Home / Berita / Memaknai Rekor Kasus Covid-19 di Indonesia

Memaknai Rekor Kasus Covid-19 di Indonesia

Rekor penambahan kasus harian Covid-19 di Indonesia kembali pecah. Kabar baiknya, jumlah orang yang diperiksa naik signifikan. Kabar buruknya, laju penularannya lebih tinggi dari upaya kita.

Data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat, penambahan kasus harian Covid-19 di Indonesia pada Rabu (16/9/2020) mencapai 3.963 orang. Itu menjadi rekor tertinggi sejak kasus pertama ditemukan pada Maret lalu.

Dengan penambahan ini, jumlah kumulatif kasus Covid-19 di Indonesia mencapai 228.993 orang dengan kasus aktif 55.792. Kasus aktif di Indonesia merupakan urutan ke-16 terbanyak di dunia.

Penambahan jumlah kasus ini tak sepenuhnya jadi ukuran situasi dan sebaran Covid-19 atau penyakit yang disebabkan virus korona tipe baru di Indonesia. Sebab, penambahan jumlah kasus dipengaruhi jumlah tes yang dilakukan.

Penambahan kasus harian yang tinggi kali ini dipicu jumlah pemeriksaan yang mencapai rekor, yakni 30.713 orang yang diperiksa, sehingga rasio kasus positif 12,9 persen. Angka itu lebih rendah dari rata-rata rasio positif sepekan terakhir 14,8 persen, yang menandakan jaring yang ditebarkan untuk “menangkap” kasus positif makin lebar.

Selain jumlah tes membesar, terlihat pemerataan cakupan, karena jumlah tes di Jakarta kali ini 18 persen dari jumlah total pemeriksaan nasional. Padahal, biasanya proporsi orang yang dites di Jakarta 30-50 persen nasional.

Sesuai laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 9 September 2020, daerah yang memenuhi jumlah tes minimal 1 per 1.000 orang per minggu meliputi DKI Jakarta yang empat kali dari ambang minimal, Sumatera Barat, dan Yogyakarta mendekati ambang. Daerah lain, khususnya Jawa Timur dan Jawa Tengah, yang memiliki tingkat kematian tertinggi, justru memiliki jumlah tes amat kecil.

Epidemiolog Universitas Airlangga, Surabaya, Windhu Purnomo memaparkan, jumlah orang yang diperiksa di Jawa Timur rata-rata baru 2.700 dari jumlah minimal 4.700 pemeriksaan. Padahal, tingkat kematian di Jatim merupakan yang tertinggi, misalnya pada Rabu (16/9), 35 orang, dibanding Jakarta 31 orang.

“Tingkat kematian akibat Covid-19 di Jatim 7,3 persen, tertinggi di Indonesia,” kata Windhu. Situasi di Jawa Timur tak kalah mengkhawatirkan dibanding Jakarta, bahkan lebih parah karena kita tak tahu skala penularan sesungguhnya.

Kondisi serupa terjadi di Jawa Tengah, yang juga memiliki tingkat kematian amat tinggi, yaitu 6,4 persen, dengan tes minim. “Seluruh Jawa memang merah, pembatasannya perlu diperluas,” kata Windhu.

Secara nasional, jumlah tes di Indonesia jika dirata-rata belum separuh dari syarat minimal WHO. Indonesia seharusnya memeriksa 38.000 orang per hari, lebih banyak lebih baik. Jika mengacu pada India, mereka bisa memeriksa 1 juta orang per hari.

Kematian tambahan
Jika penambahan kasus Covid-19 di Indonesia belum bisa jadi ukuran keparahan situasi karena jumlah dan cakupannya di bawah standar, kita bisa melihat angka kematian. Data Satgas menunjukkan, penambahan korban jiwa 135 orang sehari, terbanyak kedua setelah rekor penambahan korban 139 orang pada 22 Juli 2020.

Total korban jiwa di Indonesia kini 9.100 orang. Itu berarti terbanyak di Asia Tenggara dan nomor tiga tertinggi di Asia, setelah India dan Iran.

Angka kematian di Indonesia bisa lebih tinggi, jika mengacu data Rumah Sakit Online, yang mencatat 22.932 korban jiwa yang ditangani dengan protokol Covid-19. Perbedaan ini karena data Satgas Penanganan Covid-19, mengacu pada Kementerian Kesehatan yang hanya melaporkan korban positif Covid-19 melalui tes usap dengan metode reaksi rantai polimerase (PCR).

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito, saat ke Kompas beberapa waktu lalu mengatakan, sesuai panduan WHO, mereka yang meninggal dengan status terduga dan suspek seharusnya diumumkan. Namun, belum tentu mereka positif kalau tak ada konfirmasi laboratorium. “Dilematis, disebut salah enggak disebut padahal ia kemungkinan Covid-19,” ujarnya.

Adapun Rumah Sakit Online, mencatat semua korban terkait Covid-19, termasuk suspek dan terduga dengan gejala klinis, yang meninggal sebelum dites. Pencatatan ini lebih sesuai pedoman WHO pada April 2020, dan diikuti sejumlah negara lain seperti Amerika Serikat dan Inggris. Terkait beda data kematian itu, Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 Akmal Taher, kemarin malam, menyatakan akan mengecek data itu ke Kemenkes.

Bahkan, menurut epidemiolog dari Laporcovid19.org, Iqbal Elyazar, dampak sesungguhnya Covid-19 mesti dilihat dari total kelebihan kematian (excess death) selama pandemi dibanding tren kematian tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat dalam panduannya, excess death dapat memberi informasi lebih tepat terhadap beban kematian akibat Covid-19. Sebab, pandemi bisa memicu kematian langsung dan tak langsung.

Analisis oleh Oxford University dan tim dalam ourworldindata.org menunjukkan, saat gelombang Covid-19 mencapai puncak pada 5 April 2020 di Spanyol, ada penambahan kematian 154 persen dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir di negara itu. Di Inggris saat puncak wabah, 19 April 2020, ada penambahan kematian 113 persen dan Italia, saat puncak pada 29 Maret ada penambah kematian 90 persen.

Di Indonesia, data excess death belum tersedia secara nasional. Dari data Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, April 2020 tercatat sebagai rekor orang dimakamkan dalam 10 tahun terakhir, yakni 4.550 jenazah. Padahal, tahun-tahun sebelumnya, jumlah orang yang dimakamkan di Jakarta 2.500-3.000 orang.

Setelah April 2020, jumlah orang yang dikuburkan di Jakarta menurun. Itu tergambar dari jumlah orang dimakamkan dengan protokol Covid-19 di Jakarta, yang turun hingga titik terendah awal Juli 2020.

Jelas terlihat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan di Jakarta sejak awal April 2020 berpengaruh besar pada tren peningkatan kasus, jumlah orang yang dirawat di rumah sakit, dan kematian.

Seiring memasuki fase transisi pelonggaran mobilitas warga, tren kematian kembali meningkat sejak awal Juli 2020. Pada 30 Agustus 2020, jumlah jenazah yang dimakamkan dengan protokol Covid-19 mencapai 219 orang per hari atau rekor tertinggi selama ini.

Laporan WHO pada 9 September juga menyebut jumlah orang yang dirawat di rumah sakit karena Covid-19 di Jakarta mencapai titik terendah pada 7 Juli lalu. Selanjutnya jumlah pasien meningkat, dan kini lebih dari 4.000 orang, melebihi angka sebelumnya.

Data-data ini seharusnya jadi peringatan bagi kita untuk lebih taat menjalani protokol kesehatan. Usahakan tetap di rumah, dan jika terpaksa keluar mesti jaga jarak serta pakai masker. Di sisi lain, pemerintah mesti lebih maksimal melakukan surveilans dan meningkatkan kapasitas rumah sakit, karena puncak wabah kian mendekat.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 17 September 2020

Share
%d blogger menyukai ini: