Home / Berita / Kesadaran akan Mobil Hibrida Bertambah, tetapi Pemahaman Masih Minim

Kesadaran akan Mobil Hibrida Bertambah, tetapi Pemahaman Masih Minim

Peraturan Presiden tentang Kendaraan Listrik sudah resmi diundangkan. Pasar pun sudah merespons dengan peluncuran sejumlah kendaraan berteknologi electric vehicle (EV) bagi konsumen Tanah Air. Kesadaran publik akan mobil berteknologi ini pun semakin tinggi, tetapi pemahaman mereka ternyata masih rendah.

DOK TOYOTA ASTRA MOTOR–Lima mobil hybrid Toyota dilibatkan dalam uji kendara singkat menempuh rute Jakarta-Cisarua, Selasa (1/10/2019). Kelima mobil tersebut dari kiri adalah Toyota C-HR Hybrid, Toyota Corolla Altis Hybrid, Toyota Camry Hybrid, Toyota Prius PHV, dan Toyota Alphard Hybrid.

Demikian terungkap dalam survei internal yang digelar PT Toyota Astra Motor (TAM) selaku distributor resmi mobil-mobil bermerek Toyota di Indonesia. ”Dari survei itu terungkap awareness tentang mobil-mobil hybrid Toyota tinggi, sekitar 60 persen konsumen tahu ada mobil hybrid. Namun, pemahaman akan teknologi hybrid itu sendiri masih rendah. Baru sekitar 15 persen yang paham tentang mobil hybrid,” papar Wakil Presiden Direktur PT TAM Henry Tanoto, Selasa (1/10/2019), di Jakarta.

Henry menyampaikan hal tersebut saat mengajak media menjajal jajaran lini produk mobil hybrid Toyota yang sudah hadir di Tanah Air. Lima mobil itu, yakni Toyota Prius PHV (plug-in hybrid vehicle), Toyota Alphard Hybrid, Toyota Camry Hybrid, Toyota C-HR Hybrid, dan yang terbaru Toyota Corolla Altis Hybrid, diuji menempuh jarak lebih dari 100 kilometer (km) dari Jakarta menuju kawasan Cisarua, Puncak, Bogor, Jawa Barat.

Ia juga menambahkan, walau ada pertambahan jumlah kendaraan hybrid yang dibeli oleh masyarakat Indonesia, pertumbuhannya bisa dikatakan masih lambat. ”Sejak mobil hybrid pertama kami pasarkan di Indonesia dengan Toyota Prius pada 2009, sudah ada sekitar 2.200 mobil hybrid berbagai tipe yang terjual. Ada pertumbuhan, tetapi masih lambat,” papar Henry.

DOK TOYOTA ASTRA MOTOR–Wakil Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor (TAM) Henry Tanoto (kanan) berbincang-bincang dengan Direktur Pemasaran PT TAM Anton Jimmi Suwandy di sela-sela uji kendara singkat mobil-mobil hibrida Toyota di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Selasa (1/10/2019).

Jumlah itu jelas masih sangat kecil dibandingkan dengan angka penjualan seluruh mobil Toyota di Indonesia yang mencapai lebih dari 300.000 mobil per tahun. Henry mengakui, salah satu kendala bagi konsumen saat hendak membeli mobil hybrid adalah harganya yang lebih tinggi dibandingkan mobil konvensional. ”Affordability memang masih jadi isu. Harapannya memang ada insentif (dari pemerintah), baik insentif fiskal maupun nonfiskal,” kata Wakil Presdir PT TAM tersebut.

Sebagai contoh, Toyota Camry Hybrid saat ini dibanderol Rp 809.400.000 (on the road, Jakarta), atau selisih lebih dari Rp 150 juta dibandingkan dengan varian di bawahnya yang bermesin konvensional, yakni Toyota Camry 2.5 V, yang dihargai Rp 649.450.000.

Atau misalnya, All New Toyota Corolla Altis Hybrid yang pasang harga Rp 566.300.000, berselisih signifikan dibandingkan dengan All New Toyota Corolla Altis V yang dibanderol Rp 489.300.000.

Harga tinggi itu, lanjut Henry, paling besar disebabkan harga baterai yang masih mahal.

DOK TOYOTA ASTRA MOTOR–Deretan mobil hibrida Toyota, antara lain Toyota Alphard Hybrid (kiri), Toyota C-HR Hybrid (tengah), dan Toyota Prius PHV (kanan), saat uji singkat di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Selasa (1/10/2019).

Paling banyak
Selisih harga paling tipis baru bisa ditemui pada Toyota C-HR. Varian hybrid mobil ini dijual pada kisaran harga Rp 523.350.000 dan Rp 524.850.000. Sementara varian bermesin konvensional dipasarkan dengan harga Rp 493.350.000-Rp 494.850.000.

Selisih harga yang tak terlalu jauh ini membuat konsumen cenderung memilih varian hybrid. Direktur Pemasaran PT TAM Anton Jimmi Suwandy, yang ikut dalam rombongan uji kendara singkat ini, mengatakan, sekitar 75 persen konsumen Toyota C-HR memilih varian hybrid daripada varian bermesin konvensional.

”Toyota C-HR saat ini terjual sekitar 40 unit per bulan. Dari jumlah tersebut, 75 persennya memilih varian hybrid. Dulu estimasi kami pembeli hybrid hanya akan berkisar di angka 40-50 persen, ternyata estimasi itu sudah terlampaui,” papar Anton.

Anton berharap jumlah pembeli varian hybrid itu terus akan bertambah seiring dengan meningkatnya kesadaran publik akan mobil berteknologi baru tersebut. ”Memang pembeli varian hybrid ini adalah orang-orang yang melek teknologi dan ingin mencoba teknologi terbaru. Mereka rata-rata baru pertama kali membeli mobil hybrid meski saat di luar negeri pernah mencoba mobil hybrid ini,” ujar Anton.

DOK TOYOTA ASTRA MOTOR–Toyota Corolla Altis Hybrid menjalani uji singkat di kawasan Gadog, Ciawi, Bogor, Jawa Barat, Selasa (1/10/2019).

Baik Henry maupun Anton menggarisbawahi pentingnya edukasi publik yang harus disampaikan terus-menerus terkait mobil-mobil berteknologi EV ini. Dalam kasus C-HR, misalnya, awalnya ada dua hal yang menjadi kekhawatiran calon konsumen, yakni soal umur baterai dan biaya perawatan mobil hybrid.

”Setelah kami jelaskan bahwa ada garansi lima tahun untuk baterai dan biaya perawatan mobil hybrid yang relatif sama dengan mobil konvensional, mereka baru yakin untuk membelinya,” ujar Anton.

Terkait dengan upaya edukasi dan pengenalan produk EV Toyota bagi pasar Indonesia ini, Anton mengatakan pihaknya dalam waktu dekat bermaksud memasarkan Toyota Prius PHV berteknologi plug-in hybrid electric vehicle (PHEV). ”Target kami bisa memasarkan Prius PHV ini di Indonesia dengan harga di bawah Rp 1 miliar per unit. Ini kami masih menunggu dua peraturan pemerintah lagi terkait mobil listrik, yakni mengenai Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) dan soal (insentif) produksi lokal,” tuturnya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

KOMPAS/STEFANUS OSA–Sistem charger listrik pada mobil Toyota Prius PHV terlihat begitu mudah.

Sumber: Kompas, 2 Oktober 2019
—————————
Dua Motor Penggerak, Empat Rasa Berbeda

Teknologi mobil hibrid semakin gencar disosialisasikan. Toyota kembali menguji teknologi mobil listrik ini dengan jarak tempuh yang semakin panjang dan durasi cukup lama.

KOMPAS/STEFANUS OSA–Varian kendaraan Toyota Hybrid terasa gencar disosialisasikan di pasar otomotif Indonesia, seperti diuji di hutan De’Djawatan, Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (9/10/2019).

Teknologi mobil hibrida semakin gencar disosialisasikan. Lewat model-model hibrida terbarunya, Toyota kembali menguji teknologi mobil listrik ini dengan jarak tempuh yang semakin panjang dan durasi cukup lama.

”Baru kali inilah kami akhirnya dapat memberikan kesempatan kepada jurnalis untuk mencicipi seluruh model mobil hibrida yang telah diperkenalkan di Indonesia. Ada Alphard, Camry, Corolla Altis, Prius, dan C-HR yang seluruhnya menggunakan teknologi hibrida,” kata Manajer PR PT Toyota Astra Motor (TAM) Rouli Sijabat, saat membuka acara Uji Kendaraan Kendaraan Listrik bagi Jurnalis di Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (9/10/2019).

Sepekan lalu, pengujian seluruh lini Toyota hibrida telah dilakukan bagi jurnalis media cetak dengan jarak tempuh sekitar 100 kilometer. Jalur yang diambil hanya sekitar Jakarta-Bogor-Puncak (pergi-pulang).

Kali ini, pengujian dilakukan dengan suasana yang berbeda, bahkan medan jalan yang berbeda. Uji kendara di sekitar Banyuwangi hingga Denpasar, Bali, akan menempuh jarak total sejauh sekitar 376 kilometer. Selain jarak yang cukup jauh, baru kali ini lagi, setelah tahun 2011, uji kendaraan dilakukan selama tiga hari dua malam.

Semua kendaraan yang dirancang dengan teknologi hibrida ini diperkenalkan, sekaligus dirasakan oleh para jurnalis, baik media cetak maupun elektronik. Secara bergantian, mereka bisa merasakan secara langsung sebagai pengemudi ataupun penumpang.

Hampir semua peserta, ketika memulai mengaktifkan kendaraan, memiliki pertanyaan yang sama, ”Apakah mesinnya sudah nyala?” Hanya sebagian kecil peserta yang sudah memahami bahwa mesin kendaraan sudah aktif, tanpa memperhatikan secara detail layar monitor head unit atau multi-information display (MID).

Bahkan, di antara peserta yang setiap mobil berisi empat orang, sempat terjadi perdebatan kecil tentang sudah aktif atau belumnya mesin kendaraan ini. Dan, akhirnya gelak-tawa pun spontan terjadi di salah satu kendaraan yang diuji bersama Kompas.

KOMPAS/STEFANUS OSA–Toyota C-HR Hybrid singgah di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur, Rabu (9/10/2019).

Tak hanya perdebatan kecil. Saat kendaraan mulai melaju, hal yang menggelitik dalam kesenyapan kendaraan ini adalah bagaimana sistem kerja mekanis antara motor listrik dan mesin konvensional. Dua penggerak yang simultan bekerja ditampilkan pada layar head unit, seperti yang bisa ditemukan pada Alphard dan model-model sedan (Camry, Corolla Altis, dan Prius). Hanya Toyota C-HR Hybrid sebagai model crossover SUV menempatkan indikator sistem penggerak kendaraannya pada MID kecil, di dekat roda kemudi.

Andri Widyanto, Deputy Division Head Marketing TAM, mengatakan, mobil hibrida memberikan setidaknya empat rasa dalam berkendara. Selama tiga hari dua malam, jurnalis bisa merasakan mobil hibrida bisa tetap fun to drive. Ini bisa dibuktikan dari sisi performa, akselerasinya bisa dibandingkan sendiri dengan kendaraan non-hibrida.

Kendaraan hibrida ini juga memiliki rasa eco-friendly alias ramah lingkungan. Salah satu penggerak kendaraan ini adalah motor listrik dan bahkan yang mengawali dan banyak bekerja justru motor listriknya dibandingkan dengan mesin konvensionalnya. Motor listrik yang lebih banyak bekerja membuat kendaraan ini ramah lingkungan karena emisi karbon dari mesin bakar konvensional bisa direduksi.

Ketiga, eksplorasi kendaraan hibrida membuat pengendara bisa merasakan efisiensi bahan bakarnya. Dengan teknologi ini, kata Andri, penghematan bahan bakar bisa mencapai 70 persen.

Yang keempat, kesenyapan kendaraan ini membuat penumpang pun merasakan kenyamanan. ”Banyak hal yang bisa kita explore dari kendaraan hibrida ini,” kata Andri.

KOMPAS/STEFANUS OSA–Faozan, Kepala Bengkel Toyota Auto 2000 Banyuwangi, menjelaskan perbedaan perawatan mobil hibrida dan non-hibrida. Salah satunya terletak pada pengontrolan filter saringan pendingin yang menyelubungi baterai di bawah jok mobil bagian belakang. Ini diungkapkan di bengkel Auto 2000 Banyuwangi, Rabu (9/10/2019)

Pengujian mulai dilakukan pada hari pertama di sekitar Banyuwangi. Selain melintas jalan cukup ramai menuju kawasan hutan De’ Djawatan, pengujian dilakukan di sekitar Taman Nasional Baluran. Soal kemudahan servis yang membedakan antara kendaraan mesin konvensional dan hibrida pun ditunjukkan di dealer Toyota Auto 2000 Banyuwangi.

Sosialisasi lebih
Sebelumnya, pada ajang uji kendara yang pertama, Wakil Presiden Direktur PT TAM Henry Tanoto menggarisbawahi perlunya edukasi yang lebih intensif kepada masyarakat terkait teknologi mobil listrik, terutama mobil-mobil hibrida Toyota. Menurut Henry, dari survei internal TAM, diketahui baru 15 persen responden yang benar-benar memahami mengenai mobil hibrida.

Sebelum dua uji kendara lini produk mobil hibrida oleh TAM ini, Kompas juga telah melakukan sendiri uji kendara jarak jauh Toyota Prius PHV (plug in hybrid electric vehicle) dan Prius HEV (hybrid electric vehicle) bersama PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).

Pengujian ini bertujuan untuk membuktikan kemampuan dan melakukan komparasi teknologi PHEV dan HEV saat digunakan di medan sesungguhnya di Indonesia.

KOMPAS/EDDY HASBY–Toyota Prius PHV (kiri) dan Toyota Prius HEV (kanan) saat diuji di Taman Sakura Lawu, Cemoro Kandang, Karanganyar, Jateng.

Oleh STEFANUS OSA TRIYATNA

Editor DAHONO FITRIANTO

Sumber: Kompas, 10 Oktober 2019
————————————–
Menjajal Teknologi HEV dan PHEV di Medan Sesungguhnya

Untuk pertama kali, Kompas melakukan uji komparasi mobil dengan dua teknologi EV (electric vehicle) yang sudah dipasarkan di dunia, yakni hybrid electric vehicle (HEV) dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV).

KOMPAS/EDDY HASBY–Toyota Prius PHV (plug-in hybrid electric vehicle) melaju di Jalan Tol Semarang-Solo, Kamis (29/8/2019).

Peraturan Presiden terkait mobil listrik sudah ditandatangani bulan lalu. Indonesia pun beranjak masuk ke era mobil berpenggerak baterai. Saatnya mengenal dan menguji teknologi ini langsung di medan sesungguhnya.

Untuk pertama kali, Kompas melakukan uji komparasi mobil dengan dua teknologi EV (electric vehicle) yang sudah dipasarkan di dunia, yakni hybrid electric vehicle (HEV) dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV). Pada 28-30 Agustus 2019, uji komparasi ini dilakukan menggunakan Toyota Prius HEV dan Toyota Prius PHV, yang Kompas pinjam dari PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).

Dua mobil ini sebelumnya digunakan sebagai basis uji teknologi kendaraan listrik yang dilakukan oleh Kementerian Perindustrian dan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi bekerja sama dengan enam perguruan tinggi negeri di Indonesia.

KOMPAS/EDDY HASBY–Peraturan Presiden terkait mobil listrik sudah ditandatangani bulan lalu. Indonesia pun beranjak masuk ke era mobil berpenggerak baterai. Saatnya untuk mengenal dan menguji teknologi baru ini langsung di medan sesungguhnya.

Riset yang dilakukan sejak 11 Juli 2018 hingga 23 April 2019, itu, dilakukan di medan nyata secara bergantian oleh Universitas Indonesia (UI) di Jakarta, Institut Teknologi Bandung (ITB) di Bandung, Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta, Universitas Sebelas Maret (UNS) di Solo, Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) di Surabaya, dan Universitas Udayana (Unud) di Bali.

Kompas melakukan uji teknologi kedua mobil tersebut dengan mengendarainya dari Jakarta menuju Semarang, Klaten, dan Solo di Jawa Tengah, dengan menempuh jarak lebih dari 800 kilometer. Berbagai kondisi jalan dan lalu lintas, mulai kemacetan dalam kota hingga jalur jalan tol yang mulus dan lengang sampai medan berliku penuh tanjakan dan turunan tajam, ditempuh untuk mengetahui bagaimana performa mobil dan cara pemakaian terbaiknya.

KOMPAS/EDDY HASBY–Toyota Prius PHV melintas di Jalan Kepodang, Kota Lama Semarang, Jawa Tengah, Kamis (29/8/2019).

Impresi awal
Impresi pertama didapatkan saat mengemudikan mobil tersebut dari kantor pusat PT TMMIN di Sunter, Jakarta Utara, menuju kantor Kompas di Palmerah, Jakarta Pusat, sejauh sekitar 29 kilometer (km). Mode berkendara diset pada EV mode sehingga mobil murni menggunakan tenaga listrik dari baterai yang sudah terisi penuh.

Begitu tombol Start/Stop ditekan, tak ada bunyi apa pun yang muncul dari ruang mesin. Hanya panel instrumen yang menyala dengan tulisan ”Ready”. Artinya mobil sudah siap digunakan. Pedal gas pun ditekan pelan-pelan dan mobil meluncur meninggalkan kompleks perkantoran Toyota di Sunter menuju Jalan Tol Dalam Kota arah ke Ancol/Pluit.

Di luar dugaan, akselerasi terasa ringan dan bertenaga pada mode murni elektrik ini. Begitu memasuki jalan tol dan saat situasi agak lengang, pedal gas ditekan agak dalam, dan tidak membutuhkan waktu lama bagi mobil untuk menyentuh angka 100 km per jam, sebelum mobil segera direm kembali karena lalu lintas mulai memadat.

Saat mobil direm, indikator aliran tenaga yang terpampang di panel instrumen dan layar monitor utama menunjukkan arah dari roda ke baterai, menunjukkan terjadi pengisian ulang baterai melalui sistem pengereman regeneratif.

KOMPAS/EDDY HASBY–Monitor aliran energi Toyota Prius HEV saat melintas di kawasan Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis (29/8/2019).

Saat tiba di ruangan parkir bawah tanah di Menara Kompas di Palmerah, indikator baterai menunjukkan tinggal tersisa sekitar separuh penuh sehingga diputuskan untuk langsung dicas. Kompas harus memberikan penjelasan singkat kepada satuan pengaman dan pihak manajemen bangunan sebelum diizinkan mengecas mobil dengan stop kontak di dinding ruang parkir.

Pasalnya ada kekhawatiran terkait arus listrik yang digunakan dan berapa besar beban listrik yang timbul saat pengecasan terjadi.

Hal ini menunjukkan bagaimana sosialisasi dan edukasi tentang kebutuhan mobil listrik perlu dilakukan lebih intensif karena terbukti begitu perangkat catu daya bawaan mobil dicolokkan ke stop kontak, proses pengecasan berlangsung tanpa masalah. Indikator di dasbor mobil menunjukkan, pengisian hingga penuh membutuhkan waktu sekitar 3 jam dengan arus listrik 8 ampere (A).

Arus sebesar 8 A ini adalah yang direkomendasikan saat melakukan pengisian ulang dengan charger standar mobil. Ada opsi arus 16 A dengan peranti pengisian yang lebih cepat (fast charger), tetapi peranti ini membutuhkan instalasi khusus.

KOMPAS/EDDY HASBY–Toyota Prius PHV (kiri) dan Toyota Prius HEV (kanan) saat berhenti di The Heritage Palace, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (30/8/2019).

Menurut Teguh Trihono, General Manager External Affairs Division PT TMMIN, dibutuhkan waktu sekitar 5 jam untuk mengisi penuh baterai Prius PHV yang berkapasitas 8,8 kilowatt hour (kWh) dari kondisi habis dengan charger bawaan mobil.

Setelah sekitar tiga jam lebih, benar saja baterai mobil telah terisi penuh. Di layar monitor tertulis jarak yang bisa ditempuh dengan EV mode adalah 73 km. Mobil pun kembali dikendarai dalam EV mode, menempuh jarak 27 km untuk menguji langsung pengecasan di jaringan listrik rumah tangga biasa.

Namun, sayang, setiba di rumah, peranti pengecas ini tidak bisa diaktifkan. Listrik sama sekali tidak mau mengalir dan ada indikator lampu merah berkedip-kedip pada pengecas tersebut.

Menurut Teguh, masalahnya diperkirakan pada sistem grounding di jaringan listrik rumah yang kurang sempurna. ”Peranti charger ini membutuhkan sistem grounding yang baik dan benar untuk bisa difungsikan,” paparnya.

Memang saat diambil di kantor TMMIN di Sunter, tidak semua stop kontak di kompleks perkantoran tersebut pun bisa digunakan untuk mengecas mobil. Besoknya saat kami tiba di hotel tempat menginap di Semarang, kembali stop kontak yang tersedia juga tak bisa digunakan. Akhirnya mobil baru bisa diisi ulang baterainya setelah kami bawa ke kantor biro Kompas di Semarang.

Mobil dibiarkan dalam kondisi baterai di posisi sekitar setengah. Kami pun memutuskan akan melanjutkan uji kendara keesokan harinya sampai baterai benar-benar habis untuk menjalankan EV mode.

KOMPAS/EDDY HASBY–Toyota Prius PHV di The Heritage Palace, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (30/8/2019).

Biaya pengecasan
Keesokan harinya, perjalanan menuju Semarang pun dimulai. Mobil melintasi Jalan Tol JORR menuju Jalan Tol Jakarta-Cikampek. Beberapa meter setelah kami menuruni simpang susun Cikunir, akhirnya tenaga listrik baterai tak cukup lagi untuk mode murni elektrik, dan segera terasa bagaimana mesin bensin konvensional Prius PHV ini menyala.

Tercatat, jarak total yang ditempuh menggunakan mode EV murni sejak meninggalkan kantor semalam adalah 42 km. Jarak yang ditempuh memang tidak sesuai dengan perkiraan awal sejauh 73 km karena daya baterai tidak sepenuhnya diberdayakan untuk menggerakkan roda, tetapi juga digunakan untuk mengaktifkan AC mobil.

Jarak total 42 km ini artinya, jika kita menggunakan Prius PHV sehari-hari dari rumah ke kantor pergi-pulang dengan jarak sekitar 40-45 km, mesin konvensional mobil ini bisa dikatakan nyaris tak akan digunakan.
Apalagi jika mobil selalu dicas penuh di rumah, kemudian dicas lagi selama berada di kantor. Maka seluruh perjalanan akan bisa digunakan dalam mode elektrik murni, dan tak ada setetes bensin pun yang dibakar.

KOMPAS/EDDY HASBY–Toyota Prius PHV dicas ulang dengan peranti pengisi daya cepat (fast charger) di Pusat Pengembangan Bisnis (Pusbangnis) Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Jumat (30/8/2019).

Biaya untuk mengecas pun diklaim oleh Teguh sangat murah. Dengan kapasitas baterai 8,8 kWh dan tarif listrik tertinggi PLN saat ini sebesar Rp 1.650 per kWh, setiap pengecasan penuh baterai hanya menghabiskan biaya sekitar Rp 14.520, dan mobil sudah bisa dijalankan hingga jarak 42 km.

Itu pun, lanjut Teguh, jika diasumsikan baterai diisi dari kondisi kosong sama sekali hingga penuh. ”Padahal, ada sistem yang menjaga agar baterai tidak bisa kosong sama sekali. Sehingga biayanya sebenarnya masih di bawah itu,” paparnya.

Bandingkan dengan mobil konvensional yang diisi dengan bensin beroktan 92, yang kini rata-rata dipasarkan dengan harga Rp 9.850 per liter. Katakan konsumsi BBM rata-rata tiap mobil adalah 10 km per liter, dibutuhkan lebih dari 4 liter bensin dengan biaya sedikitnya Rp 39.400.

Dengan mobil berteknologi hibrida, pemakai juga tak perlu khawatir dengan jarak tempuh. Karena begitu daya baterai mendekati habis, mesin konvensional mobil akan aktif. Pada sistem hibrida Toyota, tenaga dari mesin ini digunakan untuk memutar roda sekaligus mengecas ulang baterai. Jadi mesin berfungsi ganda, sebagai sumber tenaga penggerak sekaligus generator listrik untuk catu daya baterai.

Seperti yang terjadi selepas Cikunir itu, terasa getaran lembut saat mesin pembakaran internalnya akhirnya aktif. Yang menarik, saat mesin berkapasitas 1.800 cc ini aktif, tenaga yang tersalur ke roda justru terasa lebih rendah dibanding saat masih berada pada mode EV.

Namun, tidak berarti tenaga mobil menjadi loyo. Karena saat tenaga besar dibutuhkan, misalnya untuk berakselerasi cepat, tenaga dari baterai kembali disalurkan ke motor listrik untuk dipadukan dengan tenaga dari mesin. Mobil pun meluncur deras.

KOMPAS/EDDY HASBY–Toyota Prius HEV melintas dengan kecepatan tinggi di ruas Jalan Tol Tegal-Semarang, Rabu (28/8/2019).

Selama perjalanan dari Jakarta ke Semarang, bisa dibilang, kami tak menerapkan prinsip ecodriving. Di beberapa bagian Jalan Tol Trans-Jawa yang sepi, gas kami injak dalam-dalam untuk merasakan performa mobil.

Di sini kemudian indikator konsumsi BBM mulai bergerak perlahan-lahan. Dari konsumsi 0 liter per 100 km saat kami masih menggunakan mode EV, beringsut-ingsut ke 2, 3, hingga akhirnya 4,5 liter per 100 km. Artinya, dalam penggunaan untuk perjalanan luar kota jarak jauh tanpa pengisian ulang daya baterai di jalan, konsumsi BBM-nya berada pada kisaran 22,2 km per liter.

Ini tak jauh berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan enam perguruan tinggi negeri (UI, ITB, UGM, UNS, ITS, dan Universitas Udayana) menggunakan mobil yang sama. Berdasarkan laporan akhir penelitian, didapatkan konsumsi BBM rata-rata untuk Prius HEV adalah 21,9 km per liter. Sementara untuk Prius PHV sebesar 42,0 km per liter.

Hasil yang ditemukan Kompas menunjukkan, dalam perjalanan jarak jauh tanpa pengisian ulang listrik, mobil PHEV akan berperilaku seperti mobil HEV. Hal itu menunjukkan konsumsi BBM yang tak berbeda jauh.

KOMPAS/EDDY HASBY–Toyota Prius PHV di antara koleksi mobil antik di The Heritage Palace, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (30/8/2019).

Tanjakan dan turunan
Setelah beristirahat satu malam di Semarang, pengujian dilanjutkan dengan rute Semarang-Kartasura-Klaten ke salah satu pusat industri kecil binaan PT TMMIN. Kali ini, fokus pengujian adalah Prius HEV.

Di versi HEV ini, pada kecepatan di bawah 40 km per jam, mobil masih dijalankan dengan tenaga listrik murni. Namun, begitu kecepatan melampaui batas tersebut, mesin pembakaran internal langsung aktif. Seperti pada PHV, mesin ini menggerakkan roda sekaligus mengisi baterai.

Kedua varian mobil juga dilengkapi dengan ”gigi” B pada tuas transmisi. Saat tuas transmisi digeser ke posisi B, efek pengereman terasa lebih kuat karena pengereman regeneratif bekerja lebih keras dalam mengecas baterai. Posisi transmisi B juga menimbulkan efek engine brake meski mesin dalam kondisi mati sehingga menambah keamanan saat mobil melintasi turunan panjang.

Mode ini beberapa kali dicoba saat melintasi Jalan Tol Semarang-Solo di ruas setelah Bawen, di mana banyak ditemui turunan panjang. Langsung terlihat bagaimana indikator baterai terisi cepat.

Wajar saja, karena baterai pada Prius HEV ini berkapasitas lebih kecil, hanya 1,3 kWh. Tipe baterainya juga berbeda. Pada HEV ini menggunakan baterai tipe nickel-metal hydride (Ni-MH), sedangkan Prius PHV menggunakan baterai Lithium-ion (Li-ion).

KOMPAS/EDDY HASBY–Toyota Prius PHV (kiri) dan Toyota Prius HEV (kanan) di Taman Sakura Lawu, Cemoro Kandang, Karanganyar, Jateng.

Seusai makan siang di Klaten, perjalanan dilanjutkan menuju Taman Sakura Lawu (Sakral) yang dibangun PT TMMIN di kawasan Cemoro Kandang di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar. Medan penuh tikungan tajam dan tanjakan berat ditemui di sini.

Beberapa kali pedal gas pun harus ditekan lebih dalam. Konsekuensinya, konsumsi BBM menjadi lebih boros. Saat naik ke Cemoro Kandang ini, indikator menunjukkan konsumsi BBM 5,6 km per 100 l, atau sekitar 17,86 km per liter. Padahal, dalam perjalanan dari Semarang ke Klaten, konsumsi rata-rata berada pada posisi 4,7 km per 100 l (21,28 km per liter).

Namun, konsumsi yang lebih boros ini dikompensasi saat kami turun kembali ke Solo. Karena hampir seluruh rute adalah jalan menurun, mesin mobil pun jarang menyala dan baterai hampir selalu terisi penuh.

KOMPAS/EDDY HASBY–Monitor energi Toyota Prius HEV saat turun dari kawasan Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, menuju Solo, Jawa Tengah, Kamis (29/8/2019). Terlihat aliran tenaga dari roda ke baterai, yang menandakan pengisian baterai dengan pengereman regeneratif.

Kompas juga sempat mengisi ulang baterai Prius PHV dengan alat pengecas cepat buatan Teknik Elektro UNS di Solo. Dengan pengecas cepat ini, baterai mobil terisi penuh dalam waktu hanya sekitar satu jam dari posisi sekitar separuh penuh.

Pengujian menempuh jarak total sekitar 800 km ini membuktikan bagaimana mobil-mobil berteknologi hibrida, baik PHEV maupun HEV, bisa digunakan dengan nyaman dan lancar untuk perjalanan luar kota. Sinergi mesin konvensional dan motor listrik membuat pengguna tak usah khawatir kehabisan cadangan listrik dalam baterai sekaligus menikmati konsumsi BBM yang sangat hemat.

Sementara untuk penggunaan perkotaan, khususnya dengan mobil PHEV, pengguna dimungkinkan tak perlu mengaktifkan mesin bensin. Karena hampir seluruh jarak normal komuter di kawasan Jakarta sekalipun bisa ditempuh menggunakan mode listrik (EV) murni.

Oleh DAHONO FITRIANTO DAN STEFANUS OSA TRIYATNA

Sumber: Kompas, 10 Oktober 2019

Share
x

Check Also

Selaraskan Energi Terbarukan dan Konservasi Alam

Pembangunan PLTA Batang Toru agar seiring dengan penyelamatan dan pelestarian orangutan tapanuli yang sangat endemik ...

%d blogger menyukai ini: