Home / Berita / Kedokteran Indonesia 1987, Antara Prestasi dan Kontroversi

Kedokteran Indonesia 1987, Antara Prestasi dan Kontroversi

Dunia kedokteran Indonesia tahun ini sedang berbinar. Dari sedikitnya sepuluh peristiwa yang patut dicatat, tuiuh di antaranya merupakan prestasi atau tonggak kemajuan. Sementara tiga peristiwa lainnya lebih merupakan kontroversi.

Operasi kembar siam Riau -Tak pelak lagi, prestasi terbesar adalah yang dicapai para dokter Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang berhasil memisahkan bayi kembar siam asal Riaul, lewat suatu operasi menegangkan selama hampir 10 jam di RSCM Jakarta tanggal 21 Oktober lalu. Operasi pemisahan 2 bayi kembar siam dempet kepala (craniopagus) yang baru pentama kali terjadi di Indonesia ini mencatat rekor tersendiri, karena ketika dioperasi Pristian Yuliana dan Pristian Yuliani baru berusia dua bulan 21 hari. Selama ini di negara-negara lain kasus craniopagus baru dioperasi di atas usia tiga bulan.

Yang lebih melegakan Yuliana dan Yuliani keduanya selamat dan sama-sama tidak mengalami cacat, karena selaput otak keras keduanya bisa dipisahkan tanpa sobekan. Biasanya, para ahli bedah syaraf terpaksa mengorbankan salah satu bayi atau membuat selaput otak dan pembuluh darah sintetis. Jika cara terakhir yang ditempuh maka bayi yang telah dipisahkan harus dirawat dalam keadaan hibernasi (koma) untuk untuk jangka waktu lama.

Menurut dr Padmosantjojo, ahli bedah syaraf FK-UI/RSCM yang menjadi pusat komando tindakan bedah, cara hibernasi seperti yang dilakukan tim dokter Rumah Sakit Johns Hopkins AS yang memisahkan bayi craniopagus asal Jerman tahun ini juga, tak mungkin dilakukan di RSCM, karena minimnnya peralatan. Dengan ketelatenan yang sulit dicari duanya, dr Padmosantjoyo berhasil memisahkan selaput otak kedua bayi tepat di tengah-tengah. Memang sempat timbul kebocoran pembuluh darah sinus sagitalis, sehingga jalannya operasi menjadi terulur tiga jam, tapi akhirnyai kebocoran itu dapat ditutup dengan baik.

Yang lebih menggembirakan adalah terjadinya kerja sama tim antara berbagai disiplin atau spesialisasi kedokteran, melibatkan tak kurang dari 93 orang dokter. Kekompakan untuk bisa secara padu bahu membahu adalah prestasi tersendiri bagi para dokter Indonesia, yang selama ini sering disorot sebagai kelompok profesi yang paling sulit diatur dan paling besar egonya, serta tak jarang Saling berebut kapling dan nama. Pantaslah jika bulan Desember ini pimpinan FKUI dan RSCM memberikan penghargaan kepada seluruh anggota tim, yang kemudian disusul juga oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Dr Fuad Hassan. Bahkan khusus untuk dr Padmosantjoyo, Depdikbud segera mengusulkam agar ia bisa memperoleh gelar guru besar, walaupun pangkatnya kini baru IIID. Sementara pimpinan Departemen Kesehatan sejauh ini belum memberikan recognition secara terbuka.

085726100_1471264394-byTransplantasi sumsum tulang – Untuk pertama kali di Indonesia berhasil dilakukan operasi pencangkokan sumsum tulang, yaitu terhadap Hilda Krisnowati (11) di RSU dr Kariyadi Semarang yang menderita leukemia akutmieloblastik. Tanggal 19 Agustus sumsum diambil untuk dibersihkan dari sel-sel leukemia dan sehari kemudian dicangkokkan lagi. Hilda hingga saat ini berada dalam kondisi baik.

Memang transplantasi sumsum tulang yang dilakukan para dokter FK-Undip dengan bantuan beberapa dokter Australia ini masih tergolong jenis autologus, karena pasien menjadi donor bagi dirinya sendiri. Yang lebih ideal sebenarnya adalah transplantasi jenis allogenik, yaitu menggunakan sumsum tulang dari donor yang sehat. Transplantasi jenis autologus memang lebih sederhana dan bebas dari risiko penolakan, tetapi kemungkinan masih bisa terjadi kekambuhan. Sebagai langkah awal penguasaan metode transplantasi allogenik yang lebih rumit, pilihan para dokter di Semarang untuk memulai dengan metode autologus bisa dimengérti.

20160822_074408wTim dokter Semarang terbukti telah mendahului rekan-rekannya dari FKUI/RSCM yang telah mempersiapkan diri sejak tahun 1985. Dokter-dokter Jakarta ini sudah berlatih di Perancis dan siap bertindak. Ganjalan satu-satunya adalah belum tersedianya ruang operasi dan perawatan yang betul-betul steril. Walaupun direncanakan akhir tahun ini, proyek transplantasi sumsum tulang di RSCM sudah bisa dimulai, ternyata masih tertunda juga. Bahkan Rumah Sakit Telogo Rejo Semarang belum lama ini sudah mengikuti jejak RSU dr Kariyadi. Makin banyak rumah sakit di kota-kota besar Indonesia mampu melakukan transplantasi sumsum tulang, maka dapat diharapkan berbagai penyakit darah bisa diatasi dengan lebih tuntas.

Proyek bayi tabung – Dua buah rumah sakit di Jakarta kini tengah bersaing berpacu dengan proyek bayi tabung, yaitu RSCM dan RSAB Harapan Kita. Para ahli FK-UI/RSCM yang berkecimpung di Makmal Terpadu Imunoendokrinologi di bawah pimpinan dr Enud Suryana dan dr Soegiharto, sudah lebih dahulu melangkah. Bahkan sebelum bayi tabung dengan teknik pembuahan in vitro (FIV) dilakukan, seorang bayi dengan sistem Tandur Alih Gamet Intra Tuba atau GIFT (Gamete Intra Fallopian Transfer) telah dilahirkan di Jakarta tanggal 25 Agustus 1987.

Kini dilaporkan, dua orang wanita yang ditolong tim dokter FK-UI/RSCM dengan teknik FIV atau bayi tabung, sedang hamil dan akan melahirkan pada bulan Maret-April 1988. Sementara tim dokter RSAB Harapan Kita yang masih dibantu dokter-dokter ahli bayi tabung dari Belanda juga telah mencoba menolong puluhan wanita. Sejauh ini telah ada seorang wanita yang berhasil hamil, dan bayinya diharapkan akan lahir pertengahan tahun depan. Dengan dikuasainya teknik TAGIT dan FIV, berarti harapan pasangan suami istri infertil untuk memperoleh keturunan kini kian terbuka. Teknik FIV dikembangkan oleh Prof Patrick Steptoe dan Dr Robert Edward dari Inggris, pertama kali menghasilkan bayi tabung bernama Louise Brown tanggal 25 Juli 1978. Tanggal 26 Desember lalu kedua dokter ini mengumumkan kelahiran bayi tabung karya mereka yang ke-1000. Istilah bayi tabung dipakai karena pembuahan sel telur dibuahi sperma di cawan petri dan dibiarkan membelah menjadi beberapa belas sel sebelum ditanamkan ke dalam rahim. Sedang metode TAGIT sebenarnya bukan metode bayi tabung, walaupun sel telur dan sperma dipertemukan di luar tubuh tapi kemudian segera ditanam di saluran telur dan melakukan pembuahan di sana sebelum turun ke dalam rahim secara alamiah.

20160822_074352wCangkok ginjal di Bandung – Setelah Jakarta dan Semarang, Bandung menjadi kota ketiga di Indonesia yang berhasil menjadi tempat pencangkokan ginjal. Tanggal 11 Agustus tim dokter FK-Unpad/RS Hasan Sadikin mencangkokkan ginjal. Anthony Wihardi (43) kepada adik kandungnya, Eddy Wiryanto (34), yang sejak tahun 1986 mengalami gagal ginjal terminal sehingga selalu tergantung pada cuci darah (hemodialisis) yang amat mahal biayanya.

Reagensia dan Vaksin Hepatitis B – Tanggal 1 Oktober lalu Presiden Soeharto meresmikan Laboratorium Hepatitis di Mataram, Lombok yang telah berhasil memproduksi sendiri reagensia untuk mendeteksi apakah seseorang terinfeksi oleh virus Hepatitis B. Harga reagensia ini jauh lebih murah dari pada reagensia impor. Pabrik itu berloksi di Lombok, dan bukan di Jawa, karena kebetulan daerah NTB paling banyak terjangkit oleh penyakit Hepatitis B yang dapat menimbulkan kanker hati yang mematikan. Walaupun baru reagensia yang bisa dihasilkan, hal ini sudah merupakah langkah maju. Vaksinasi massal untuk Hepatitis B di Lombok bulan November lalu amat membutuhkan reagensia dalam jumlah banyak dan murah.

Vaksin yang dipakai di Lombok konon adalah buatan Korea Selatan, yang berani membanting harga hingga satu dollar AS. Hambatan program vaksinasi massal untuk Hepatitis B adalah masih mahalnya harga vaksin yang ada. Di Indonesia kini selain vaksin yang berasal dari serum darah penderita, juga telah beredar vaksin hasil rekayasa genetika buatan pabrik USD dari AS. Hanya harganya masih cukup mahal, Rp 60.000 setiap kali suntik, padahal untuk orang dewasa diperlukan tiga kali, sedang untuk anak kecil separuh dosis.

Pemecah Batu Ginjal – Pasien penderita penyakit batu ginjal kini mempunyai pilihan baru untuk tak perlu menjalani operasi, dengan adanya alat baru yang menggunakan gelombang kejut. Alat bernama Lithostar dengan metode ESWL(Extracorporeal Shack Wave Lithotrypsi) itu sudah mulai diuji coba di RS Pusat, Pertamina Jakarta, walaupun baru akan diresmikan penggunaanya tanggal 16 Januari nanti.

Penyambungan organ yang putus – Tahun ini para ahli bedah plastik FK-UI/RSCM dua kali berturut-turut berhasil menyambung tangan yang terputus akibat bacokan, yaitu tanggal 6 September terhadap Cornelius Nicolas Eman (26) dan tanggal 1 Desember untuk Ali Darpan (26). Dengan demikian teknik bedah mikro yang sudah lebih dahulu dikuasai oleh dokter-dokter FK-Unair/RSU dr Soetomo Surabaya, kini sudah dikuasai pula oleh dokter-dokter di Jakarta.

Kontroversi Terapi Khelasi – Terapi khelasi menggunakan obat EDTA untuk mengobati penderita penyakit jantung koroner, awal tahun ini menjadi bahan pergunjingan. Bermula dari pengakuan pihak Rumah Sakit Rajawali Bandung bahwa sejak tahun 1984 telah ada 53 pasien ditolong dengan larutan infus EDTA yang dibuat oleh PT Cendo Bandung. Ternyata obat itu belum memperoleh ijin dari Ditjen POM Depkes. Akhirnya RS Rajawali menghentikan terapi khelasi yang diragukan imbangan manfaat dan risikonya itu. Tapi diam-diam seorang dokter lanjut usia atas kemauan sendiri menjalani terapi khelasi di RSCM Jakarta. Dokter ini meninggal tanggal 9 Maret, sehingga Direktur RSCM memerintahkan tim pengkajian yang dibentuknya untuk menghentikan kegiatan. Tanggal 26 – 28 November FK-UI mengadakan konferensi meja bundar tentang terapi khelasi untuk aterosklerosis, tapi acaranya berlangsung tertutup.

Kontroversi bedah plastik di Pluit – Klinik spesialis Asih Trisna di Pluit Jakarta sempat ditutup selama sebulan sejak 18 Maret karena dinilai melakukan tindakan malpraktek, yang menimbulkan kematian Ny Sri Sulastri yang menjalani operasi pengangkatan lemak di perut dan pembenahan vagina. Dokter-dokter yang melakukan tindakan bedah plastik itu terbukti tidak berkompeten, sehingga mereka dijatuhi sanksi.

Kontroversi Fortifikasi MSG-Vitamin A – Tanggal 19 Maret Menkes dr Suwardjono Surjaningrat mensahkan vetsin atau MSG sebagai wahana untuk dititipi vitamin A bagi penanggulangan kebutaan pada balita. Kebijakan baru Depkes ini memperoleh protes keras dari Yayasan Lembaga Konsumen (YLKI) dan dokter-dokter dari Bagian Ilmu Gizi FK-UI, yang mengkhawatirkan terjadinya efek samping MSG yang meluas. Disarankan memperluas saja cakupan pemberian vitamin A dosis tinggi di desa-desa. Tapi pihak Depkes tetap ngotot melaksanakan rencananya.

Sumber: Kompas, 31 Desember 1987

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: