Home / Berita / Tiap Detik Berharga, Karantina Sekarang!

Tiap Detik Berharga, Karantina Sekarang!

Jumlah kasus dan kematian akibat Covid-19 terus bertambah setiap hari. Opsi karantina dengan pembatasan tegas semakin menguat, tidak hanya antarkota, tetapi juga antarpulau.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO–Perantau yang hendak pulang ke kampung halaman antre untuk mendapatkan tiket bus di Terminal Pasar Lembang, Kota Tangerang, Banten, Sabtu (28/3/2020). Meskipun ada imbauan untuk tidak mudik guna mencegah penyebaran Covid-19, mereka tetap ingin pulang karena tidak lagi mendapat penghasilan di tempat merantau.

Keterlambatan mengarantina pusat wabah di Jabodetabek telah menyebarkan Covid-19 ke sejumlah daerah di Jawa. Tanpa segera membatasi mobilisasi penduduk dengan ketat, wabah bakal menyebar lebih luas dan pada pertengahan Mei 2020, sekitar 2,5 juta warga membutuhkan perawatan intensif.

Laporan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menunjukkan, hingga Minggu (28/3/2020), wabah sudah menyebar di 30 provinsi. Dibandingkan sehari sebelumnya, terjadi penambahan 130 kasus positif sehingga menjadi 1.285 kasus lalu pasien yang sembuh bertambah 5 orang sehingga total menjadi 64 orang dan yang meninggal bertambah 12 orang sehingga menjadi 114 orang.

”Penambahan kasus positif ini menggambarkan masih ada penularan di tengah masyarakat,” kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto.

Jumlah kasus positif terbanyak masih terdapat di Jakarta yaitu 675 kasus, Jawa Barat 149 kasus, Banten 106 kasus, Jawa Timur 90 kasus, Jawa Tengah 63 kasus, dan Yogyakarta 22 kasus. Di luar Jawa, yang tertinggi adalah Sulawesi Selatan dengan 47 kasus, Kalimantan Timur 17 kasus, dan Bali 10 kasus.

Ahli epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Iwan Ariawan, mengatakan, angka riil orang yang terinfeksi di Indonesia minimal 10 kali lipat lebih banyak dari yang dilaporkan.

KOMPAS/KRISTI UTAMI–Pemerintah Kota Tegal meminta maaf kepada masyarakat yang kenyamanannya terganggu akibat adanya isolasi wilayah. Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono mengajak bupati dan wali kota di daerah lain untuk menerapkan kebijkan serupa untuk menekan penyebaran Covid-19.

”Berdasarkan kajian di sejumlah negara, orang yang terinfeksi Covid-19 dan bergejala hanya 20 persen. Jadi, 80 persen tidak bergejala dan umumnya tidak diperiksa. Apalagi di Indonesia pemeriksaan masih sangat kurang, sehingga angka riil yang terinfeksi pasti jauh lebih banyak,” katanya.

Tiga pemodelan
Iwan bersama Pandu Riono, Muhammad N Farid, dan Hafizah Jusril dari FKM UI telah membuat pemodelan dengan tiga skenario.

Skenario terburuk, yaitu jika tanpa intervensi, orang yang terinfeksi Covid-19 dengan kategori parah sehingga butuh layanan rumah sakit bisa mendekati 2,5 juta pada pertengahan Mei 2020. Dengan intervensi seperti saat ini, yaitu melalui anjuran menjaga jarak sosial dan membatasi kerumunan massal dengan cakupan rendah, masih bisa terjadi 1,8 juta orang yang harus dirawat.

Sementara intervensi moderat melalui tes massal dengan cakupan rendah dan mengharuskan jaga jarak sosial dengan penutupan seluruh kegiatan sekolah dan bisnis, maka orang yang butuh dirawat karena Covid-19 mencapai 1,2 juta orang.

KOMPAS/AGUS SUSANTO–Petugas pemakaman membawa peti jenazah pasien Covid-19 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Ranggon, Jakarta Timur, Minggu (29/3/2020). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan dua TPU untuk memakamkan pasien Covid-19 yang meninggal, yakni di TPU Pondok Ranggon dan TPU Tegal Alur di Jakarta Barat.

Dengan intervensi tertinggi, yaitu karantina wilayah untuk membatasi pergerakan dan dengan tes massal skala luas, maka orang yang butuh perawatan intensif mencapai 600.000 orang.

”Di luar angka pasien yang harus dirawat ini hanya sebagian kecil dari kasus infeksi yang tidak butuh perawatan. Perhitungan kami di sini hanya orang yang butuh perawatan di rumah sakit, sementara kasus ringan disarankan isolasi mandiri di rumah,” kata Iwan.

Dari empat skenario ini, jika tanpa intervensi, angka kematian bisa mencapai 240.244 orang, dengan intervensi rendah 144.266 orang, intervensi moderat 47.94 orang, dan intervensi tertinggi 11.898 orang.

”Tingginya kasus dan kematian di Indonesia ini karena keterlambatan penanganan dan ketidaksiapan layanan kesehatan. Sirkulasi domestik Covid-19, kami perkirakan sudah terjadi sejak awal Februari,” kata Iwan.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO–Petugas medis bersiap di ruang instalasi gawat darurat Rumah Sakit Darurat Penanganan Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2020). Wisma Atlet ini memiliki kapasitas 24.000 orang, sedangkan saat ini sudah disiapkan untuk 3.000 pasien.

Karantina pulau
Ahli epidemiologi dan biostatistik FKM UI, Pandu Riono, mengatakan, ada perbedaan sangat signifikan antara karantina wilayah ketat dan sekadar anjuran membatasi jarak fisik seperti diterapkan pemerintah saat ini. ”Oleh karena itu, untuk saat ini saya mengusulkan ada karantina dengan pembatasan yang tegas. Tidak hanya antarkota, tetapi juga antarpulau. Khususnya orang dari Jawa yang saat ini sudah merata sebarannya tidak boleh lagi ke luar pulau,” katanya.

Menurut Pandu, keterlambatan pemberlakuan karantina wilayah akan semakin meningkatkan sebaran Covid-19 ke berbagai wilayah di Indonesia. Namun, karantina wilayah saja tidak akan cukup. Berikutnya dibutuhkan pemeriksaan massal untuk memisahkan orang yang sakit dan sehat.

Mereka yang telah terinfeksi tetapi dengan gejala ringan disarankan untuk isolasi mandiri. Sementara yang positif dengan gejala berat harus segara mendapat perawatan.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI–Sejumlah karyawan toko tetap menikmati makan siang di salah satu warung tenda di kawasan Kebon Kacang, Jakarta Pusat, Minggu (29/3/2020). Meski ada pembatasan aktivitas publik dan tutupnya sejumlah perkantoran dan pusat perbelanjaan di tengah pandemi Covid-19, tetap ada warung makan yang dipadati pembeli.

Oleh karena itu, menurut dia, peningkatan kapasitas ruang isolasi dan fasilitas pendukungnya, khususnya ventilator, sangat dibutuhkan. Jika wabah menyebar luas, artinya pembangunan ruang perawatan khusus juga harus dilakukan di daerah-daerah.

Iwan menambahkan, karantina wilayah ini harus dilakukan secepatnya agar wabah tidak merambah ke wilayah Indonesia timur yang memiliki layanan kesehatan lebih terbatas. Namun, karantina ini harus diikuti dengan persiapan yang baik, terutama subsidi terhadap masyarakat kurang mampu, agar tidak terjadi gejolak sosial sebagaimana terjadi di India saat ini.

Lonjakan kasus saat ini, kata Iwan, telah menyebabkan kapasitas rumah sakit dan tenaga medis di Jabodetabek kewalahan. Jika pasien korona terus melonjak, dikhawatirkan tidak bisa tertangani dengan baik yang menyebabkan banyak korban meninggal.

Oleh AHMAD ARIF

Editor ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Sumber: Kompas, 30 Maret 2020

Share
x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: