Home / Berita / Kematian Akibat Covid-19 Bisa Jauh Lebih Tinggi

Kematian Akibat Covid-19 Bisa Jauh Lebih Tinggi

Organisasi Kesehatan Dunia memperbarui pedoman, bahwa orang yang meninggal dengan gejala klinis diduga Covid-19 termasuk korban pandemi ini. Dengan acuan ini, jumlah korban tiga kali lipat daripada data resmi.

KOMPAS/PRIYOMBODO—Tenaga medis mengenakan APD lengkap sesuai standar protokol penanganan Covid-19 saat melayani pasien di Puskemas Larangan Utara, Kota Tangerang, Banten, Rabu (28/4/2020). Puskesmas tersebut memindahkan layanan pemeriksaan bagi pasien yang memiliki gejala flu dan demam ke bagian luar gedung guna mengantisipasi penyebaran virus korona baru. Puskemas ini juga memberikan layanan konsultasi kesehatan berbasis online guna mengurangi kontak langsung dengan pasien.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah memperbarui pedoman, bahwa orang yang meninggal dengan gejala klinis diduga terkena Covid-19 seharusnya dimasukkan sebagai korban pandemi ini. Mengacu pada pedoman ini, jumlah korban jiwa akibat Covid-19 di Indonesia lebih banyak tiga kali lipat dari angka yang dirilis pemerintah.

Pada 11 April 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperbarui pedoman untuk melaporkan kematian Covid-19. Disebutkan dalam laman resmi organisasi ini, kematian Covid-19 didefinisikan sebagai kematian yang secara klinis diduga disebabkan penyakit ini atau yang telah dikonfirmasi, kecuali ada penyebab kematian lain yang jelas tidak dapat dikaitkan dengan Covid-19, misalnya karena benturan.

Berdasarkan definisi ini, kematian kumulatif dari orang yang dipastikan telah atau diduga terpapar virus ini harus dilaporkan sebagai kematian terkait Covid-19. Dalam Situation Report-5 WHO pada 23 April 2020, kematian kumulatif akibat Covid-19 di Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan saja telah mencapai 2.073 orang.

Dari jumlah kematian itu, sebanyak 35,4 persen di antranya telah terkonfirmasi positif Covid-19 melalui tes PCR atau reaksi rantai polimerase. Sementara sisanya diduga terkait Covid-19.

—Kematian karena Covid-19 di empat provinsi di Indonesia sesuai laporan WHO pada 23 April 2020. Sumber: WHO Situation Report-5

Acuan pemerintah
“Panduan WHO ini seharusnya menjadi acuan pemerintah Indonesia dalam melaporkan jumlah korban akibat Covid-19 di Indonesia, karena lebih memberikan gambaran sesungguhnya,” kata peneliti biostatistik Eijkman Oxford Clinical Research Unit, Iqbal Ridzi Fahdri Elyasar di Jakara, Rabu (29/4).

Menurut Iqbal, data kematian di empat provinsi di Indonesia, telah memasukkan jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) dan orang dalam pemantauan (ODP) yang meninggal dunia. Seperti didata Laporcovid19.org, jumlah PDP dan ODP yang meninggal di berbagai daerah di Indonesia rata-rata tiga kali lipat dibandingkan korban jiwa yang terkonfirmasi melalui tes PCR.

Data dari Rumah Sakit Online dan Pos Kedaruratan Kesehatan Masyarakat atau Public Health Emergency Operating Center (PHEOC) yang diperoleh Kompas menunjukkan, total kematian akibat Covid-19 di Indonesia mencapai 2.681 orang per Senin (27/4/2020).

Namun, data resmi yang dirilis juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto tiap sore, hanya mencantumkan jumlah korban jiwa berdasarkan kasus yang terkonfirmasi positif. Pada Rabu, jumlah kasus Covid-19 di Indonesia 9.771 orang, 1.391 sembuh, dan 784 yang meninggal dunia.

RSUD BLAMBANGAN–Psikolog RSUD Blambangan Betty Kumala Sari memberika konseling kepada para pasien di Ruang Isolasi RSUD Blambangan Banyuwangi. Selain mendapat perawatan medis, pasien ODP dan PDP juga mendapat pendampingan psikologis.

Dasar kebijakan
Epidemiolog dari Universitas Padjajaran Bandung Panji Hadisoemarto mengatakan, pendataan yang baik merupakan kunci untuk membuat kebijakan yang benar dalam mengatasi pandemi Covid-19. Dia juga mendorong agar Indonesia mencantumkan jumlah PDP dan ODP yang meninggal dan mengategorikannya sebagai korban Covid-19, agar warga lebih memahami skala wabah ini yang sesungguhnya.

“Kalau kita mau merespon dengan tepat, harus bisa melakukan analisis situasi yang tepat. Itu intinya data harus akurat. Saat ini, angka kematian PDP dan ODP bisa jadi indikasi kuat bahwa laporan korban jiwa di Indonesia jauh lebih kecil dari kenyataan karena pemeriksaan yang sedikit sekali,” katanya.

Menurut Panji, Pemerintah Selandia Baru bisa menjadi contoh baik bagaimana data dan informasi dibuka secara transparan. Bahkan, pemerintah meminta audit independen dari universitas tentang sistem pendataan mereka, misalnya terkait penelusuran kontak yang telah dilakukan.

Meski Selandia Baru dianggap sebagai contoh paling bagus dalam menghadapi pandemi ini, dari hasil audit masih ditemukan beberapa masalah. Rekomendasi dari tim audit independen ini dipakai untuk memperbaiki celah kekurangan itu dan pemerintah terbuka untuk mengoreksi diri,” ujarnya.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO—Pegawai SDN Petukangan Selatan 03, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, merapikan ruang UKS yang dipesiapkan sebagai ruang isolasi pasien Covid-19, Rabu (22/4/2020), Pemprov DKI Jakarta menyiapkan lebih dari 130 sekolah yang tersebar di seluruh wilayah di Jakarta sebagai tempat isolasi pasien Covid-19 dan 5 SMK sebagai tempat akomodasi tenaga medis yang terlibat dalam penanganan Covid-19.

Panji menambahkan, selama ini pendataan terkait penyakit di Indonesia memang sangat buruk, dan pandemi Covid-19 ini harusnya menjadi momentum untuk perbaikan. “Pemerintah harus diingatkan respons kita saat ini penting buat jangka panjang. Kalau bisa belajar banyak dari pandemi ini, sistem kesehatan Indoensia bisa lebih baik ke depannya,” ungkapnya.

Kondisi global
Tak hanya di Indonesia, jumlah kematian Covid-19 di sejumlah negara juga jauh lebih rendah dibandingkan kondisi riilnya. Penelusuran yang dilakukan Financial Times (27/4) di 14 negara di Eropa menemukan, angka kematian akibat Covid-19 mencapai 60 persen lebih tinggi dari yang dilaporkan dalam perhitungan resmi.

Lebih tingginya angka kematian ini diperoleh dengan membandingkan kematian dari semua penyebab pada minggu-minggu wabah pada bulan Maret dan April 2020 dengan periode yang sama antara 2015 dan 2019. Di semua negara yang dianalisis kecuali Denmark, jumlah kematian berlebih jauh lebih banyak daripada jumlah korban Covid-19 resmi.

“Tren global memang data kematian yang dilaporkan lebih rendah dari angka resmi. Belakangan China sudah menambah jumlah kematiannya lebih tinggi 50 persen dari sebelumnya,” kata Dicky Budiman, epidemilog dari School of Medicine for Environment and Population Health Griifth University.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA—Petugas memeriksa suhu tubuh pengendara di check point Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (29/4/2020). Untuk mengantisipasi penumpukan pengendara yang ingin masuk Kota Surabaya seperti hari pertama, Check Point PSBB dilakukan oleh lebih banyak petugas gabungan dengan ruang pemeriksaan lebih luas. Pada hari kedua suasana check point ramai lancar.

Untuk kasus Indonesia, kemungkinan kesenjangan antara angka korban yang dilaporkan dan kenyataan bisa sangat lebar karena keterlembatan pemeriksaan Covid-19. Apalagi karakter masyarakat Indonesia hanya ke rumah sakit jika sudah sakit parah.

Oleh AHMAD ARIF

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 30 April 2020

Share
x

Check Also

”Big Data” untuk Mitigasi Pandemi di Masa Depan

Kebijakan kesehatan berbasis “big data” menjadi masa depan pencegahan pandemi berikutnya. Melalui ”big data” juga, ...

%d blogger menyukai ini: