, baru terasa ke konsumen,” ujar Tulus.

Menurut dia, jika pemerintah benar-benar serius ingin memperbaiki lingkungan, seharusnya ditetapkan secara tegas larangan penggunaan plastik. “Kebijakan ini masih abu-abu. Sekalian saja dihilangkan penggunaannya dan ganti pakai tas,” ujarnya. (C11)
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 April 2016, di halaman 14 dengan judul “Konsumen Kurangi Kantong Plastik”.

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 17 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB