Home / Berita / Menjajal Teknologi HEV dan PHEV

Menjajal Teknologi HEV dan PHEV

Peraturan Presiden terkait mobil listrik sudah ditandatangani bulan lalu. Indonesia pun beranjak masuk ke era mobil berpenggerak baterai. Saatnya mengenal dan menguji teknologi ini langsung di medan sesungguhnya.

Untuk pertama kali, Kompas melakukan uji komparasi mobil dengan dua teknologi EV (electric vehicle) yang sudah dipasarkan di dunia, yakni hybrid electric vehicle (HEV) dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV). Pada 28-30 Agustus 2019, uji komparasi ini — dilakukan menggunakan Toyota Prius HEV dan Toyota Prius PHV, yang Kompas pinjam dari PT Toyota Motor Manufacturing
Indonesia (TMMIN).

Saat meluncur dari kantor PT TMMIN di Sunter, Jakarta Utara, menuju kantor Kompas di Palmerah, Jakarta Pusat, sejauh sekitar 29 kilometer, mode berkendara diset pada EV mode. Mobil pun murni menggunakan tenaga listrik dari baterai.

–Toyota Prius PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicles) dan Toyota Prius HEV (Hybrid Electric Vehicles) (kanan) lokasi The Heritage palace, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Pedal gas pun ditekan pelan-pelan saat mobil memasuki Jalan Tol Dalam Kota arah Ancol/Pluit. Di luar dugaan, akselerasi terasa ringan dan bertenaga. Tak butuh waktu lama bagi mobil untuk menyentuh angka 100 km per jam.

Saat pedal gas dilepas atau mobil direm, indikator di panel instrumen menunjukkan arah energi dari roda ke baterai, menunjukkan terjadinya pengisian ulang baterai melalui sistem pengereman regeneratif.

Saat tiba di ruangan parkir Menara Kompas di Palmerah, indikator baterai menunjukkan listrik tinggal tersi sekitar separuh. Mobil pun digunakan stop kontak di dinding ruang parkir. Indikator di dasbor menunjukkan, pengisian butuh waktu sekitar 3 jam dengan arus listrik 8 ampere (A).

Arus sebesar 8 A ini direkomendasikan saat melakukan pengisian ulang dengan charger standar mobil. Menurut General Manager External Affairs Division PT TMMIN Teguh Trihono, dibutuhkan waktu sekitar 5 jam untuk mengisi penuh baterai Prius PHEV yang berkapasitas 8,8 kWh dari kondisi habis.

Setelah sekitar 3 jam, baterai mobil telah terisi penuh. Di layar tertulis jarak yang bisa ditempuh dengan EV mode adalah 73 km. Mobil pun kembali dikendarai untuk menguji langsung pengecasan di jaringan listrik rumah tangga.

Namun sayang, saat tiba di rumah, pengecas Prius ini tak bisa — diaktifkan. Padahal, tegangan listrik rumah 3.500 VA sudah berada di atas ambang minimal untuk mengecas mobil listrik. Menurut Teguh, masalahnya diperkirakan pada sistem grounding di jaringan listrik rumah yang kurang sempurna. “Peranti charger ini membutuhkan sistem grounding yang baik dan benar untuk bisa difungsikan,” paparnya.

Biaya pengecasan
Keesokan harinya, mobil memasuki Jalan Tol JORR menuju Semarang. Beberapa meter setelah kami menuruni simpang susun Cikunir, akhirnya tenaga baterai tak cukup lagi untuk mode murni elektrik, dan segera terasa mesin bensin konvensional Prius PHV menyala.

–Energi Monitor Toyota Prius HEV (Hybrid Electric Vehicles), lokasi Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah

Tercatat jarak total yang ditempuh menggunakan mode EV sejak meninggalkan kantor semalam adalah 42 km. Artinya, jika kita menggunakan Prius PHV sehari-hari dari rumah ke kantor pergi pulang dengan jarak sekitar 40-45 mesin konvensional mobil ini tak akan pernah digunakan. Apalagi, jika mobil selalu dicas penuh di rumah, kemudian dicas lagi selama berada di kantor.

Biaya untuk mengecas pun diklaim oleh Teguh sangat murah. Dengan kapasitas baterai 8,8 kWh dan tarif listrik tertinggi PLN saat ini Rp 1.650 per kWh, setiap pengecasan penuh baterai hanya menghabiskan biaya sekitar Rp 14.520, dan mobil sudah bisa dijalankan hingga jarak 42 km.

Itu pun, lanjut Teguh, jika diasumsikan baterai diisi dari kondisi kosong sama sekali hingga penuh. “Padahal, ada sistem yang menjaga agar baterai tak pernah kosong sama sekali sehingga biayanya sebenarnya masih di bawah itu,”paparnya.

Bandingkan dengan mobil konvensional yang diisi bensin beroktan 92, dengan harga rata-rata Rp 9.850 per liter. Jika konsumsi BBM rata-rata tiap mobil adalah 10 km per liter, dibutuhkan lebih dari 4 liter bensin dengan biaya sedikitnya Rp 39.400.

Dengan mobil berteknologi hybrid, pemakai juga tak perlu khawatir dengan jarak tempuh. Karena begitu baterai mendekati habis, mesin konvensional mobil akan aktif. Pada sistem hybrid Toyota yang kami coba, tenaga dari mesin ini digunakan untuk memutar roda sekaligus mengecas ulang baterai.

Selama perjalanan dari Jakarta ke Semarang, bisa dibilang kami tak menerapkan prinsip ecodriving. Di beberapa bagian tol Trans Jawa yang sepi, gas diinjak dalam-dalam untuk merasakan performa mobil.

Di sini kemudian indikator konsumsi BBM mulai bergerak perlahan-lahan, sampai akhirnya menyentuh angka 4,5 liter per 100 km, atau sekitar 22,5 km per liter.

Ini tak jauh beda dengan hasil penelitian enam perguruan tinggi negeri (UL ITB, UGM, UNS, ITS, dan Universitas Udayana) menggunakan mobil yang sama. Berdasarkan laporan penelitian, didapatkan
konsumsi BBM rata-rata untuk Prius HEV adalah 21,9 km per liter. Sementara untuk Prius PHV sebesar 42,0 km per liter.

Hasil yang ditemukan Kompas menunjukkan, dalam perjalanan jarak jauh tanpa pengecasan ulang listrik, Prius PHV akan berperilaku seperti Prius HEV sehingga menunjukkan konsumsi BBM yang tak
berbeda jauh.

Setelah beristirahat semalam di Semarang, pengujian dilanjutkan dengan rute Semarang-Kartasura-Klaten ke salah satu pusat industri kecil binaan PT TMMIN. Kali ini, fokus pengujian adalah Prius HEV.

Pada versi HEV ini, pada kecepatan di bawah 40 km per jam, mobil masih dijalankan dengan tenaga listrik murni. Namun, begitu kecepatan melampaui batas itu, mesin konvensional langsung aktif.

Kedua varian mobil dilengkapi dengan “gigi” B pada tuas transmisi. Saat tuas transmisi digeser ke posisi B, pengisian baterai melalui pengereman regeneratif menjadi lebih cepat, sekaligus memaksimalkan efek engine brake.

Mode ini beberapa kali dicoba saat melintas Tol Semarang-Solo di ruas setelah Bawen, di mana banyak ditemui turunan panjang. Langsung terlihat bagaimana indikator baterai terisi cepat.

Wajar saja, karena baterai pada Prius HEV ini berkapasitas lebih kecil, hanya 1,3 kWh. Tipe
baterainya juga berbeda. HEV ini menggunakan baterai tipe nickel-metal hydride (Ni-mH), sedangkan Prius PHV menggunakan baterai Lithium-ion (Li-ion).

Konsumsi BBM pada varian HEV ini tak jauh berbeda, yakni bervariasi 18-21 km per liter.—Dahono Fitrianto & Stefanus Osa Triyatna

Sumber: KOMPAS | KAMIS. 10 OKTOBER 2019

Share
x

Check Also

Hati-hati Mengonsumsi Vitamin C dan Vitamin E

Vitamin C dan vitamin E banyak disebut dalam upaya menangkal Covid-19. Meski mampu meningkatkan kekebalan ...