Home / Berita / ”Hybrid” Menuju Perubahan ”Habit”

”Hybrid” Menuju Perubahan ”Habit”

Era kendaraan listrik semakin nyata menandai babak baru pasar otomotif Tanah Air. Ada keinginan untuk membuat lompatan luar biasa.

KOMPAS/EDDY HASBY–Toyota C-HR Hybrid melintasi Jembatan Kali Progo di dekat Candi Borobodur, Mungkid, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (12/09/2019).

Saat kemajuan bertahap pengembangan teknologi mesin diperkenalkan industri otomotif, justru lompatan besar, dari teknologi mesin konvensional ke sistem penggerak listrik, yang kini menuntut perhatian semua pihak.

Efisiensi bahan bakar adalah salah satu hal yang hendak dikejar dengan berpindah ke kendaraan berteknologi listrik (electric vehicle/EV), termasuk mobil-mobil pengusung teknologi hybrid. Habit alias kebiasaan berkendara pun bisa berubah. Itulah yang dirasakan saat Kompas menguji jarak jauh Toyota C-HR Hybrid dengan rute Jakarta-Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Senin-Jumat (9-13/9/ 2019).

Toyota C-HR Hybrid adalah kendaraan yang memiliki dua motor penggerak, yakni mesin pembakaran internal konvensional (internal combustion engine/ICE) dan motor listrik.

KOMPAS/EDDY HASBY–Efisiensi bahan bakar adalah salah satu hal yang hendak dikejar dengan berpindah ke kendaraan berteknologi listrik (electric vehicle/EV), termasuk mobil-mobil pengusung teknologi hybrid. Habit alias kebiasaan berkendara pun bisa berubah.

Berbekal mesin 2ZR-FXE, C-HR Hybrid memiliki tenaga 100 PS yang dikombinasi motor listrik dengan tenaga 36 PS. Konsumsi bahan bakar C-HR Hybrid ini diklaim lebih efisien 62 persen dibandingkan dengan varian konvensional yang diluncurkan tahun lalu di Indonesia. Emisi gas buang CO2 diklaim jauh lebih rendah sekitar 60 persen.

Sepanjang perjalanan, kolaborasi mekanis antara mesin konvensional dan motor listrik saat menggerakkan mobil mudah terpantau di layar multi-information display (MID). Saat mobil berjalan perlahan di bawah 40 kilometer (km) per jam, motor listrik menjadi sumber tenaga penggerak.

Listrik dalam baterai pun terisi kembali melalui sistem pengereman regeneratif saat pedal gas dilepas dan atau mobil direm. Namun, ketika listrik dalam baterai sudah sangat berkurang dan atau mobil membutuhkan akselerasi lebih, mesin konvensional pun aktif. Tenaga dari mesin ini disalurkan untuk menggerakkan roda depan dan untuk mengisi ulang baterai.

KOMPAS/EDDY HASBY–Toyota C-HR Hybrid melintas di Wanurejo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (12/09/2019).

Menempuh perjalanan sejauh sekitar 500 km hingga Magelang, indikator konsumsi bahan bakar menunjukkan angka 6,1 liter per 100 km atau sekitar 16,4 km per liter.

Sepintas, konsumsi BBM tersebut tak jauh berbeda dengan mobil bermesin konvensional. Sepanjang perjalanan, Kompas selalu mengisi C-HR Hybrid ini dengan bensin tanpa timbal beroktan 98.

Secara umum, tak ada perbedaan signifikan dalam cara berkendara C-HR Hybrid dibandingkan dengan mobil konvensional, terutama saat melaju di jalur lurus di Tol Trans-Jawa. Kita, misalnya, belum perlu mengecas mobil dengan catu daya dari luar.

Pengalaman baru yang dirasakan adalah merasakan kinerja motor listrik saat mobil masih bergerak dalam mode full EV di bawah 40 km per jam. Dalam kecepatan tinggi atau saat mobil membutuhkan torsi lebih, misalnya saat melahap jalan berliku penuh tanjakan di jalur Ambarawa-Magelang, tenaga motor listrik terasa membantu saat berakselerasi.

KOMPAS/EDDY HASBY–Toyota C-HR Hybrid di Balkondes Tuksongo, Pulon, Tuksongo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Rabu (11/9/2019).

Butuh kesiapan
Sebelum melangkah ke kendaraan listrik murni (battery electric vehicle/BEV), teknologi hybrid bisa menjadi pintu untuk mengenal teknologi EV ini. Hal itu diperlukan untuk secara perlahan pengguna mobil mengubah habit berkendara dengan memahami kerja mekanis dari dua sumber tenaga.

Mengubah kebiasaan ini penting mengingat saat kita nanti melangkah ke jenjang teknologi berikutnya, seperti mobil PHEV (plug-in hybrid electric vehicle) atau BEV, ada beberapa kebiasaan baru yang wajib diperhatikan, seperti rutinitas mengecas baterai kendaraan atau memperkirakan jarak tempuh sesuai isi baterai.

Executive General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM) Fransiscus Soerjopranoto, yang bertemu Kompas di Magelang, Jawa Tengah, mengatakan, ”Sebetulnya, dengan teknologi hybrid ataupun tenaga listrik 100, yang perlu diperhatikan adalah jarak dan waktu. Kalau jarak tempuh perjalanan bisa ditentukan sebelumnya, kita bisa saja langsung mengandalkan baterai (BEV). Namun, jika jaraknya tak bisa ditentukan, kita akan sulit mengandalkan tenaga listrik murni dengan kondisi infrastruktur sekarang ini.”

KOMPAS/EDDY HASBY–Interior kabin Toyota C-HR Hybrid 2019.

Soerjo, panggilan akrab Soerjopranoto, mengatakan, ada dua kubu terkait pemilihan teknologi kendaraan listrik. Pertama, kubu yang memilih perubahan berjenjang, mulai dari teknologi mesin konvensional, melangkah ke hybrid, dilanjutkan ke PHEV, BEV, dan suatu saat nanti fuel cell EV (FCEV).
Ada pula kubu yang memilih lompatan kuantum dan ingin segera melompat dari teknologi ICE ke BEV atau FCEV.

Tak ada yang salah karena semua pilihan. Memang ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, terutama dari sisi kesiapan konsumen saat mulai memakai mobil listrik.

Mulai dari batas minimum daya listrik yang terpasang di rumah untuk mengecas baterai (berdasarkan catatan Kompas, daya terpasang minimum 2200 VA atau 3500 VA). Hingga ketersediaan infrastruktur pengecasan di tempat-tempat publik, seperti kantor, mal, atau hotel.

KOMPAS/EDDY HASBY–Ruang mesin Toyota C-HR Hybrid 2019

Banyak edukasi
Soal kesiapan industri, Soerjo mengatakan, Toyota sudah mengenalkan mobil-mobil hybrid di Indonesia sejak tahun 2007.

Toyota C-HR Hybrid menjadi salah satu satu langkah awal dalam membangun kebiasaan baru dalam berkendara. Mobil ini memainkan peranan penting karena saat ini menjadi mobil hybrid dengan harga paling terjangkau (Rp 523.350.000, on the road, Jakarta) di antara mobil-mobil hybrid yang dipasarkan Toyota dan sejumlah merek lain di Tanah Air.

Terbukti minat konsumen pun cukup tinggi terhadap C-HR Hybrid ini. Direktur Pemasaran PT TAM Anton Jimmi Suwandy mengatakan, sekitar 75 persen konsumen Toyota C-HR memilih varian hybrid daripada varian bermesin konvensional.

”Toyota C-HR saat ini terjual sekitar 40 unit per bulan. Dari jumlah tersebut, 75 persennya memilih varian hybrid. Dulu estimasi kami pembeli hybrid hanya akan berkisar 40-50 persen, ternyata estimasi itu sudah terlampaui,” papar Anton dalam uji kendara mobil-mobil hybrid Toyota di Cisarua, Jawa Barat, 1 Oktober 2019.

Anton dan Soerjo menggarisbawahi pentingnya edukasi publik yang harus disampaikan terus-menerus terkait mobil-mobil berteknologi EV ini. Dalam kasus C-HR, misalnya, awalnya ada dua hal yang menjadi kekhawatiran calon konsumen, yakni soal umur baterai dan biaya perawatan.

”Setelah kami jelaskan bahwa ada garansi lima tahun untuk baterai dan biaya perawatan mobil hybrid yang relatif sama dengan mobil konvensional, mereka baru yakin untuk membelinya,” ujar Anton.

KOMPAS/EDDY HASBY–Toyota C-HR Hybrid diuji jarak jauh hingga tiba di Balkondes Tuksongo, Pulon, Tuksongo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Rabu (11/09/2019).

Oleh STEFANUS OSA TRIYATNA

Editor DAHONO FITRIANTO

Sumber: Kompas, 7 November 2019

Share
x

Check Also

Hati-hati Mengonsumsi Vitamin C dan Vitamin E

Vitamin C dan vitamin E banyak disebut dalam upaya menangkal Covid-19. Meski mampu meningkatkan kekebalan ...