Home / Berita / Gugurnya Pejuang Covid-19 di Garda Depan

Gugurnya Pejuang Covid-19 di Garda Depan

Penularan virus korona baru terus meluas. Para petugas medis yang berada di garda terdepan penanganan Covid-19 tak luput dari ancaman. Sebagian di antara mereka gugur karena keterbatasan alat pelindung diri.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Petugas medis bersiap mengikuti simulasi penanganan pasien penderita Covid-19 di rumah sakit darurat Covid-19 di Desa Kemiri, Mojosongo, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (3/4/2020). RS darurat tersebut memanfaatkan bangunan rusunawa yang belum dihuni di atas lahan seluas 7.777 meter persegi.

Puluhan tenaga medis telah meninggal dan banyak lagi yang terinfeksi, padahal pertempuran terbuka melawan Covid-19 baru berlangsung sebulan ini. Banyaknya korban dari tenaga medis ini mencemaskan karena mereka adalah garda depan melawan virus mematikan ini.

”Mas, kami ini bukan takut. Sebagai dokter tugas kami melayani pasien, termasuk pasien Covid-19. Tapi, tolong sampaikan kepada negara ini, bekali kami dengan alat pelindung diri. Tak mungkin kami menghadapi virus korona ini dengan mantel hujan,” kata Tri Maharini, dokter spesialis emergensi, pengurus Perhimpunan Dokter Ahli Emergensi Indonesia.

Tri saat ini bekerja sebagai Kapala Departemen Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daha Husada Kediri, Jawa Timur. Dia seorang ahli penanganan gigitan ular berbisa, dan turut dalam tim pembuat pedoman penanganan gigitan ular berbisa dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dirilis Mei 2019.

Belum ada data resmi dari Ikatan Dokter Indonesia mengenai jumlah tenaga medis yang meninggal karena Covid-19. Namun, dari berbagai sumber yang berhasil dikumpulkan, setidaknya 23 tenaga medis telah meninggal karena wabah ini, yaitu 21 doker dan 2 perawat.

Minim APD
Minimnya alat pelindung diri (APD), menurut Tri, merupakan penyebab utama banyaknya korban jiwa di kalangan medis ini. Selain itu, tidak jelasnya standar penanganan. ”Para medis memang tidak disiapkan dengan baik menghadapi wabah ini, dan protokol yang ada tidak operasional di lapangan. Kami tidak pernah tahu, pasien yang datang dengan sakit lain ternyata membawa virus korona,” katanya.

Hingga akhir Februari 2020, Kementerian Kesehatan masih bersikukuh bahwa Covid-19 belum masuk ke Indonesia karena hasil tes yang dilakukan selalu negatif. Padahal, sejak awal Februari 2020, banyak ahli epidemiologi dan biostatistik dari dalam dan luar negeri sebenarnya telah berulang kali mengingatkan bahwa virus korona baru ini kemungkinan telah beredar di Indonesia tanpa terdeteksi.

Menurut kajian Iwan Ariwan bersama para ahli epidemiologi dan biostatistik Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia lainnya, yaitu Pandu Riono, Muhammad N Farid, dan Hafizah Jusril, kasus positif Covid-19 di Indonesia seharusnya sudah mencapai 3.500 kasus pada awal Maret 2020 saat Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya dua kasus pertama di Depok, Jawa Barat.

Menurut Pandu, banyaknya dokter yang terinfeksi ini karena keterlambatan diketahuinya peredaran Covid-19 di masyarakat. Akibatnya, banyak dokter yang tidak menduga, pasien yang tengah mereka tangani karena berbagai keluhan lain telah terinfeksi Covid-19. Ini misalnya terjadi dengan Prof dr Bambang Sutrisna, Guru Besar FKM UI. Bambang diduga tertular salah satu pasien yang memiliki gejala korona.

”Kami sedang menyelidiki, memang hampir semua dokter yang terinfeksi karena tidak menggunakan APD yang layak saat menangani pasien korona. Yang menyulitkan, kita tidak tahu bahwa pasien yang datang dengan gejala keluhan lain ternyata terinfeksi korona,” kata Tri.

Dia mencontohkan dokter Hadio Ali yang tertular saat menangani pasien tanpa APD standar. ”Dia sebenarnya dokter syaraf, awalnya diminta memeriksa pasien biasa sehingga tidak memakai APD. Ternyata pasien itu positif Covid-19 sehingga kemudian meninggal dunia,” katanya.

Belajar dari banyaknya tenaga medis yang menjadi korban, menurut Tri, para dokter kini menyusun sendiri protap dalam menangani pasien. ”Minggu lalu ada pertemuan webinar di kalangan medis, kami menyepakati agar semua yang bertugas di depan memakai APD standar,” katanya.

Masalahnya memang hampir semua rumah sakit saat ini kesulitan APD. Banyak rumah sakit dan dokter menggalang bantuan untuk mendapatkan APD. ”Bahkan saya telah membuat masker kain sendiri, sudah ribuan kami bagi ke teman-teman. Memang belum standar, tetapi daripada tidak ada,” kata Tri.

Epidemiolog Indonesia, kandidat doktor dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, mengatakan, untuk melindungi para medis, harus ada aturan yang lebih ketat agar orang dengan gejala korona tidak langsung datang ke rumah sakit. Harus ada layanan telepon dan kepastian jemputan dengan ambulans dengan petugas yang dilengkapi APD layak untuk menjemput pasien di rumahnya.

”Jika orang dengan gejala korona masih datang sendiri ke rumah sakit, kemungkinan untuk menularkan ke orang lain ataupun ke medis sangat besar,” katanya.

Menurut Dicky, jika kita tidak memutus siklus penularan ini, kapasitas rumah sakit tidak akan mampu menampung pasien. ”Dengan tren saat ini, seluruh rumah sakit di Jakarta sudah tidak mampu lagi menampung pasien korona pada pertengahan April 2020 ini,” katanya.

ISTIMEWA–Petugas dari BPBD DIY mengenakan alat pelindung diri lengkap dalam mengevakuasi seorang laki-laki yang mendadak meninggal di Titik Nol KM, Yogyakarta, Senin (30/3/2020).

Saat ini, kapasitas ruang rawat untuk pasien korona memang sangat terbatas. Banyak pasien yang ditolak rumah sakit rujukan. Bahkan, dokter pun tak terkecuali.

”Dokter Bayu (Bartholomeus Bayu Satrio Kukuh Wibowo) meninggal pada 26 Maret 2020 setelah ditolak di sejumlah rumah sakit rujukan,” kata Tri.

Bayu mulai mengeluh demam pada 18 Maret 2020 saat dia bertugas di Klinik 24 Jam di Bekasi, tempat biasa dia bertugas. Dia kemudian diperiksa di RS Citra Harapan Indah, Bekasi, dan dari hasil rontgen dia diduga korona.

Awalnya, dia mengisolasi mandiri, tetapi karena sakitnya semakin parah, Bayu dibawa ke RS Persahabatan, RS Sulianti Saroso, dan RSPAD Gatot Soebroto, tetapi ditolak karena penuh. Wisma Atlet juga sudah didatanginya, tapi di sana tidak tersedia ventilator.

”Akhirnya dia dibawa kembali ke RSUD Bekasi, tetapi akhirnya meninggal dunia. Jadi, dokter juga ditolak di rumah sakit rujukan karena kapasitas terbatas. Ini tragedi,” kata Tri.

Oleh AHMAD ARIF

Editor ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Sumber: Kompas, 4 April 2020

Share
x

Check Also

Covid-19 Menurunkan Emisi Karbon Global

Pandemi Covid-19 telah memangkas lebih dari delapan persen emisi karbon global, Berkurangnya emisi ini terjadi ...

%d blogger menyukai ini: