Home / Berita / Pandemi Covid-19 di Indonesia Bisa Berdampak Panjang

Pandemi Covid-19 di Indonesia Bisa Berdampak Panjang

Virus korona baru pemicu penyakit Covid-19 mengancam kelompok usia produktif. Hal ini bisa menimbulkan dampak pandemi penyakit tersebut dalam jangka panjang.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO–Pedagang Pasar Kebon Kembang, Kota Bogor, mengambil stok dagangan untuk dibawa pindah sementara seiring pasar tersebut tutup sementara beroperasi, Minggu (3/5/2020). Pasar Kebon Kembang atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pasar Anyar ini ditutup sementara oleh Pemerintah Kota Bogor untuk mencegah merebaknya pandemi Covid-19.

Virus korona baru pemicu penyakit Covid-19 tidak hanya menjadi ancaman terhadap kelompok lanjut usia. Di Indonesia, korban terbanyak justru pada kelompok usia produktif sehingga dampaknya pada ekonomi di masa depan bisa bersifat jangka panjang.

Sebagaimana disampaikan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Acmad Yurianto pekan lalu, kasus meninggal dunia akibat Covid-19 di Indonesia paling tinggi berada pada rentang usia 30-59 tahun, yaitu sebanyak 351 orang. Adapun kelompok paling rentan meninggal berikutnya berusia 60-79 tahun, yaitu 302 orang. Untuk rentang usia 0-4 tahun yang meninggal dua orang, usia 5-14 tahun tiga orang, dan usia 15-29 tahun 19 orang.

Gindo Tampublon, ahli kesehatan masyarakat yang saat ini mengajar di Universitas Manchester, Minggu (3/5) mengatakan, data ini tidak mengejutkan. “Ini memang anomali dibandingkan negara-negara lain, seperti Eropa, Amerika, dan China di mana mayoritas yang meninggal adalah lanjut usia,” kata dia.

Sekalipun pendataan pasien yang dilakukan pemerintah di Indonesia masih bermasalah, termasuk belum memasukkan pasien dalam pengawasasn (PDP) yang meninggal dunia, namun data ini setidaknya menggambarkan banyaknya kelompok usia produktif yang meninggal di Indonesia akibat Covid-19.

Risiko tinggi
Menuru Gindo, anomali di Indonesia ini diduga terkait dengan tingginya risiko orang muda di Indonesia terhadap penyakit jantung. Berdasarkan penelitiannya bersama Maharani yang dipublikasikan di jurnal PLoS One pada 2014, dua per tiga penduduk Indonesia berusia di atas 40 tahun berisiko tinggi meninggal karena penyakit jantung dalam rentang 8 tahun. “Jadi, secara umum, pola umur beriko orang Indonesia terhadap penyakit jantung itu rata-rata 20 tahun lebih awal dibandingkan orang Eropa,” kata dia.

Gindo menambahkan, mereka yang memiliki penyakit jantung merupakan salah satu yang paling berisiko jika terpapar Covid-19. “Karena di Indonesia tingkat kematian kelompok usia produktif sangat tinggi, Covid-19 berpotensi memperparah dampak ekonomi jangka panjang. Kelompok usia produktif ini adalah motor ekonomi keluarga dan negara,” tuturnya.

Sementara itu, Agus Dwi Susanto, Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, yang juga dokter di Rumah Sakit Persahabatan mengatakan, dari kelompok umur, yang paling banyak dirawat dan meninggal karena Covid-19 berumur 50-60 tahun. “Data ini agak berbeda dengan nasional, karena yang dirujuk di rumah sakit kami umumnya dalam kondisi parah. Tetapi banyak juga anak muda yang meninggal, bahkan ada bayi umur tiga bulan yang meninggal,” ujarnya.

Sebanyak 63 persen pasien dalam kondisi parah yang dirawat di RS Persahabatan memiliki penyakit penyerta. “Yang paling tinggi adalah hipertensi, berikutnya diabetes, jantung dan kemudian paru-paru kronik,” katanya.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO–Petugas medis merawat pasien dengan Covid-19 di Rumah Sakit Pertamina Jaya, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Kamis (30/4/2020). RSPJ merawat pasien untuk kategori pasien dalam pengawasan (PDP) maupun pasien yang telah terkonfirmasi positif Covid 19, dengan gejala klinis sedang, berat, dan kritis. RSPJ menyediakan 160 tempat tidur (bed) dan 65 ruang isolasi untuk pasien Covid-19.

Koinfeksi
Menurut Agus Dwi, yang juga perlu diwaspadai, Covid-19 ini bisa koinfeksi bersama dengan berbagai penyakit lain. Infeksi bersama bisa perlu mendapat perhatian serius, terutama di daerah yang saat ini menghadapi wabah demam berdarah dengue atau DBD.

“Di Rumah Sakit Persahabatan, kami temukan pasien positif Covid-19 yang juga positif sejumlah penyakit infeksi lain. Selain itu, ditemukan pasien auotoimun dan HIV yang juga positif Covid-19,” kata Agus Dwi. Awalnya ada pasien yang dirujuk denagn gejala demam dan sesak napas. Ketika diperiksa sampelnya dengan PCR (reaksi rantai polimerase), dipastikan positif Covid-19. Pasien juga dipastikan positif DBD berdasarkan pemeriksaan darah.

Ditemukannya koinfeksi Covid-19 dengan sejumlah penyakit infeksi lain ini perlu mendapat perhatian serius, terutama di daerah yang saat ini juga menghadapi wabah DBD. “Kita harus lebih berhati-hati kalau menemukan pasien dengan gejala Covid-19 ataupun DBD. Gejalanya sebagian sama, dan bisa jadi memang positif keduanya,” kata dia.

Agus mengingatkan, Covid-19 ini merupakan virus baru yang belum sepenuhnya diketahui karakteristik dan dampaknya. “Sejumlah penelitian di luar negeri menunjukkan, manifestasi Covid-19 bukan hanya di paru-paru, tapi juga bisa di organ tubuh lain, tetapi juga memicu gangguan sistem vaskuler,” ujarnya.

KOMPAS/AGUS SUSANTO–Petugas pemakaman menyemprotkan disinfektan saat pengurukan peti jenazah dengan prosedur penanganan Covid-19 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Padurenan, Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (30/4/2020). Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah memperbarui pedoman, bahwa orang yang meninggal dengan gejala klinis diduga terkena Covid-19 seharusnya dimasukkan sebagai korban pandemi ini. Mengacu pada pedoman ini, jumlah korban jiwa akibat Covid-19 di Indonesia lebih banyak tiga kali lipat dari angka yang dirilis pemerintah.

Gangguan pada sistem vaskuler ini bisa menyebabkan gangguan kekentalan darah dan ini bisa memicu stroke, sebagaimana dilaporkan baru-baru ini dialami seorang remaja di Jakarta.

“Banyak hal baru dari Covid-19 karena ini virus baru yang belum sepenuhnya diketahui. Tetapi yang jelas, infeksi Covid-19 ini terkait dengan reseptor ACE2 (angiotensin-converting enzyme 2) yang juga ditemukan di pembuluh darah, ginjal, dan jantung. Karena itu, orang yang memiliki penyakit komorbid terkait organ-organ ini menjadi lebih berisiko,” katanya.

Selain faktor komorbiditas, tingkat keparahaan dari Covid-19 ini juga sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya paparan virus. “Faktor lain yang perlu diteliti adalah starin virusnya sendiri. Diduga ada starin virus korona baru ini yang lebih mematikan, dibandingkan yang lain. Masalahnya di Indonesia kita belum tahu starin virus yang mana saja yang sudah masuk,” pungkasnya.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 4 Mei 2020

Share
x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: