Home / Berita / Ribuan Kematian Terkait Covid-19 yang Tak Tercatat

Ribuan Kematian Terkait Covid-19 yang Tak Tercatat

Lonjakan jumlah kematian terjadi di sejumlah daerah selama masa pandemi Covid-19. Sebagian jenazah dimakamkan dengan prosedur Covid-19.

KOMPAS/AGUIDO ADRI—Sejumlah petugas pemakaman memasukkan peti jenazah Covid-19 ke tempat peristirahatan terakhirnya di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur, Selasa (5/5/2020). Dalam satu tim ada 24-26 orang. Mereka berbagi tugas, 4-6 orang mengangkut peti jenazah dari ambulans ke kuburan dan wajib mengenakan alat pelindung diri. Sementara petugas lainnya bertugas menggali kubur. Setelah proses pemakaman, mereka wajib disemprot disinfektan dan membersihkan diri.

Hingga saat ini, jumlah kematian yang terkonfirmasi Covid-19 di Jakarta sebanyak 430 orang dari 4.775 kasus positif. Namun, jumlah kematian di Jakarta selama Maret dan April telah melonjak lebih dari 1.000 kasus tiap bulan atau sekitar 60 persen dari rata-rata trennya dalam sepuluh tahun.

Berdasarkan data resmi DKI dalam corona.jakarta.go.id, sejak 2 Maret hingga 5 Mei 2020 terdapat 1.777 pemakaman jenazah dengan protokol Covid-19. Jika dikurangi dengan kematian korban Covid-19 yang sudah terkonfirmasi positif, 1.347 kematian di Jakarta yang diduga juga korban Covid-19 dalam dua bulan.

Seperti data resmi nasional yang diumumkan juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, setiap sore, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga tidak mencantumkan jumlah orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) yang meninggal. Namun, jumlah jenazah yang dikubur dengan protokol Covid-19 ini bisa dipastikan sebagai mereka yang diduga bergejala klinis Covid-19, yang bisa jadi ODP atau PDP.

Namun, jumlah kematian ini pun masih lebih kecil dibandingkan dengan anomali lonjakan kematian di Jakarta yang terjadi sejak bulan Maret 2020 ini. Analisis yang dilakukan Kompas bersama tim Laporcovid19.org berdasarkan data kematian di DKI Jakarta dalam 10 tahun menunjukkan, angka kematian di Jakarta berkisar 2.200 hingga 3.200 tiap bulan.

Misalnya, pada bulan Maret 2010 tercatat 2.523 kematian dan pada Maret 2015 tercatat 2.674 kematian. Fariz Hibban dari Laporcovid19.org mengatakan, dengan menghitung tren peningkatan jumlah kematian tahunan seiring penambahan penduduk, kematian di Jakarta pada bulan Maret 2020 seharusnya sekitar 2.898 dan bulan April 2020 sebesar 2.903.

Namun, pada Maret 2020 terjadi 4.404 kematian atau melonjak 61 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Sementara pada April 2020 terjadi 4.377 kematian. Angka kematian bulanan di atas 4.000 ini belum pernah terjadi dalam sejarah di Jakarta.

”Terjadi anomali jumlah kematian bulan Maret 2020 di Jakarta sebesar 1.505 dan pada bulan April 1.473 jiwa,” kata Hibban.

Dampak pandemi
Lonjakan kematian di Jakarta ini memang tidak bisa dipastikan 100 persen disebabkan Covid-19. Namun, data ini juga tidak bisa dinafikan begitu saja. Bahkan, anomali angka kematian ini lebih representatif untuk menggambarkan dampak pandemi ini dibandingkan dengan angka kematian yang terkonfirmasi Covid-19.

Ahli biostatistik Eijkman Oxford Clinical Research Unit, Iqbal Elyazar, mengatakan, angka kematian yang dilaporkan pemerintah ke publik berdasarkan yang sudah terkonfirmasi positif Covid-19 melalui tes dengan reaksi rantai polimerase (PCR) tidak menggambarkan dampak pandemi yang sesungguhnya. Hal ini karena tes PCR di Indonesia sangat rendah, yaitu rata-rata masih di bawah 5.000 orang per hari.

Hingga Kamis (7/5/2020), menurut data worldmeter.info, jumlah pemeriksaan di Indonesia baru sebanyak 469 orang per sejuta penduduk, jauh lebih kecil dibandingkan dengan Malaysia, misalnya, yang sudah mencapai 7.138 per sejuta penduduk atau Thailand sebanyak 3.264 per sejuta penduduk. Persentase pemeriksaan di Indonesia ini termasuk yang terendah di Asia.

Transparansi data
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebenarnya telah memberikan panduan agar orang yang meninggal dengan gejala klinis diduga Covid-19 juga dimasukkan sebagai korban pandemi. Jadi, tidak hanya yang sudah terkonfirmasi tes PCR. Namun, panduan ini diabaikan di Indonesia.

KOMPAS/DOKUMEN INTELIJEN POLDA MALUKU–Proses pemakaman pasien dalam pengawasan Covid-19 di Ambon, Maluku, Jumat (1/5/2020).

”Secara global jumlah kematian karena Covid-19 ini lebih kecil dari kenyataannya, dan Indonesia jauh lebih kecil karena ada masalah pemeriksaan dan pendataan. Kalau memakai acuan WHO, angka kematian bisa enam kali lipat dari yang resmi dilaporkan,” kata Dicky Budiman, epidemiolog dari Centre for Environment and Population Health, Griffith University.

Dicky mengatakan, pendataan yang akurat dan transparan sebenarnya menjadi kunci dalam penanganan pandemi ini, termasuk untuk mengetahui intervensi apa yang bisa dilakukan, dan kapan harus dilonggarkan. Tanpa transparansi data, kebijakan yang dibuat bisa keliru.

Selain itu, dengan menutupi skala kematian yang sesungguhnya, hal itu justru bisa menyebabkan masyarakat menyepelekan wabah ini dan lebih sulit diajak berdisiplin melakukan pembatasan sosial.

Jika mengacu angka resmi pemerintah, jumlah kematian akibat Covid-19 di Indonesia hingga Kamis sebesar 930 orang atau bertambah 35 dibandingkan dengan sehari sebelumnya. Namun, pendataan Laporcovid19.org, jumlah PDP dan ODP yang meninggal di berbagai daerah bisa dua hingga tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan yang positif meninggal.

KOMPAS/AGUS SUSANTO—Petugas pemakaman menyemprotkan disinfektan sebelum menjalankan pemulasaraan prosedur penanganan Covid-19 di Tempat Pemakaman Umum Padurenan, Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (30/4/2020). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperbarui pedoman bahwa orang yang meninggal dengan gejala klinis diduga terkena Covid-19 seharusnya dimasukkan sebagai korban pandemi ini.

Misalnya, di Jawa Barat, jumlah yang positif meninggal sebanyak 151 orang, sedangkan PDP yang meninggal 306 orang dan ODP yang meninggal 20 orang. Di Jawa Timur, jumlah yang positif meninggal sebanyak 134 orang, sedangkan PDP meninggal 345 orang dan ODP 67 orang.

Secara nasional, total korban meninggal akibat Covid-19 di Indonesia, menurut data yang dikompilasi dari laporan di berbagai daerah ini, sudah lebih dari 3.700 orang. Angka ini empat kali lipat dari angka resmi yang dilaporkan pemerintah.

Di luar angka ini, dipastikan jumlah kematian di Indonesia pasti jauh lebih banyak lagi. Tidak hanya terdampak langsung infeksi Covid-19, meningkatnya jumlah kematian juga bisa disebabkan banyak pasien lain yang tidak tertangani karena kapasitas rumah sakit yang dibebani pasien virus korona baru.

Sekalipun hingga saat ini jumlah kematian yang sesungguhnya karena Covid-19 belum dibuka secara transparan oleh pemerintah, lonjakan kematian itu tak bisa ditutupi. Setidaknya, itu yang dirasakan oleh para petugas pemakaman.

DOKUMENTASI HUMAS POLRESTA CIREBON—Jajaran Polresta Cirebon menggelar simulasi penanganan jenazah di tengah pandemi Covid-19, Selasa (21/4/2020), di Cirebon, Jawa Barat. Latihan itu untuk menyiapkan personel Polresta Cirebon untuk membantu pemakaman jenazah Covid-19 dan mengamankan pemakaman dari penolakan oknum warga.

Sudah hampir dua bulan Sa’am (43), Dadang (34), Adang Saputra (38), dan petugas pemakaman lainnya di Tempat Pemakaman Umum Pondok Ranggon, Jakarta Timur, menggali kubur tempat persemayaman terakhir jenazah dengan prosedur Covid-19. Selama dua bulan itu pula mereka menatap tangis haru keluarga yang berdiri dari kejauhan. Sekadar menabur bunga dan berdoa pun keluarga dibatasi maksimal lima orang.

Bahkan, ada jenazah yang datang hanya diantar oleh petugas palang hitam tanpa didampingi pihak keluarga. Tak peduli siapa dan apa agama jenazah tersebut, para petugas pemakaman berkumpul untuk berdoa dan tak jarang mereka pula yang menghiasi gundukan tanah merah tersebut dengan taburan bunga.

Adang mengatakan, dalam seminggu di awal Maret 2020, ia bersama 23 temannya harus berjibaku menggali liang untuk 83 jenazah. Jumlah ini belum pernah dialaminya selama bekerja sebagai penggali kubur.

Karena kewalahan, Adang meminta pengelola TPU dan Dinas Kehutanan membentuk empat tim masing-masing berjumlah 24 orang. ”Jumlah (yang dikubur) terus meningkat. Bahkan, pernah dalam satu minggu (mengubur) seratus lebih jenazah. Rata-rata tiap hari kami baru selesai (menggali) pukul 22.00,” tutur Adang.

Dengan kasus yang terus bertambah dan sebagian besar belum diketahui karena minimnya pemeriksaan dan penelusuran kontak, pandemi Covid-19 di Indonesia masih bakal menjadi momok, entah sampai kapan. Diakui atau tidak, jumlah kematian pun bakal terus melonjak, padahal setiap nyawa yang melayang bukan sekadar bertambahnya angka, karena para korban juga memiliki relasi sosial.

Oleh AHMAD ARIF/HELENA NABABAN/AGUIDO ADRI

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 8 Mei 2020

Share
x

Check Also

Balas Budi Penerima Beasiswa

Sejumlah anak muda bergerak untuk kemajuan pendidikan negeri ini. Apa saja yang mereka lakukan? tulisan ...

%d blogger menyukai ini: